Wednesday, January 7, 2026

Tentang Kedudukan dan Legitimasi KBMN PGRI

Pagi itu, ruang guru terasa berbeda. Bukan karena hujan yang turun lebih lama dari biasanya, melainkan karena bisik-bisik yang beredar lebih cepat daripada lonceng pertama berbunyi.


Di sudut ruangan, Pak Arif menutup layar ponselnya perlahan. Wajahnya menyiratkan kegelisahan yang sama dengan guru-guru lain. Sebuah pesan berantai—entah dari mana asalnya—mempertanyakan keberadaan sebuah kelas menulis yang selama ini mereka ikuti dengan penuh semangat: **KBMN PGRI**.


“Katanya itu bukan program resmi,” bisik seseorang.

“Katanya hanya inisiatif pribadi,” sahut yang lain.

“Katanya sudah dihapus dari grup,” tambah suara dari belakang.


Pak Arif menarik napas panjang. Ia teringat malam-malam ketika ia belajar menulis kembali, menemukan suaranya sebagai guru, dan untuk pertama kalinya karyanya dibaca ribuan orang. Semua itu ia dapatkan dari KBMN PGRI.


Tak lama kemudian, Bu Rina—pengurus IGTIK PGRI di wilayah itu—berdiri di depan ruang guru. Suaranya tenang, tapi tegas.


“Bapak dan Ibu,” katanya, “kadang organisasi seperti rumah besar. Banyak kamar, banyak kegiatan, dan tidak semua orang masuk ke kamar yang sama. Tapi itu tidak berarti kamar lain tidak sah.”


Ia bercerita tentang asal-usul KBMN PGRI—lahir dari rahim **IGTIK PGRI**, tumbuh sebagai kelas pembelajaran menulis, sejajar dengan kelas informatika, literasi digital, public speaking, hingga pemanfaatan AI. Bukan milik pribadi. Bukan gerakan liar. Melainkan bagian dari ekosistem yang sejak awal dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru.


“KBMN PGRI sudah berjalan lebih dari tiga puluh tiga gelombang,” lanjutnya.

“Pesertanya ribuan, dari Aceh sampai Papua. Karya-karya guru lahir, diterbitkan, dan dibaca. Apakah semua itu bisa disebut kebetulan?”


Ruang guru menjadi sunyi.


Bu Rina lalu menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Di PGRI, tidak ada hak eksklusif atas literasi. Menulis bukan milik satu kelompok. Literasi adalah jalan bersama. Perbedaan program bukan ancaman, melainkan kekuatan.”


Ia menutup penjelasannya dengan satu kalimat yang membekas di benak Pak Arif:


“Grup bisa dikelola, pesan bisa dihapus, tetapi sejarah pengabdian dan kerja nyata tidak bisa dihapus.”


Siang itu, Pak Arif kembali ke kelas dengan langkah lebih ringan. Ia tahu, klarifikasi bukanlah bentuk perlawanan, melainkan tanggung jawab. Dan kedewasaan berorganisasi bukan diukur dari seberapa keras suara yang paling terdengar, melainkan dari seberapa mampu semua pihak menjaga rumah besar itu tetap utuh.


KBMN PGRI tetap berjalan.

Bukan untuk menyaingi.

Bukan untuk meniadakan.

Melainkan untuk membersamai.


Dan di antara deretan kata yang ditulis para guru, PGRI terus hidup—inklusif, bermartabat, dan penuh cahaya literasi. ***

No comments: