Sunday, January 4, 2026

Suasana di ruang transit Hotel Aryaduta

Aroma kayu cendana dan harum melati yang pekat merayap di udara, memenuhi ruang transit Hotel Aryaduta, Makassar. Bu Sri Sugiastuti duduk dengan anggun, sesekali membetulkan letak selendangnya. Di hadapannya, hiruk-pikuk persiapan lamaran terasa seperti simfoni yang harmonis. Ia mengambil ponsel, memotret suasana yang penuh warna maroon itu, lalu mengirimkannya ke grup WhatsApp.

"Di ruang transit sebelum acara lamaran," ketiknya, mengawali hari pertama di tahun 2026 dengan senyum.

Pikirannya mendadak melayang, flashback ke beberapa hari sebelumnya saat undangan digital itu pertama kali ia baca. Sebuah narasi panjang yang bukan sekadar jadwal, melainkan sebuah janji sakral.

Flashback: Janji di Somba Opu

Dua hari yang lalu, Bu Sri terpaku pada layar ponselnya, membaca rangkaian adat Bugis-Makassar yang begitu megah. Meta Magfirul Djadir dan Aspinawati Akil akan menyatukan dua napas dalam satu ikatan.

Ia membayangkan kemegahan hari Kamis ini: Mappetuada, saat janji lamaran resmi diikat dengan nuansa maroon yang membara, warna keberanian dan cinta. Lalu, malamnya, ia bisa mencium aroma daun pacar yang ditumbuk halus untuk acara Mappacci, sebuah ritual penyucian diri yang magis di bawah pendar lampu hotel yang mewah.

Pikiran Bu Sri melonjak ke hari Jumat yang suci. Ia seolah sudah berada di sana, di Masjid Terapung Amirul Mukminin. Ia bisa merasakan semilir angin laut Losari yang asin dan segar, melihat rombongan mempelai laki-laki berjalan kaki dari Aryaduta menuju masjid dalam balutan pakaian muslim putih bersih—sebuah metafora kesucian sebelum Ijab Kabul diucapkan.

Tak berhenti di sana, ingatannya menyisir acara Mapparola dan Mammatua, hingga pemberian gelar Pa’daengan yang penuh kehormatan. Dan puncaknya, sebuah perayaan di atas kapal Pinisi, membelah ombak Losari dengan pakaian adat maroon yang berkibar tertiup angin laut.

Kembali ke Ruang Transit

"Cerah-cerah banget Bun... Pak Khoiri kostumnya keren," bunyi notifikasi dari Bu Helwiyah membuyarkan lamunannya.

Bu Sri tersenyum. Ia menatap Pak Khoiri yang berdiri gagah di dekat suami Bu Daswatia. Ruangan itu kini dipenuhi "aura positif" yang kasat mata—sebuah energi yang muncul dari benang-benang silaturahmi yang ditenun dengan tulus.

"Alhamdulillah ada nikmat sehat dan sempat. Mengawali tahun baru di Makassar," balas Bu Sri dengan jemari yang terasa hangat.

Di grup, doa-doa mengalir deras seperti hujan di awal tahun. Pak Mukminin, Bu Lely, Pak Sugeng, hingga Pak Syaihu mengirimkan harapan agar mempelai menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Ada kekaguman yang terselip pada rangkaian adat yang begitu lengkap, lengkap dengan berita acara dan protokol yang tertata rapi.

"Bunda tampak lebih cantik," puji Evi Susilowati.

Bu Sri terkekeh kecil. Ia merasa kecantikan itu bukan berasal dari bedak atau gincu, melainkan dari kebahagiaan yang meresap ke pori-pori kulitnya karena bisa menjadi saksi penyatuan dua hati di tanah Makassar yang religius namun tetap memegang teguh akar budaya.

Matahari Makassar mulai meninggi di atas Jalan Somba Opu. Acara lamaran akan segera dimulai. Bu Sri menarik napas dalam, membiarkan aroma masa depan yang cerah memenuhi paru-parunya.


No comments: