Tahun 2025 hampir menutup usianya dengan nafas yang memburu. Di sebuah sudut kota Bandar Lampung, Sarwan duduk terpaku menatap layar ponselnya. Cahaya biru dari perangkat itu memantul di bola matanya yang lelah, menangkap sebuah pesan yang masuk seperti dentuman lonceng di tengah kesunyian malam.
"Jangan sampai ketinggalan atau lewat," gumam Sarwan, menirukan baris terakhir pesan dari Ayah Hubby. Kata-kata itu terasa setajam sembilu, mengiris keraguan yang sempat mampir di hatinya. Baginya, pesan itu bukan sekadar teks digital, melainkan surat undangan dari Langit yang sedang diperjuangkan jalurnya.
Di luar, suara kembang api mulai menyalak, merayakan pergantian tahun dengan warna-warni yang menjilat langit malam. Namun, bagi Sarwan, kemeriahan itu terasa hambar. Penciumannya justru membayangkan aroma debu suci Padang Arafah dan telinganya seolah sudah mendengar gemuruh talbiyah yang memecah angkasa.
"Untuk data pelunasan belum keluar ya, Pak Haji?" jemari Sarwan menari di atas layar pada pagi terakhir di bulan Desember. Ada nada gelisah yang bergetar dalam setiap ketukannya.
Aplikasi Satu Haji di ponselnya berulang kali dibuka-tutup. Layar putih itu masih bisu seribu bahasa, tak memunculkan angka atau status yang ia dambakan. Penantian itu terasa seperti menunggu tetesan air di tengah kemarau panjang; setiap detik terasa melar, setiap menit terasa membeku.
"Tanggal dua Januari baru mulai," jawaban dari Ayah Hubby masuk, singkat namun sedingin es yang menyejukkan syaraf-syarafnya yang tegang.
Sarwan menarik napas panjang. Bau harum tanah yang tersiram hujan sisa semalam meresap ke dadanya, membawa ketenangan kecil. Ia tahu, pelunasan tahap kedua ini adalah gerbang sempit bagi mereka yang sempat teradang sistem, mereka yang ingin menggandeng mahram, atau mereka yang sedang setia dalam antrean cadangan.
Dua Januari. Tanggal itu kini terpatri di benaknya seperti pahat di atas batu karang.
"Sabar," bisik nuraninya. "Sabar adalah jembatan emas menuju Ka'bah."
Ia mematikan layar ponselnya. Di kegelapan kamar, ia membayangkan dirinya bersimpuh di depan bangunan kubus hitam yang agung itu. Kini, yang tersisa hanyalah doa yang melangit secara diam-diam, berharap agar fajar tanggal dua Januari segera datang membawa kabar terang, memuluskan langkahnya menuju panggilan-Nya yang paling suci. ***
No comments:
Post a Comment