Fajar di Bandar Lampung menyapa dengan lembut, seolah enggan membangunkan kota yang masih terlelap. Namun, bagi saya, subuh bukan sekadar penanda waktu; ia adalah sebuah napas kehidupan.
Langkah Kaki di Jantung Kota
Dinginnya air wudu di Masjid Al-Bakrie masih terasa memeluk kulit saat saya memulai langkah pertama. Udara pagi terasa seperti kain sutra yang sejuk, mengelus wajah dengan aroma tanah basah yang samar. Selesai bersujud, saya melakukan pemanasan kecil di halaman masjid yang megah, membiarkan sendi-sendi yang kaku mulai menari mengikuti irama jantung.
Lari pagi kali ini adalah sebuah pengelanaan. Saya menyusuri Jalan Tulang Bawang, di mana lampu-lampu jalan mulai meredup, kalah oleh semburat oranye yang mulai mengintip dari ufuk timur. Kaki saya terus beradu dengan aspal Jalan Raden hingga menembus keramaian yang mulai menggeliat di Jalan Ahmad Yani.
Di Jalan Suprapto, keringat mulai menetes seperti butiran kristal di dahi. Paru-paru saya berpesta pora menghirup oksigen yang masih murni, sebelum polusi merampasnya siang nanti. Untuk kembali ke arah Raden Intan, saya memilih "jalan tikus"—gang-gang sempit yang lembap namun menyimpan kehangatan khas pemukiman warga. Di kejauhan, gedung Hotel Grand Mercure menjulang tinggi bagaikan raksasa kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai garang.
Setelah lelah berkelana, perjalanan ini berujung manis di seberang Masjid Al-Bakrie. Semangkuk Soto Spesial Boyolali telah menanti. Uap panasnya mengepul tipis, membawa aroma rempah, bawang putih goreng, dan kaldu daging yang gurihnya menari-nari di indra penciuman. Setiap sendokan kuah bening itu terasa seperti pelukan hangat di pagi yang mulai gerimis.
Riuh Rendah di Layar Kaca
Sambil menikmati soto, saya membuka ponsel. Layar menyala, menampilkan jendela dunia kecil bernama Grup WhatsApp Kopdar KBMN #4 PGRI. Di sana, kehidupan berdenyut dengan kecepatan yang berbeda.
Sejak pukul satu dini hari, Bu Sri sudah menebar benih kebaikan dengan ajakan "Tahajud Yuk". Tak lama setelahnya, ia sudah sibuk "rewangan"—sebuah potret dedikasi yang tak kenal lelah. Percakapan di grup itu terasa seperti suasana dapur tradisional yang digambarkan Bu Helwiyah dan Dr. Mudafiatun; penuh canda, akrab, meski kadang "tertutup rapet" di balik layar gadget.
Ada aroma kebahagiaan yang melompat dari teks Pak Syaihu yang baru saja memenangkan hadiah Jalan Sehat Kemenag di Surabaya. "Alhamdulillah Barokallah," seru teman-teman yang lain. Di sudut lain, Pak Mukminin terus menebar semangat agar semua tetap "halan-halan" pagi demi kesehatan.
Meski gerimis mulai turun—atau yang disebut Bu Sri sebagai "Misbar" (Gerimis Bubar)—semangat di grup itu tak lantas luntur. Dari urusan mesin cuci yang disebut Pak Da'il hingga ucapan syukur yang mengalir deras, grup ini adalah ruang tamu tempat kami berbagi tawa, meski raga terpisah ratusan kilometer.
Pagi ini, antara peluh di jalanan Bandar Lampung dan riuhnya notifikasi di genggaman, saya merasa hidup benar-benar sedang merayakan dirinya sendiri.







No comments:
Post a Comment