Pagi itu grup percakapan meledak seperti pasar tiban selepas hujan. Notifikasi berdenting—ting, ting—bagai lonceng kecil yang saling berkejaran. Udara masih dingin, kopi belum sepenuhnya hangat di cangkir, tapi layar ponsel sudah berpeluh oleh tanya dan tawa.
“Pagi gaes, ada pertanyaan lagi?” tulis Admin, suaranya terasa seperti peluit pembuka lomba.
Pertanyaan datang bertubi-tubi. Kaos diambil kapan, ukurannya bagaimana, parkir di mana. Kata-kata berlarian seperti pelari amatir di kilometer pertama—sedikit tergesa, sedikit canggung, tapi penuh harap. Ada yang badannya “mungil macam botol Yakult,” ada yang “big body” mencari ruang bernapas. Kaos menjadi metafora: ingin pas, ingin nyaman, ingin pantas dipakai berlari—atau sekadar difoto.
Humor menyelip di sela-sela kebingungan. Senyum kecil mengendap ketika seseorang bercanda soal medali—“nambah uang dapat medali”—seolah logam bundar itu bukan sekadar hadiah, melainkan bukti bahwa pagi, keringat, dan niat baik pernah bertemu. Emoji tertawa berhamburan, seperti konfeti digital yang jatuh pelan.
Lalu ada nama-nama besar yang disebut pelan-pelan, seperti mantra. Slank. Happy Asmara. Musik dibayangkan mengalir bahkan sebelum panggung berdiri. Dentum koplo yang belum ada terasa sudah menggoyang telapak kaki. Ada yang ikut lari pertama kali, katanya, karena “GS-nya seorang Happy Asmara.” Alasan sederhana, tapi jujur—seperti langkah pertama yang selalu dimulai dari ingin.
Admin kembali menjawab, singkat, kadang datar, kadang pasrah. “Kalau ga muat, pakai kaos lain aja.” Kalimat itu jatuh seperti daun kering—ringan, tapi menyentuh tanah dengan bunyi yang nyata. Di baliknya ada logistik, waktu, dan batas-batas yang tak selalu bisa direnggangkan oleh harapan.
Voting diusulkan. Setuju bermunculan. Setuju seperti anggukan serempak di garis start. Namun di antara semua itu, ada sesuatu yang lebih besar dari ukuran kaos dan jadwal pengambilan: kebersamaan yang sedang dirajut. Orang-orang yang belum saling kenal, menyapa dengan tawa, saling menunggu hari yang sama—tanggal 17 Januari—seperti menunggu matahari terbit di tikungan terakhir.
Pagi itu berakhir tanpa jawaban yang sempurna. Tapi justru di sanalah ceritanya tinggal: di keramaian yang riuh, di kebingungan yang lucu, di niat baik yang berlari lebih dulu dari tubuh. Kaos mungkin kebesaran atau kekecilan. Medali mungkin sederhana. Namun pagi itu mengajarkan satu hal: sebelum langkah dimulai, kebersamaan sudah lebih dulu sampai garis finish.***
No comments:
Post a Comment