Tuesday, January 6, 2026

Jejak Cerita di Kelas 8I: Dari Debur Ombak hingga Catatan Sejarah

Desember 2025 menjadi saksi bisu betapa riuhnya kehidupan siswa kelas 8I meski sekolah sedang libur. Di sudut-sudut kota Bandar Lampung hingga jauh melintasi batas provinsi, masing-masing membawa cerita yang akan mereka bagi saat gerbang sekolah kembali dibuka.

Di pesisir Lampung, Syfa tertawa lepas di atas banana boat yang membelah ombak Pantai Klara. Tak jauh dari sana, Nadia tampil anggun dengan kebaya cokelat dan rambut curly-nya, menjalankan tugas mulia sebagai bridesmaid sambil menikmati legitnya rendang. Sementara itu, Nadhifa dan Salsabila memilih dinginnya air di Kalianda untuk menghabiskan waktu, meski Salsabila sempat mampir ke Karang Indah Mall untuk memborong cokelat sebagai bekal tahun baru.

Cerita sedikit berbeda datang dari Sulthan. Setelah menempuh 12 jam perjalanan darat, ia sampai di Bengkulu. Di bawah dinding kokoh Benteng Marlborough dan rumah pengasingan Bung Karno, Sulthan menyelami masa lalu. Ia pulang tidak hanya membawa oleh-oleh ikan asin kakap dan durian dari rumah nenek, tapi juga membawa kekaguman pada sejarah bangsa.

Di sisi lain, ada perjuangan yang menguras keringat. Alfan berdiri di atas matras karate di Banten. Meski cedera menghalanginya menjadi juara di ajang Forkot, semangatnya tidak padam. Ia membuktikannya dengan lari dari Teluk hingga Klara di awal tahun. Semangat atletis ini menular pada Fakhri Bilal di Kotabumi yang memilih lari pagi dan bermain burung dara, serta Tanzilal yang asyik memancing sambil memanen alpukat di rumah neneknya.

Bagi mereka yang memilih "kaum rebahan" atau di rumah saja, keseruan tidak berkurang. Queen, Naswya, dan Azzahra menjadi pahlawan rumah tangga dengan membantu orang tua menyapu dan mencuci piring. Sebagai imbalannya, layar bioskop Mall Kartini menghibur mereka dengan film Avatar dan Janur Ireng. Anisa bahkan membawa kenyamanan rumah ke lantai 22 Grand Mercure, menonton kembang api dari balik jendela kaca yang megah.

Tak ketinggalan, Amira yang sempat kedinginan di kabut Kawah Putih Bandung akhirnya kembali ke Lampung untuk menikmati Bakso Soni yang legendaris. Begitu pula Naila yang merasa sangat beruntung di Navara karena berhasil mendapatkan boneka pisang dari mesin capit yang biasanya sulit ditaklukkan.

Namun, liburan tak selalu soal tawa. Gholib harus rela kehilangan sandalnya di Masjid Al-Bakri setelah lelah bermain di Pantai Mutun. Sebuah kejadian apes yang mungkin akan menjadi bahan candaan di kelas nanti. Sementara itu, Khanza Zafira menutup tahun dengan tenang di Liwa, mendaki gunung dan mencari keong di sungai, sebuah kedamaian yang jarang ditemukan di hiruk-pikuk kota.

Kini, Desember telah berlalu. Dari aroma ikan bakar di rumah sepupu hingga harum mochi Bandung, dari memar cedera karate hingga boneka pisang di pelukan, kelas 8I telah siap kembali. Mereka bukan lagi sekadar siswa yang duduk di bangku kayu, melainkan kumpulan petualang yang siap merangkai cerita baru di semester yang baru.***

No comments: