Desember 2025 di lingkungan Kementerian Agama terasa seperti mesin jam yang berdetak kencang, presisi namun penuh tekanan. Di dalam grup koordinasi ZI (Zona Integritas), deretan pesan masuk bagaikan ombak yang susul-menyusul menepi ke pantai.
Awal Desember dibuka dengan dentuman semangat dari Bu Nurokhmah. Ia membagikan tautan "Buku Keagamaan Anti Korupsi", sebuah karya yang baru saja lahir dari rahim kolaborasi KPK dan Kemenag. Dokumen digital itu tersebar secepat cahaya, membawa aroma kejujuran yang segar ke seluruh penjuru madrasah di Indonesia.
Namun, ketenangan itu segera pecah saat Pak Nanang Rosidi meniup peluit tanda dimulainya submit serentak PMPZI. Suasana di layar ponsel berubah tegang; jadwal yang semula tenang di tanggal 23, mendadak melompat maju ke tanggal 22 Desember.
"Batam sudah siap!" seru Pak Nofrijon, suaranya di balik teks terasa mantap sekeras karang di Kepulauan Riau. Di sela-sela riuhnya pengisian data, jemari para operator mulai menari lincah di atas papan ketik. Ada rasa panik yang samar saat link absen Zoom menghilang atau ketika seseorang meminta "Success Story" dari MAN 2 Malang dan UIN Salatiga sebagai kompas penunjuk jalan. Semangat kolaborasi terasa begitu kental, seperti pekatnya tinta di atas kertas ijazah.
Di tengah hiruk-pikuk data, sebuah pesan masuk membawa suasana haru. Seorang rekan berpamitan, suaranya lewat teks terasa bergetar lembut seperti dawai yang dipetik pelan. Ia memohon maaf atas segala khilaf sebelum melangkah pergi menuju tugas baru. Grup yang semula riuh sejenak terdiam, memberikan penghormatan bagi sebuah perpisahan yang manis dan istiqomah.
Penghujung tahun pun tiba. Tanggal 31 Desember tidak dirayakan dengan kembang api yang bising, melainkan dengan ziarah yang hening. Kemenag Banyumas melangkah khusyuk menuju makam KH. Abu Dardiri di Purwokerto.
Aroma dupa dan bunga kamboja yang luruh seolah menyambut kedatangan mereka. Lokasi makam yang terletak tepat di depan Bakso Pekih yang legendaris memicu memori sensoris yang tak terduga. Seseorang teringat kembali pada masa remajanya di tahun '92 hingga '95 saat menimba ilmu di MAN 1 Purwokerto.
"Pernah makan di Bakso Pekih, tapi lupa rutenya..." Komentar itu membawa ingatan pada aroma kuah bakso yang gurih dan panas, berpadu dengan dinginnya udara Purwokerto zaman dulu saat bermain ke Kebondalem. Di sana, di antara nisan-nisan tua dan deru kota yang mulai modern, ada benang merah yang menghubungkan masa lalu yang penuh kenangan dengan masa kini yang penuh perjuangan integritas.
Tahun 2025 ditutup bukan hanya dengan angka yang telah di-submit ke portal PMPZI, melainkan dengan doa dan langkah kaki yang menapaki sejarah para kyai.
No comments:
Post a Comment