Sunday, January 4, 2026

Deru Mesin dan Pelukan Kota Gudeg

Malam di Yogyakarta tumpah bagaikan tinta emas yang membasahi aspal jalanan, menyambut kepulangan sang pengelana. Bagi Bu Sri Sugiastuti, kepulangannya kali ini adalah sebuah kemenangan kecil setelah "ngebolang" selama setahun, melintasi garis khatulistiwa dan merajut rindu di tanah orang.


Aroma kabin pesawat Lion Air yang khas masih tertinggal tipis di pakaiannya, sebuah wangi perjalanan yang memacu adrenalin. Namun, kini ia telah berpindah ke dalam gerbong KA Bandara. Suara roda kereta yang beradu dengan rel menciptakan irama ritmik, seolah-olah bumi Yogyakarta sedang berbisik, "Selamat datang kembali."

Dari balik jendela kereta, lampu-lampu kota berkelebat seperti kunang-kunang raksasa yang menari di tengah kegelapan. Tujuannya satu: Stasiun Tugu, jantung kota yang selalu berdenyut dengan kehangatan romansa masa lalu. Di grup WhatsApp KBMN, doa-doa dari Bu Helwiyah dan Eka Agisty mengalir sejuk seperti embun, mengiringi setiap jengkal perjalanannya menuju rumah.

 

Sambil duduk tenang di kursi kereta yang empuk, ingatan Bu Sri melayang kembali ke siang tadi, di sebuah rumah makan dekat pelelangan ikan di tanah Bugis. Indra perasanya seolah bangkit kembali. Ia teringat kepulan uap ikan bakar yang gurihnya menembus sanubari, berpadu dengan aroma amis laut yang segar dari pelabuhan.

"Cara orang Bugis makan ikan," gumamnya dalam hati, teringat foto yang ia bagikan ke grup.

Di layar ponsel, perdebatan kecil yang jenaka pecah. Bu Helwiyah yang jeli bertanya tentang "sesuatu yang putih" di mangkuk. Apakah itu cocolan? Ataukah nasi yang menghilang?

"Piring putih, nasi putih, jadi nggak kelihatan," celetuk Emutwae Menulis, memecah suasana dengan tawa digital.

Benar saja, nasi itu seolah melakukan kamuflase sempurna di atas piring porselen putih, hingga Eka Agisty menyahut bahwa biasanya warna hijau daun pisanglah yang menjadi pemisah antara kenyataan dan rasa lapar. Di sana, di meja makan kayu yang sederhana, Bu Sri telah mengecap filosofi hidup orang Bugis: kesederhanaan rasa yang meledak dalam bumbu rempah yang berani.

 

Kini, kereta semakin melambat saat memasuki peron Stasiun Tugu. Dinginnya AC kereta perlahan berganti dengan udara malam Yogyakarta yang lembap dan akrab. Bu Sri merapikan barang bawaannya, membawa serta kenangan setahun perjalanan dalam satu ransel penuh cerita.

Ia melangkah turun, kakinya menyentuh lantai stasiun yang legendaris. Perjalanan setahun telah usai, ditutup dengan manis oleh rasa ikan Bugis dan sambutan hangat sahabat di layar kaca. Yogyakarta malam ini terasa lebih hangat dari biasanya, memeluk sang pengelana yang akhirnya pulang ke rumah.


No comments: