Ahad pagi, 11 Januari 2026, fajar di Banyuanyar, Solo, merekah dengan warna jingga yang tenang, seolah langit sedang melukis sebuah janji. Pukul 03.35, saat embun masih betah memeluk dedaunan, Pak Tri Budi H telah merapalkan doa lewat ujung jemarinya. Sebuah pesan darinya mendarat di layar ponsel para sahabat, membawa kesejukan yang lebih dalam dari udara pagi.
"Allah hanya memberikan yang terbaik, meski kadang tak sesuai keinginan," tulisnya. Kalimat itu mengalir seperti air bening dari pegunungan, mengingatkan jiwa-jiwa yang lelah agar tidak perlu memaksa atau merasa terpaksa dalam menjalani takdir. Pesan itu ditutup dengan deretan emotikon bunga dan gandum yang bergoyang, sebuah metafora kesuburan hati yang pasrah kepada Sang Pencipta.
Seiring matahari yang semakin tinggi, sekitar pukul 08.23, suasana syahdu itu berubah menjadi aroma manis yang pekat. Pak Tri melangkah ke kebun belakang rumahnya. Di sana, sebatang pohon Mangga Kio Jay berdiri angkuh dengan dahan-dahan yang merunduk, keberatan beban.
Jemarinya menyentuh kulit mangga yang halus namun kencang—tanda buah itu telah matang sempurna di pohon. Saat dipetik, aroma harum yang segar langsung menyeruak, menggelitik indra penciuman. Tak tanggung-tanggung, salah satu buah raksasa itu mendarat di timbangan dengan angka yang fantastis: 1,632 kg. Beratnya seumpama sebuah janji yang terbayar lunas. Pak Tri tersenyum, membayangkan musim buah berikutnya akan jauh lebih lebat setelah ia memanjakan pohon itu dengan siraman pupuk Biometa yang berbau khas organik namun menjanjikan kehidupan.
Namun, waktu memang seperti roda yang terus berputar. Sore harinya, pukul 16.43, suasana berubah drastis. Langit Solo yang tadinya cerah kini bersalin rupa menjadi abu-abu tua yang muram. "Dino Minggu.. Ora nglencer... Neng ngomah ae," gumamnya dalam bahasa Jawa yang akrab. Hari Minggu ini ia memang memilih tidak bepergian, hanya ingin bercumbu dengan koleksi Aglonema kesayangannya.
Sensasi dingin mulai menusuk kulit saat rintik hujan turun satu per satu, kemudian berubah menjadi simfoni gemericik yang berisik di atas atap seng. Ia berdiri di teras, memandangi daun-daun Aglonema yang mengilap, kini menari-nari tertimpa air langit. Ada aroma tanah basah—petrichor—yang naik ke udara, menciptakan suasana magis yang menenangkan.
Meski hujan menghalangi rencananya bersantai di kebun lebih lama, Pak Tri tetap tenang. Ia teringat pesan subuhnya sendiri: Yakin sama takdir Allah. Di Banyuanyar sore itu, hujan bukan sekadar air, melainkan cara langit mencuci lelah dan menyirami harapan bagi tanaman-tanaman yang ia rawat dengan sepenuh hati.***





No comments:
Post a Comment