Layar ponsel itu tak berhenti berkedip, memuntahkan rentetan pesan yang berderit seperti mesin ketik tua. Di luar, mentari tanggal 8 Januari baru saja merangkak naik, namun di dalam grup WhatsApp "PMI Run", suasana sudah sepanas aspal siang hari. Suara notifikasi yang bertalu-talu seolah menjadi musik pembuka bagi ribuan pelari yang jiwanya sudah melesat ke garis finis, meski raga mereka masih tertahan di balik meja kerja.
"Ngambil BIB kapan ya?" sebuah pertanyaan meluncur, memicu gelombang tanya lainnya.
Admin grup, yang kesabarannya setebal sol sepatu lari, membalas dengan nada yang ditenangkan. Namun, keriuhan itu tak terbendung. Pertanyaan tentang ukuran jersey mulai berhamburan—membayangkan kain dry-fit yang memeluk tubuh, mencari angka yang pas agar tak nampak seperti karung saat dipotret fotografer lomba.
Di sudut lain percakapan, aroma gurih tiba-tiba merayap di antara obrolan teknis. Seseorang menyebut "Kapal Selam", dan seketika imajinasi kolektif berpindah ke mangkuk berisi pempek yang berenang dalam cuka hitam yang pedasnya menggigit lidah.
"Kapal selam aja dikunyah, apalagi kapal kecil!" seloroh seorang pelari asal Palembang, membuat suasana yang tadinya tegang karena urusan rute, menjadi serenyah kerupuk kemplang.
Namun, kekhawatiran tetap terselip. "Rutenya muter balik, apa enggak ada yang curang nanti?" tanya seorang peserta, cemas jika kejujuran luntur oleh ambisi. Di sisi lain, para pejuang jarak jauh dari Kotabumi, Metro, hingga Pringsewu mulai saling melempar sauh, mencari "barengan" agar aspal jalanan menuju Bandar Lampung tak terasa terlalu sunyi.
Lalu muncullah tawaran jastip pengambilan racepack. Lima belas ribu rupiah untuk sebuah kemudahan. Bagi sebagian orang, itu adalah setitik embun di padang pasir, namun bagi yang lain, itu hanyalah "ladang cuan" yang tipisnya mengalahkan selembar tisu.
"Jangan lupa siapin sepatu andalan dan kacamata," pesan seseorang mengingatkan. "Kita tampil sekeren mungkin!"
Seorang pelari wanita tersenyum getir melihat ponselnya. Di saat orang lain meributkan Pace 6—kecepatan yang sanggup membuat jantung berdegup seperti genderang perang—ia hanya mengetik pelan, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku pace keong," tulisnya.
Biarlah mereka berlari seperti angin yang mengejar badai demi medali untuk seratus orang tercepat. Baginya, lari ini adalah tentang aroma peluh yang jujur, tawa yang pecah di rute putar balik, dan kebanggaan mengenakan nomor di dada—meski ia harus sampai ke garis finis saat panitia mulai melipat tenda.***
No comments:
Post a Comment