Malam di pengujung tahun 2025 itu terasa lebih dingin dari biasanya, seolah waktu sedang menahan napas sebelum melompat ke angka yang baru. Di balik layar ponsel yang berpijar seperti kunang-kunang kesepian, Sugeng menatap kursor yang berkedip di layar putih—sebuah medan perang yang asing baginya.
"Saya sejatinya tidak punya background bahasa, saya jurusan MTK," tulisnya di grup KBMN, jemarinya terasa kaku seperti kayu. "Rasanya agak remang-remang menulis antologi."
Sugeng menarik napas dalam, mencium aroma kopi hitam yang uapnya mulai menipis di samping laptop. Baginya, angka adalah kepastian; tegas seperti karang, tak ada ruang untuk tafsir. Namun kini, ia harus menjinakkan kata-kata yang liar, yang baginya tampak seperti kabur yang menutup jalan setapak di tengah hutan.
Notifikasi ponselnya berbunyi, memecah kesunyian. Helwiyah membalas, "Background saya akuntansi, paling tidak bisa berkata-kata, apalagi menulis. Tahunya angka... saya hanya mencoba hingga suka."
Kata-kata Helwiyah meresap ke dalam pikiran Sugeng seperti tetesan air yang membasahi tanah kering. Ada rasa hangat yang menjalar. Ia membayangkan Helwiyah di sudut ruangannya, di antara tumpukan neraca yang kaku, mencoba merangkai kalimat selembut sutra. Tak lama, NDY menimpali dengan tawa digital, mengaku berasal dari dunia teknik yang penuh dengan baja dan presisi baut.
Udara pagi tanggal 31 Desember mulai merayap masuk lewat celah jendela, membawa aroma embun yang segar. Di tengah keraguan yang menyelimuti para penakluk angka itu, suara Winarno muncul seperti mercusuar di tengah badai.
"Kirimkan saja tulisannya, nanti diperhalus oleh tim editor," tulis Winarno. Kalimat itu terasa seperti tangan yang terulur, menarik mereka dari lumpur ketidakpercayaan diri. Winarno memberikan keyakinan bahwa setiap kata, sekaku apa pun itu, adalah permata mentah yang hanya perlu sedikit asahan untuk bersinar.
Sugeng menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap ke luar jendela; langit mulai merona merah muda, menyambut silaturahmi yang ditenun oleh Wiwin lewat ucapan terima kasihnya yang tulus.
Malam itu, Sugeng menyadari bahwa menulis bukanlah tentang dari mana seseorang berasal, melainkan tentang keberanian untuk menumpahkan isi kepala ke atas kertas. Ia kembali menatap layar putihnya. Kali ini, remang-remang itu perlahan sirna, berganti dengan binar cahaya ide yang mulai mengalir, seiring dengan tekadnya untuk mengubah rumus-rumus kaku menjadi sajak-sajak yang bernyawa.
No comments:
Post a Comment