Siang itu, udara di lingkungan MTsN 1 Bandar Lampung terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Kabar duka tentang kesehatan menyusup di sela-sela kesibukan ruang guru. Teman sejawat kami yang dikenal ceria, Pak M. Yusuf, kini harus terbaring lemah, bertarung melawan sakit di balik dinding putih Rumah Sakit Bintang Amin.
Di dalam Ruang Airan, tepatnya nomor 2502, suasana hening menyelimuti tubuh Pak Yusuf. Bau antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis peralatan medis menjadi musik latar yang dingin, sangat kontras dengan hangatnya tawa Pak Yusuf saat berada di sekolah. Namun, meski raga terpisah oleh jarak, untaian doa dari rekan-rekan kerja mengalir deras bak sungai yang menyejukkan.
Layar ponsel Pak Yusuf bergetar tanpa henti, membawa gelombang simpati yang mengharukan. Pak Muhaimin, wakil kepala bidang Humas, mengawali dengan pesan penuh takwa, memohon agar Allah SWT mengangkat penyakit beliau. Tak lama, Tunah, Anita, Dona, dan Rika menyahut dengan kalimat Syafakallah, menciptakan harmoni doa yang menggetarkan langit.
"Butuh proses waktu untuk kesembuhannya, perlu kesabaran dan memasrahkan kepada-Nya," tulis Ka TU Turyadi dengan bijak, seolah memberikan asupan kekuatan mental bagi Pak Yusuf. Sementara itu, Apriyani merindukan kehadiran beliau agar bisa segera aktif kembali mewarnai hari-hari di madrasah.
Di tengah rasa lemasnya, Pak Yusuf menyempatkan diri mengetik balasan singkat, "Makasih bapak ibu... semoga bisa segera disembuhkan." Kalimat sederhana itu terasa begitu menyentuh, seperti secercah cahaya kecil di tengah mendung yang menggelayut.
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
“Allahumma Rabban-naas, adzhibil-ba’sa, isyfi antasy-syaafi, laa syifaa-a illa syifaa-uka, syifaa-an laa yughaadiru saqaman.”
"Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun."
Majas metafora cinta dan kesetiakawanan ini tergambar jelas saat satu per satu rekan, mulai dari Sri Hartini, Fefiyana, Mustafid, hingga M. Thoyib, memberikan amunisi spiritual. Mereka semua berharap agar raga Pak Yusuf segera pulih, sekuat sedia kala, agar tawa dan pengabdiannya kembali bergema di lorong-lorong sekolah.
Kami semua di sini, menunggu kepulanganmu dengan tangan terbuka dan doa yang tak terputus, Pak Yusuf. Semoga Allah segera memberikan kesembuhan yang sempurna. Aamiin.***

No comments:
Post a Comment