Sunday, January 11, 2026

Agil, kekecewaan yang dingin

Minggu, 11 Januari 2026. Aspal Semarang siang itu terasa membara, memantulkan panas yang menjilat udara hingga tampak bergelombang. Di tengah kebisingan kota, Agil berdiri mematung di median jalan, tatapannya kosong sedalam sumur tua yang tak berdasar. Di sekelilingnya, deru mesin kendaraan terdengar seperti dengung lebah raksasa yang tak henti-henti menyiksa telinga.

Aroma asap knalpot yang pekat dan debu jalanan menyengat hidung, namun Agil seolah telah kehilangan seluruh indranya, kecuali satu: fokus pada deru mesin bus Trans Semarang yang mendekat.

Tiba-tiba, laksana bayangan yang lepas dari raga, Agil melangkah nekat. Pada percobaan pertama, tubuhnya hanya menyentuh lambung besi bus pertama yang melintas. Bunyi braakk logam beradu kain baju terdengar lirih di tengah hiruk-pikuk. Ia terpental kecil, kembali menepi ke median jalan seperti dedaunan kering yang tertiup angin sepoi. Namun, matanya tidak menunjukkan rasa sakit, hanya kekecewaan yang dingin.

Tak lama berselang, bus Trans Semarang kedua muncul dari kejauhan, membelah jalan dengan warna merahnya yang mencolok. Mesinnya menderu, getarannya terasa hingga ke telapak kaki Agil yang gemetar. Kali ini, Agil tidak ragu. Ia melompat, menabrakkan diri tepat ke moncong bus yang sedang melaju kencang.

Prannggg!

Suara kaca depan bus yang hancur berkeping-keping meledak di udara, suaranya tajam menyayat kesunyian sesaat. Serpihan kristal kaca berkilauan di bawah terik matahari sebelum jatuh berserakan di aspal hitam. Tubuh Agil terpental jauh, tergeletak diam seperti boneka perca yang talinya terputus.

Dunia seakan berhenti berputar. Bau sangit ban yang mengerem mendadak memenuhi atmosfer, bercampur dengan aroma amis yang mulai merayap pelan. Penumpang di dalam bus menjerit, sebuah simfoni ketakutan yang pecah seketika.

Hingga saat ini, motif di balik aksi nekat Agil masih menjadi misteri yang terkunci rapat. Rekaman CCTV telah diamankan, menjadi saksi bisu atas drama tragis di hari Minggu tersebut. Sementara Agil kini berjuang di antara hidup dan mati dalam dekapan dingin ruang medis, publik Semarang hanya bisa bertanya-tanya: beban apa yang begitu berat hingga membuat seseorang merasa aspal jalanan adalah tempat peraduan yang paling tepat?

Kasus ini kini berada dalam genggaman Unit Laka Lantas Polrestabes Semarang, menyisakan trauma mendalam bagi sang sopir dan kaca-kaca pecah yang menjadi nisan bagi sebuah keputusasaan. ***

No comments: