Monday, January 12, 2026

Selamat Menempuh Hidup Baru, Ayu & Saddam

 Awan mendung yang sempat menggelayuti langit seolah tersingkap oleh hangatnya kabar bahagia. Pagi itu, layar ponsel para alumni guru Al-Kautsar bergetar, membawa sebuah undangan digital yang cantik. Olinda Nani mengirimkan tautan itu dengan jemari yang penuh harap, memohon doa restu untuk putrinya, Ayu, yang akan bersanding dengan Saddam.







"Assalamualaikum Bapak/Ibu, maaf ya aku kirim undangan lewat online," tulis Olinda. Pesan itu seperti embusan angin sejuk di tengah riuhnya kesibukan pagi. Tak butuh waktu lama, balasan mengalir seperti air tenang. Mursalin menyambut baik, sementara Arif Maryata dan Dewi menyahut dengan janji "Insya Allah" yang memberikan rasa tenang bagi sang tuan rumah.

Namun, bukan reuni namanya jika tak diwarnai kelakar jenaka. Di sela-sela momen makan bersama rekan alumni di Masjid MAN 2, Pak Yusuf mengunggah foto kebersamaan mereka. Aroma nasi hangat dan sambal yang menggoda seolah tercium hingga ke balik layar.

"Mantap Pak Yusuf! Yang dari Kalianda cukup doa saja," celetuk Ishanur Hamid, menyadari jarak yang membentang luas seperti samudera.

Di sudut obrolan lain, Arzan Kamal mulai melancarkan serangan "nostalgia maut". "Aku tadinya pengen ketemu Mesyi...!" tulisnya jahil.

Arif Maryata tertawa terbahak-bahak melihat umpan itu. "Mau dimarahin gara-gara undangan enggak diantar-antar yo, Kang Arzan? Hehe, taunya enggak bisa bawa motor!"

Arzan tak mau kalah, ia membongkar memori lama saat mereka pertama kali tour. "Masih ingat saja Kang Arif. Pas pertama tour, eh taunya ada yang takut pertama naik kapal!"

Suasana grup menjadi riuh oleh tawa digital. Mesiyanto hanya bisa membalas dengan deretan emotikon tawa dan haru 😁😆🥹, seolah-olah ia sedang tersipu mengenang ketakutannya pada ombak laut masa lalu yang mengocok perut.

Waktu bergulir, dan hajatan pun usai. Olinda Nani kembali hadir dengan perasaan lega yang membuncah. "Alhamdulillah berjalan lancar, terima kasih banyak Bapak/Ibu semua," ungkapnya tulus. Doa-doa baik pun kembali membanjiri grup. Sukijo dan Dewi kompak mengaminkan, menciptakan harmoni spiritual yang kental.

Menutup hari dengan penuh kehangatan, Mesiyanto akhirnya muncul dengan ajakan yang tak bisa ditolak. "Main ke Batara, Bos... Kita minum Figur!" ajaknya sembari menyisipkan emotikon tepuk tangan.

Persahabatan mereka memang seperti kopi di angkringan; hitam, pekat, terkadang pahit oleh kenangan masa lalu, namun selalu manis karena tawa yang tak pernah habis. Meski jarak Kalianda ke Batara terasa jauh, doa dan tawa mereka tetap tertambat erat dalam satu ikatan Al-Kautsar yang abadi.


No comments: