Layar ponsel itu berkedip-kedip seperti kunang-kunang di tengah remang kamar, memuntahkan cahaya biru yang tajam ke mata Juno. Di luar, aroma tanah basah sisa hujan sore hari merayap masuk melalui celah jendela, membawa hawa dingin yang memeluk kulit. Hari-hari terakhir liburan terasa seperti pasir yang meluncur cepat di celah jemari; tak tertahan dan hampir habis.
Juno menghela napas, jemarinya yang lincah secara tak sengaja menyentuh layar.
"Maaf Bu, kepencet," ketiknya buru-buru, sebuah kalimat yang pecah di tengah kesunyian grup WhatsApp kelas 8B.
Suasana grup yang semula tenang mendadak riuh dengan celetukan teman-temannya, menyerupai kicauan burung di pagi hari. Namun, keceriaan itu sempat terhenti oleh kabar yang mampir di malam pergantian tahun. Sebuah pesan singkat muncul seperti petir di siang bolong: "Izin Bu, nomornya disadap orang." Kabar itu menyebar dingin, menciptakan riak kekhawatiran sejenak di antara mereka yang tengah menanti letupan kembang api di langit malam.
Waktu pun melompat. Minggu sore, 4 Januari 2026, suasana grup kembali berubah. Kali ini, sebuah pesan panjang hadir dengan wibawa yang lembut namun tegas, seperti embun pagi yang mendinginkan suasana. Itu adalah pesan dari Ibu Guru.
"Assalamualaikum, nak saleh dan salehah... besok hari Senin, 5 Januari, kegiatan belajar mengajar semester genap sudah aktif seperti biasa..."
Pesan itu seketika menjadi konduktor bagi simfoni jawaban yang seragam. Ruang obrolan itu meledak dalam kepatuhan yang hangat. Satu per satu, nama-nama muncul bagaikan deretan semut yang tertib: Kevin, Danzzz, Rower, Wahid, hingga Jeno Lee yang menyertakan emoji hormat seolah sedang berdiri tegak di depan kelas.
"Waalaikumsalam, baik Bu..."
"Siap, Bu..."
Kalimat-kalimat itu mengalir deras seperti air sungai yang jernih, membawa semangat baru yang meluap-luap. Juno, yang duduk di tepi tempat tidurnya, bisa merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat. Bayangan tentang koridor sekolah yang riuh, bau buku-buku baru yang masih segar, dan bunyi bel yang membelah udara pagi mulai menari-nari di benaknya.
Liburan telah usai, meninggalkan kenangan tentang nomor yang disadap dan pesan-pesan yang "kepencet". Kini, yang tersisa adalah janji untuk bangun lebih awal, merapikan seragam yang masih beraroma deterjen, dan menyambut hari Senin dengan kepala tegak.
Saat mentari perlahan tenggelam di ufuk barat, grup itu akhirnya tenang. Namun, di dalam dada anak-anak 8B, semangat itu baru saja menyala, sekokoh gedung sekolah yang menanti mereka esok pagi tepat pukul tujuh.***

No comments:
Post a Comment