Tuesday, January 6, 2026

Kegaduhan yang Hangat

Riuh rendah suasana grup WhatsApp malam itu terasa begitu hidup, seperti pasar malam yang berpindah ke dalam genggaman layar ponsel. Bayangkan jari-jari yang menari lincah di atas layar kaca yang hangat, menciptakan rentetan bunyi ting yang tak henti-henti, bersahutan dengan getaran ponsel di atas meja.


Di tengah cahaya biru layar yang menerangi wajah-wajah penuh antusias, obrolan mengalir deras secepat aliran adrenalin para pelari. Ada aroma semangat yang tercium dari balik kata-kata "siap membantai" dan "semangat latihan." Namun, terselip juga rasa cemas yang dingin ketika kabar tentang medali hanya untuk 100 orang mencuat.

"Waduh, bisa-bisa nggak dapet medali ini," keluh salah satu peserta, membayangkan langkah kakinya yang mungkin tak secepat kilat. Keluhan itu disambut tawa renyah lewat emoji-emoji jenaka. Di sudut lain, para "pelari pace keong" saling melempar canda, menertawakan diri sendiri sambil tetap berharap pada keberuntungan doorprize motor Honda Beat yang berkilau dalam imajinasi mereka.

Peta Kerinduan di Tanah Lampung

Layar ponsel itu seolah berubah menjadi peta digital Provinsi Lampung yang berdenyut.

 * Dari Bakauheni di ujung selatan, terdengar suara yang bertanya-tanya tentang jarak yang membentang jauh ke Bandar Lampung.

 * Warga Lampung Timur, dari Pasir Sakti hingga Way Jepara, saling melempar sapa, mencoba merajut janji untuk berangkat bersama di kala subuh masih buta.

 * Suara-suara dari Metro, Kalianda, hingga Liwa ikut bergabung, menciptakan simfoni kerinduan akan kebersamaan di aspal jalanan nanti.

Kewibawaan Sang Admin

Lalu, suasana yang riuh itu tiba-tiba melambat saat Admin PMI4Humanity muncul dengan sapaan khas, "Tabik Pun." Kalimat itu seperti hembusan angin sejuk yang menenangkan riak air.

"Oke sip, saatnya ngejawab," tulisnya. Ketegangan mencair. Penjelasan mengalir dengan logis namun tetap hangat: tentang harga tiket 50 ribu yang terasa sangat murah dibanding segudang manfaat—kaus jersey yang licin di kulit, bib yang akan tersemat di dada, hingga hiburan musik yang akan menggetarkan panggung.

Malam itu, grup WhatsApp bukan sekadar tempat berbagi info. Ia adalah ruang tunggu yang penuh keringat imajiner, tempat orang-orang asing dari berbagai penjuru Lampung dipersatukan oleh satu tujuan: berlari, berbagi, dan mungkin—jika semesta mengizinkan—pulang membawa kenangan manis atau sebuah motor baru.***

No comments: