Thursday, January 29, 2026

Antara Logika Otak dan Kehendak Ilahi

Dalam kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam memahami segala sesuatu hanya melalui nalar atau hukum sebab-akibat yang disebut sebagai Hukum Kauniah. Secara logika, siapa yang rajin berkarya, ia akan naik pangkat; siapa yang rajin belajar, ia akan pandai. Ini adalah proses yang mudah dicerna oleh otak. Ibarat adonan agar-agar yang dituang ke dalam mangkok, maka bentuknya akan mengikuti mangkok tersebut.

Namun, tidak semua peristiwa di dunia ini bisa "diotakkan". Ada dimensi kedua yang disebut Proses Ilahiah, yaitu kemauan mutlak Allah SWT. Jika Allah sudah berkehendak, hukum alam bisa menjadi netral.

  • Api yang Dingin: Secara logika api itu panas, namun bagi Nabi Ibrahim AS, Allah memerintahkan api menjadi dingin dan menyelamatkan beliau.

  • Kelahiran Nabi Isa AS: Secara logika, seorang wanita hamil karena memiliki suami, namun Siti Maryam melahirkan atas kehendak Allah tanpa perantara laki-laki.

  • Peristiwa Isra Mikraj: Bagaimana mungkin jarak sejauh itu menembus Alam Nasut (manusia), Malakut (malaikat), hingga Lahut (ketuhanan) ditempuh hanya dalam sepertiga malam? Logika mungkin menolak, tapi kekuatan Allah yang menjalankannya membuatnya menjadi sangat mudah.


Salat: Bukan Sekadar Penggugur Kewajiban

Peristiwa Isra Mikraj membawa oleh-oleh terbesar bagi umat Islam: Perintah Salat. Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui Jibril, perintah salat diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan salat.

Namun, sering kali kita terjebak dalam formalitas. Salat hanya dianggap sebagai penggugur kewajiban tanpa merasakan kehadiran Allah. Akibatnya:

  1. Di masjid merasa Allah ada, tapi di kantor (saat korupsi) atau di pasar (saat curang) merasa Allah tidak ada.

  2. Salat rajin, namun maksiat tetap tekun.

  3. Lisan tidak terjaga meski dahi sujud ke bumi.

Tujuan tertinggi salat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar serta merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta di mana pun kita berada.


Muhasabah dan Semangat Kebaikan

Manusia yang cerdas adalah manusia yang mau melakukan muhasabah (evaluasi diri). Mencari kelemahan diri sendiri untuk diperbaiki jauh lebih mulia daripada sibuk mencari kesalahan orang lain. Orang yang salatnya berhasil akan terlihat dari indikasinya: ia semangat menebarkan kebaikan tanpa pilih kasih.

Meneladani Rasulullah SAW, beliau tetap berbuat baik bahkan kepada orang Yahudi buta yang setiap hari mencaci-makinya. Inilah implementasi nyata dari nilai-nilai salat dalam kehidupan bermasyarakat.


Penutup: Investasi Akhirat

Sebagai penutup, dakwah dan perjuangan di jalan Allah memerlukan pengorbanan, baik tenaga maupun harta. Melalui program mencetak satu juta penghafal Al-Qur'an dan seribu ulama, umat diajak untuk tidak hanya terpaku pada ritual seremonial, tetapi berkontribusi nyata melalui infak dan sedekah. Sedekah bukan hanya bantuan sosial, melainkan wasilah (perantara) untuk terbukanya pintu rahmat dan kemudahan hidup di dunia maupun di kubur kelak.


No comments: