Pagi di pengujung Desember 2025 terasa lebih hangat, bukan karena sengatan mentari, melainkan karena getar ponsel yang tak henti-hentinya bernyanyi riuh membawa kabar dari Tanah Suci. Di grup percakapan KBIH, suasana tampak seperti pasar kaget di pagi hari; penuh tanya, harapan, dan doa yang saling bersahutan.
Sabtu itu, 27 Desember, Pak Samsul Bakri membuka hari dengan sebuah tanya yang menggantung di udara. Ia rindu pada suasana manasik, rindu pada simulasi thawaf yang membuat hatinya bergetar. Namun, jawaban Ayah Hubby datang dengan tegas namun menyejukkan, mengabarkan bahwa manasik baru akan digelar pada 10 Januari mendatang. Kabar itu diterima dengan lapang dada oleh para jemaah, seperti tanah kering yang sabar menunggu jatuhnya hujan.
Namun, di sela penantian itu, ada kekhawatiran yang merayap pelan. Pak Marlis (MAN Mengkudum) berkisah tentang "perjuangan" istitha'ah kesehatannya. Riwayat asam urat di masa lalu seolah menjadi kerikil tajam yang mengganjal langkahnya, meski hasil pemeriksaan terbarunya sudah secerah langit pagi. Baginya, status kesehatan bukan sekadar kertas medis, melainkan kunci pembuka gerbang menuju Ka'bah.
Dua hari kemudian, tepat pada 29 Desember, suasana grup mendadak meledak oleh rasa syukur. Ayah Hubby membagikan sebuah daftar sakral: nama-nama yang disetujui untuk penggabungan mahram dan pelunasan tahap kedua.
"Alhamdulillah... Masya Allah Tabarakallah!" seru Pak Sarwan melalui jemarinya. Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran, menembus kegelisahan yang selama ini membelit. Bagi Sarwan dan banyak jemaah lainnya, pengumuman itu adalah fajar yang menyingsing setelah malam yang panjang. "Bismillah, tanggal dua Januari pelunasan," tekadnya bulat, sekeras batu karang di tepi pantai Lampung.
Di sudut lain, Pak Samsul Bakri masih menyimpan tanya yang setia mendekam. Ia tak ingin terpisah dari sang Ibu; ia ingin menjadi tongkat yang menguatkan di setiap langkah thawaf nanti. Jawaban Ayah Hubby kembali hadir bak embun pagi yang membasuh dahaga. Janji bahwa mereka akan berada dalam satu regu, satu rombongan, dan satu bus, menjadi penawar rindu yang paling ampuh.
Kini, grup itu tidak lagi hanya berisi teks dan instruksi teknis. Ia telah berubah menjadi anyaman doa dan harapan. Di balik layar ponsel, ada mata yang berkaca-kaca menatap daftar nama, ada tangan yang gemetar karena haru, dan ada hati yang sudah terbang lebih dulu menuju padang Arafah. Mereka kini hanya perlu menunggu waktu, memantapkan langkah, dan menjaga raga agar tetap sehat hingga hari keberangkatan tiba.***
No comments:
Post a Comment