Monday, January 12, 2026

Roda berputar di atas lintasan waktu

 Kehidupan berjalan layaknya roda yang berputar di atas lintasan waktu; terkadang ia berada di puncak keemasan yang berkilau, namun di detik lain ia terperosok dalam palung duka yang kelam.

September 2025: Puncak Pencapaian

September itu ditutup dengan semerbak aroma kesuksesan yang harum. Di layar ponsel para alumni Bahasa Inggris ’92, nama Hasan Hariri berpendar dengan gelar baru: Profesor. Ucapan selamat mengalir deras bak air terjun dari Yohana Sriwahyuni, Hermanto, hingga Tumaji. Suasananya begitu hangat, sehangat teh yang disesap di sore hari.

"Masya Allah, Prof. Hasan... Selamat!" seru Betty, diiringi doa keberkahan dari Evi.

Hasan, dengan kerendahan hati seorang ilmuwan, menyahut santun. Ia bahkan sempat melempar tantangan manis kepada rekan-rekannya. "Ayo kapan S3 ke Unila? Kapan mampir ke FKIP?" tawarnya. Namun, Sadikan hanya membalas dengan tawa digital, menyadari betapa padatnya jadwal seorang profesor yang kini sesibuk lebah di musim bunga.

Oktober 2025: Mendung yang Tak Terduga

Namun, hidup tak selamanya berisi sorak-sorai. Di bulan berikutnya, suasana berubah drastis. Langit komunikasi yang tadinya cerah mendadak tertutup mendung kelabu. Evi, yang baru saja bercerita dengan penuh semangat tentang peluncuran cabang biro perjalanannya yang ke-109, tiba-tiba membawa kabar yang menghentak jantung.

Sebuah pesan masuk, dingin dan menyesakkan. Ayahanda tercinta, Indra Prayitno, telah berpulang. Bau bunga kamboja dan aroma tanah basah seolah menyusup masuk lewat barisan kata "Innalillahi". Winarno, Kasno, Suhaiban, hingga Ruso Buana serentak mengirimkan doa-doa tulus agar almarhum tenang di surga. Dunia Evi mendadak hening, hanya ada rintik duka yang membasahi sanubari.

Januari 2026: Kabar Baru dan Rahasia yang Tersingkap

Tahun berganti, Haryanto muncul dengan nomor baru, mencoba merajut kembali tali persahabatan yang sempat renggang oleh waktu. Ia bertanya tentang alamat kawan lama, Riyanto. Namun, jawaban yang ia terima seperti petir di siang bolong.

"Kotabumi, Ndan... Beliau sudah meninggalkan kita semua," sahut Tumaji dengan emotikon tangis 😭😭😭. Imanp dan Suhaiban mengonfirmasi berita pahit itu. Ternyata, Riyanto telah menjadi kenangan, tubuhnya kini menyatu dengan Bumi Ruwa Jurai. Suasana grup menjadi genting, beberapa rekan mulai keluar dari obrolan, membuat Suhaiban cemas. "Hasan, please don't leave!" pintanya, takut kehilangan sosok sang profesor di grup itu.

Di tengah kebingungan itu, Evi kembali muncul dengan napas yang lebih tenang namun penuh haru. Rahasia pedih itu akhirnya terungkap. Pesan duka yang dikirim saat itu ternyata dikirim oleh anaknya karena Evi sendiri sedang bergelut dengan luka yang terlalu dalam untuk diungkapkan: sang suami, belahan jiwanya, juga telah berpulang menyusul sang ayah.

"Terima kasih atas doa-doanya untuk almarhum suami... mohon maaf baru membalas, keadaan tidak sempat mengabarkan," tulis Evi dengan jemari yang kini mulai kembali tegar. Ia mencoba bangkit, menawarkan perjalanan umrah plus Turki—sebuah cara untuk menyalurkan duka menjadi pengabdian, mengajak kawan-kawannya menuju rumah Tuhan.

Tumaji hanya bisa membalas singkat, "Aamiin."

Malam itu di Bandar Lampung, angin bertiup perlahan. Mereka menyadari bahwa di antara gelit tawa pencapaian profesor dan kepedihan ditinggal orang tercinta, persahabatan mereka adalah dermaga terakhir tempat mereka saling bersandar, sebelum satu per satu dari mereka akhirnya benar-benar pulang ke haribaan-Nya.

Kisah ini mengajarkan bahwa setiap pertemuan adalah hadiah, karena kita tak pernah tahu siapa yang akan pergi lebih dulu. ***

No comments: