Monday, January 5, 2026

Ketukan Pintu Langit: Simfoni Pelunasan di Bandar Lampung

Januari 2026 dibuka dengan degup jantung yang lebih kencang dari biasanya. Di grup-grup pesan singkat, aroma kecemasan bercampur rindu ke Tanah Suci terasa setajam aroma kopi pagi. Sejak tanggal dua Januari, para calon tamu Allah di Bandar Lampung memaku pandangan pada layar ponsel, menanti kabar yang masih terkunci rapat di laci Kementerian Haji dan Umrah Pusat.

"Daftar nama belum dirilis," kabar itu datang seperti embusan angin yang menahan laju perahu. Jemaah diminta bersabar, sementara jemari tak henti menyapu layar, mencoba membujuk aplikasi Satu Haji yang sesekali merangkak lamban seolah kelelahan menampung ribuan doa yang mengetuk pintunya.


Namun, perlahan namun pasti, bendungan penantian itu jebol. Status "Istitha'ah" mulai menyala di layar-layar ponsel, bak bintang penunjuk arah bagi kafilah di tengah padang pasir.

"Jika sudah keluar status pelunasan, silakan ke bank," instruksi itu menjadi genderang perang yang memacu semangat. Kesibukan mulai tumpah di sudut kota. Di kantor-kantor bank syariah, terdengar gemericik transaksi yang bukan sekadar angka, melainkan anak tangga menuju Baitullah. Suasana bank riuh rendah dengan gumam syukur dan langkah kaki yang bergegas.

Pada tanggal lima Januari, mentari Bandar Lampung terasa lebih bersahabat. Pak Sarwan dan Ibu Desi melangkah dengan dada lapang setelah menuntaskan kewajiban finansial di Bank BSI. Berkas-berkas berpindah tangan, paspor diserahkan, dan data biometrik direkam—semuanya adalah kepingan puzzle yang mulai menyatu membentuk gambaran Ka'bah.

"Alhamdulillah, sudah pelunasan," pesan-pesan syukur mengalir deras, sejuk bagaikan air Zamzam yang membasahi kerongkongan haus.


Kini, keriuhan pelunasan mulai mereda, berganti dengan penantian yang lebih syahdu. Mereka kini berada di ruang tunggu takdir, menanti koper-koper besar yang akan menampung rindu, kain ihram yang akan membalut jiwa, dan jadwal keberangkatan yang akan menjadi tiket resmi menuju pelukan Sang Pencipta. Di kejauhan, sayup-sayup talbiyah mulai terdengar di relung hati, membuktikan bahwa sabar adalah jembatan paling kokoh menuju impian yang paling suci.


No comments: