Monday, December 15, 2025

Grand Elty Trail Run


Laporan Perjalanan: Menaklukkan Jalur Kalianda dan Jejak Kemanusiaan di Ujung Lampung

KALIANDA – Pagi itu, Minggu, 14 Desember 2025, suasana di pesisir Lampung Selatan sudah berdenyut bahkan sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri. Seorang pelari asal Bandar Lampung memulai perjalanannya menembus keheningan subuh, menempuh jarak sekitar 65 kilometer demi menjawab tantangan adrenalin di ajang trail run yang digelar di kawasan Grand Elty Krakatoa.

Fajar di Jalur Lintas dan Gema Adrenalin

Perjalanan dimulai tepat pukul 04:30 WIB dari pusat kota Bandar Lampung. Dalam ketenangan perjalanan menuju Kalianda, ia menyempatkan diri singgah di Masjid Al Muhajirin, Panjang, untuk menunaikan ibadah salat Subuh. Momentum spiritual ini menjadi jeda singkat sebelum ia berhadapan dengan medan teknis yang menguras tenaga.

Tiba di lokasi acara, suasana telah berubah menjadi lautan manusia. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ajang tahun ini diikuti oleh sedikitnya 977 peserta dari berbagai komunitas lari. Sejak bendera start dikibarkan pada pukul 06:30 WIB, ia langsung berjibaku dengan rute yang tidak main-main. Naik-turun perbukitan dengan elevasi yang menantang menjadi sajian utama, meski keletihan fisik itu terbayar lunas oleh panorama alam Lampung Selatan yang memukau dari ketinggian.

Selembar Medali dan Aksi Kemanusiaan

Tepat pukul 08:00 WIB, perjuangan itu mencapai puncaknya. Begitu melintasi gerbang finish, rasa lelah yang menggelayuti tubuh seketika luruh. Setelah menerima refreshment untuk memulihkan dehidrasi, momen yang paling dinanti pun tiba: pengalungan medali finisher. Baginya, medali tersebut bukan sekadar logam, melainkan simbol keberhasilan menaklukkan batas diri di atas lintasan tanah dan batu.

Namun, agenda hari itu tidak berhenti pada pencapaian fisik semata. Sekitar pukul 09:30 WIB, setelah kondisi tubuh mulai stabil, ia memutuskan untuk bergabung dalam kegiatan donor darah yang diselenggarakan di lokasi acara. Di tengah tren gaya hidup sehat yang sedang marak di Lampung, aksi kemanusiaan ini menjadi penutup yang bermakna, mengubah energi kompetisi menjadi sumbangsih nyata bagi sesama.

"Olahraga bukan hanya soal melatih otot, tapi juga mengasah empati. Menutup lari dengan donor darah adalah bentuk syukur atas raga yang sehat," tulis sebuah ulasan berita lokal mengenai semangat para peserta hari itu.

Penutup Sempurna: Kuliner Legendaris

Perjalanan pulang menuju Bandar Lampung pada pukul 11:30 WIB tidak lengkap tanpa ritual kuliner. Ia memilih singgah di RM Simpang Marina, sebuah destinasi kuliner yang sudah tersohor di kalangan pelancong lintas Sumatra.

Menu Pindang Simba menjadi pilihan utama. Kuah yang segar dengan perpaduan bumbu rempah yang kuat—asam, pedas, dan gurih—menjadi "obat" pemulih tenaga yang paling ampuh. Aroma kemangi dan potongan daging ikan Simba yang lembut menjadi penutup sempurna bagi petualangan hari itu.

Ia kembali ke rumah dengan tubuh yang letih, namun membawa kepuasan batin yang mendalam. Sebuah medali kini tergantung di dinding, menyimpan narasi tentang tanjakan terjal, tetesan darah untuk kemanusiaan, dan cita rasa kuliner Lampung yang tak terlupakan.
























 

No comments: