Tuesday, January 13, 2026

Ambisi di Bawah Langit Kelabu

 Pukul 16:47 petang, langit Bandar Lampung di atas Stadion Pahoman mulai merona kelabu, seolah menahan tangis. Udara basah merambat, mengantarkan aroma tanah kering yang sebentar lagi akan bertemu rintik. Lintasan sintetis yang tadinya ramai oleh tawa dan deru napas para pelari, kini berangsur sunyi. Seperti panggung yang baru usai, para "aktornya" satu per satu menyingkir, bayang-bayang mereka memudar ditelan sore. Husen, yang sejak tadi duduk menatap layar kameranya, merasakan getaran kecil di punggung tangannya; sinyal pertama dari sang hujan.



​Benar saja, rintik-rintik halus mulai menari di atas kepala, mencumbui rambutnya yang basah oleh keringat dan uap lembap. Bunyi "tik-tik-tik" tipis itu segera berubah menjadi gemuruh simfoni air. Hujan menderas, seolah tirai raksasa ditarik ke bawah, memisahkan dunia. Para penikmat senja di tribun bergegas mencari naungan, suara langkah-langkah panik mereka menciptakan irama khas di tengah riuhnya air. Stadion Pahoman, yang sebentar tadi hidup, kini serupa gua raksasa yang menelan suara.

​Namun, mata Husen tetap terpaku. Di sampingnya, Iqbal, teman seperjuangannya, juga sama khusyuknya, lensa tele menjulur panjang seperti moncong predator yang lapar. Mereka berdua, bagai penjaga kuil, menolak bergeming. Air hujan yang dingin menciprat pelan ke pipi Husen, mengirimkan sensasi geli namun menyegarkan. Tangannya yang cekatan tetap menari di atas tombol-tombol kamera, jemarinya terasa dingin namun yakin. Matanya, di balik viewfinder, bagai elang yang membidik mangsa, tak berkedip.

​"Lihat itu, Bal," bisik Husen, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Mereka menolak kalah."

​Di tengah guyuran hujan yang membuat lintasan berkilauan seperti cermin raksasa, masih ada beberapa jiwa gigih yang tak peduli. Siluet-siluet mereka, buram namun bersemangat, terus berlari, melahap setiap meter lintasan. Kemeja mereka menempel erat di tubuh, rambut basah meneteskan air, namun semangat mereka membakar. Husen bisa merasakan energi itu, seolah melompat dari lensa ke dalam sanubarinya.

​Klik! Klik! Suara tombol rana kamera Husen terdengar jelas, kontras dengan gemuruh hujan. Setiap bidikan adalah puisi tanpa kata, rekaman abadi tentang ambisi yang menolak padam. Bagi Husen, hujan bukan halangan, melainkan panggung. Sebuah panggung dramatis tempat kegigihan manusia diuji, dan ia, sang juru rekam, tak akan melewatkan satu pun adegan. Aroma tanah basah dan rumput segar menusuk indra penciumannya, membaur dengan kepuasan yang membuncah di dadanya. Di antara gerimis yang merayap dan genangan air yang memantulkan langit, Husen menemukan keindahan, sebuah tarian antara manusia dan elemen, yang hanya bisa ia abadikan lewat bingkai lensanya.

Monday, January 12, 2026

Semoga Lekas Sembuh, Pak Yusuf

Siang itu, udara di lingkungan MTsN 1 Bandar Lampung terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Kabar duka tentang kesehatan menyusup di sela-sela kesibukan ruang guru. Teman sejawat kami yang dikenal ceria, Pak M. Yusuf, kini harus terbaring lemah, bertarung melawan sakit di balik dinding putih Rumah Sakit Bintang Amin.



Di dalam Ruang Airan, tepatnya nomor 2502, suasana hening menyelimuti tubuh Pak Yusuf. Bau antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis peralatan medis menjadi musik latar yang dingin, sangat kontras dengan hangatnya tawa Pak Yusuf saat berada di sekolah. Namun, meski raga terpisah oleh jarak, untaian doa dari rekan-rekan kerja mengalir deras bak sungai yang menyejukkan.

Layar ponsel Pak Yusuf bergetar tanpa henti, membawa gelombang simpati yang mengharukan. Pak Muhaimin, wakil kepala bidang Humas, mengawali dengan pesan penuh takwa, memohon agar Allah SWT mengangkat penyakit beliau. Tak lama, Tunah, Anita, Dona, dan Rika menyahut dengan kalimat Syafakallah, menciptakan harmoni doa yang menggetarkan langit.

"Butuh proses waktu untuk kesembuhannya, perlu kesabaran dan memasrahkan kepada-Nya," tulis Ka TU Turyadi dengan bijak, seolah memberikan asupan kekuatan mental bagi Pak Yusuf. Sementara itu, Apriyani merindukan kehadiran beliau agar bisa segera aktif kembali mewarnai hari-hari di madrasah.

Di tengah rasa lemasnya, Pak Yusuf menyempatkan diri mengetik balasan singkat, "Makasih bapak ibu... semoga bisa segera disembuhkan." Kalimat sederhana itu terasa begitu menyentuh, seperti secercah cahaya kecil di tengah mendung yang menggelayut.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Allahumma Rabban-naas, adzhibil-ba’sa, isyfi antasy-syaafi, laa syifaa-a illa syifaa-uka, syifaa-an laa yughaadiru saqaman.”

"Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun."


Majas metafora cinta dan kesetiakawanan ini tergambar jelas saat satu per satu rekan, mulai dari Sri Hartini, Fefiyana, Mustafid, hingga M. Thoyib, memberikan amunisi spiritual. Mereka semua berharap agar raga Pak Yusuf segera pulih, sekuat sedia kala, agar tawa dan pengabdiannya kembali bergema di lorong-lorong sekolah.

Kami semua di sini, menunggu kepulanganmu dengan tangan terbuka dan doa yang tak terputus, Pak Yusuf. Semoga Allah segera memberikan kesembuhan yang sempurna. Aamiin.***


Jurnal Liburan Kelas 8I

Libur semester kali ini bagi siswa kelas 8I MTsN 1 Bandar Lampung layaknya sebuah pelangi yang tumpah di atas kanvas kehidupan. Setiap siswa melukis kenangannya dengan warna yang berbeda, namun semuanya bermuara pada satu rasa: kebahagiaan yang membuncah.

Aroma Laut dan Gemuruh Kembang Api

Di pesisir Lampung, Syfa memecah ombak di Pantai Klara. Wangi amis laut yang segar berpadu dengan aroma gurih ikan dan ayam yang dibakar di atas bara api. Ia menunggangi banana boat yang meliuk-liuk seperti naga laut, sementara di sisi lain, Nadhifa dan Salsabila menjadikan Kalianda sebagai pelabuhan tawa mereka. Di sana, dinginnya air kolam Waterworld menusuk pori-pori, sejuk seperti es serut di tengah terik matahari.

Kontras dengan riuhnya pantai, Anisa memilih "memeluk langit". Dari lantai 22 Grand Mercure, ia melihat kembang api meledak di angkasa bak jutaan permata yang tumpah di atas hamparan lampu kota Bandar Lampung. Bau nasi goreng hangat menemani malam tahun barunya yang mewah di balik jendela kaca yang dingin.

Jejak Langkah di Pegunungan dan Kota

Jauh di dataran tinggi, Khanza mendaki gunung di Liwa. Paru-parunya dimanjakan oleh oksigen murni yang beraroma daun pinus yang basah. Ia merasai dinginnya air sungai saat tangannya meraba batu-batu licin demi mencari keong. Sementara itu, Amira berkelana lebih jauh hingga ke Kawah Putih, Bandung. Bau belerang yang menyengat dan kabut putih yang tebal menyelimuti perjalanannya sebelum akhirnya pulang dan disambut oleh kenyalnya Bakso Soni yang legendaris di Lampung.

Kehangatan Rumah dan Gemerlap Mal

Bagi sebagian siswa, rumah adalah kuta yang paling nyaman. Naswya, Queen, dan Azzahra mengubah lelah menjadi berkah dengan membantu orang tua. Harum sabun cuci piring dan debu yang tersapu bersih menjadi saksi produktivitas mereka. Namun, Mal Kartini (Moka) tetap menjadi magnet yang tak terelakkan. Di dalam gedung bioskop yang dingin dan beraroma jagung berondong (popcorn), mereka terhanyut dalam kengerian film Janur Ireng atau kemegahan visual Avatar.

Di sudut lain kota, Nadia tampil anggun dalam balutan kebaya coklat, menjadi bridesmaid yang cantik dengan rambut curly yang tertata rapi. Aroma parfum yang manis dan es lemon tea yang segar menemani hari istimewanya. Sementara itu, Naila bersorak kegirangan di Way Halim karena berhasil menaklukkan mesin jepit dan membawa pulang boneka pisang yang empuk.

Penutup yang Manis

Liburan ini adalah simfoni rasa. Dari pedasnya petis rujak Shaqila di Metro, hingga manisnya susu cokelat Salsabila di villa pribadi. Meski raga mereka terpencar dari pegunungan Liwa hingga mal-mal di pusat kota, mereka dipersatukan oleh satu hal: semangat untuk kembali ke sekolah dengan tas yang penuh dengan cerita.

8I bukan sekadar kelas; mereka adalah sekumpulan pengelana yang baru saja pulang dari petualangan hebatnya masing-masing. ***

Roda berputar di atas lintasan waktu

 Kehidupan berjalan layaknya roda yang berputar di atas lintasan waktu; terkadang ia berada di puncak keemasan yang berkilau, namun di detik lain ia terperosok dalam palung duka yang kelam.

September 2025: Puncak Pencapaian

September itu ditutup dengan semerbak aroma kesuksesan yang harum. Di layar ponsel para alumni Bahasa Inggris ’92, nama Hasan Hariri berpendar dengan gelar baru: Profesor. Ucapan selamat mengalir deras bak air terjun dari Yohana Sriwahyuni, Hermanto, hingga Tumaji. Suasananya begitu hangat, sehangat teh yang disesap di sore hari.

"Masya Allah, Prof. Hasan... Selamat!" seru Betty, diiringi doa keberkahan dari Evi.

Hasan, dengan kerendahan hati seorang ilmuwan, menyahut santun. Ia bahkan sempat melempar tantangan manis kepada rekan-rekannya. "Ayo kapan S3 ke Unila? Kapan mampir ke FKIP?" tawarnya. Namun, Sadikan hanya membalas dengan tawa digital, menyadari betapa padatnya jadwal seorang profesor yang kini sesibuk lebah di musim bunga.

Oktober 2025: Mendung yang Tak Terduga

Namun, hidup tak selamanya berisi sorak-sorai. Di bulan berikutnya, suasana berubah drastis. Langit komunikasi yang tadinya cerah mendadak tertutup mendung kelabu. Evi, yang baru saja bercerita dengan penuh semangat tentang peluncuran cabang biro perjalanannya yang ke-109, tiba-tiba membawa kabar yang menghentak jantung.

Sebuah pesan masuk, dingin dan menyesakkan. Ayahanda tercinta, Indra Prayitno, telah berpulang. Bau bunga kamboja dan aroma tanah basah seolah menyusup masuk lewat barisan kata "Innalillahi". Winarno, Kasno, Suhaiban, hingga Ruso Buana serentak mengirimkan doa-doa tulus agar almarhum tenang di surga. Dunia Evi mendadak hening, hanya ada rintik duka yang membasahi sanubari.

Januari 2026: Kabar Baru dan Rahasia yang Tersingkap

Tahun berganti, Haryanto muncul dengan nomor baru, mencoba merajut kembali tali persahabatan yang sempat renggang oleh waktu. Ia bertanya tentang alamat kawan lama, Riyanto. Namun, jawaban yang ia terima seperti petir di siang bolong.

"Kotabumi, Ndan... Beliau sudah meninggalkan kita semua," sahut Tumaji dengan emotikon tangis 😭😭😭. Imanp dan Suhaiban mengonfirmasi berita pahit itu. Ternyata, Riyanto telah menjadi kenangan, tubuhnya kini menyatu dengan Bumi Ruwa Jurai. Suasana grup menjadi genting, beberapa rekan mulai keluar dari obrolan, membuat Suhaiban cemas. "Hasan, please don't leave!" pintanya, takut kehilangan sosok sang profesor di grup itu.

Di tengah kebingungan itu, Evi kembali muncul dengan napas yang lebih tenang namun penuh haru. Rahasia pedih itu akhirnya terungkap. Pesan duka yang dikirim saat itu ternyata dikirim oleh anaknya karena Evi sendiri sedang bergelut dengan luka yang terlalu dalam untuk diungkapkan: sang suami, belahan jiwanya, juga telah berpulang menyusul sang ayah.

"Terima kasih atas doa-doanya untuk almarhum suami... mohon maaf baru membalas, keadaan tidak sempat mengabarkan," tulis Evi dengan jemari yang kini mulai kembali tegar. Ia mencoba bangkit, menawarkan perjalanan umrah plus Turki—sebuah cara untuk menyalurkan duka menjadi pengabdian, mengajak kawan-kawannya menuju rumah Tuhan.

Tumaji hanya bisa membalas singkat, "Aamiin."

Malam itu di Bandar Lampung, angin bertiup perlahan. Mereka menyadari bahwa di antara gelit tawa pencapaian profesor dan kepedihan ditinggal orang tercinta, persahabatan mereka adalah dermaga terakhir tempat mereka saling bersandar, sebelum satu per satu dari mereka akhirnya benar-benar pulang ke haribaan-Nya.

Kisah ini mengajarkan bahwa setiap pertemuan adalah hadiah, karena kita tak pernah tahu siapa yang akan pergi lebih dulu. ***

Selamat Pagi
























 

Selamat Menjalani 42 tahun Kebersamaan












 

Selamat Menempuh Hidup Baru, Ayu & Saddam

 Awan mendung yang sempat menggelayuti langit seolah tersingkap oleh hangatnya kabar bahagia. Pagi itu, layar ponsel para alumni guru Al-Kautsar bergetar, membawa sebuah undangan digital yang cantik. Olinda Nani mengirimkan tautan itu dengan jemari yang penuh harap, memohon doa restu untuk putrinya, Ayu, yang akan bersanding dengan Saddam.







"Assalamualaikum Bapak/Ibu, maaf ya aku kirim undangan lewat online," tulis Olinda. Pesan itu seperti embusan angin sejuk di tengah riuhnya kesibukan pagi. Tak butuh waktu lama, balasan mengalir seperti air tenang. Mursalin menyambut baik, sementara Arif Maryata dan Dewi menyahut dengan janji "Insya Allah" yang memberikan rasa tenang bagi sang tuan rumah.

Namun, bukan reuni namanya jika tak diwarnai kelakar jenaka. Di sela-sela momen makan bersama rekan alumni di Masjid MAN 2, Pak Yusuf mengunggah foto kebersamaan mereka. Aroma nasi hangat dan sambal yang menggoda seolah tercium hingga ke balik layar.

"Mantap Pak Yusuf! Yang dari Kalianda cukup doa saja," celetuk Ishanur Hamid, menyadari jarak yang membentang luas seperti samudera.

Di sudut obrolan lain, Arzan Kamal mulai melancarkan serangan "nostalgia maut". "Aku tadinya pengen ketemu Mesyi...!" tulisnya jahil.

Arif Maryata tertawa terbahak-bahak melihat umpan itu. "Mau dimarahin gara-gara undangan enggak diantar-antar yo, Kang Arzan? Hehe, taunya enggak bisa bawa motor!"

Arzan tak mau kalah, ia membongkar memori lama saat mereka pertama kali tour. "Masih ingat saja Kang Arif. Pas pertama tour, eh taunya ada yang takut pertama naik kapal!"

Suasana grup menjadi riuh oleh tawa digital. Mesiyanto hanya bisa membalas dengan deretan emotikon tawa dan haru 😁😆🥹, seolah-olah ia sedang tersipu mengenang ketakutannya pada ombak laut masa lalu yang mengocok perut.

Waktu bergulir, dan hajatan pun usai. Olinda Nani kembali hadir dengan perasaan lega yang membuncah. "Alhamdulillah berjalan lancar, terima kasih banyak Bapak/Ibu semua," ungkapnya tulus. Doa-doa baik pun kembali membanjiri grup. Sukijo dan Dewi kompak mengaminkan, menciptakan harmoni spiritual yang kental.

Menutup hari dengan penuh kehangatan, Mesiyanto akhirnya muncul dengan ajakan yang tak bisa ditolak. "Main ke Batara, Bos... Kita minum Figur!" ajaknya sembari menyisipkan emotikon tepuk tangan.

Persahabatan mereka memang seperti kopi di angkringan; hitam, pekat, terkadang pahit oleh kenangan masa lalu, namun selalu manis karena tawa yang tak pernah habis. Meski jarak Kalianda ke Batara terasa jauh, doa dan tawa mereka tetap tertambat erat dalam satu ikatan Al-Kautsar yang abadi.


Sunday, January 11, 2026

Agil, kekecewaan yang dingin

Minggu, 11 Januari 2026. Aspal Semarang siang itu terasa membara, memantulkan panas yang menjilat udara hingga tampak bergelombang. Di tengah kebisingan kota, Agil berdiri mematung di median jalan, tatapannya kosong sedalam sumur tua yang tak berdasar. Di sekelilingnya, deru mesin kendaraan terdengar seperti dengung lebah raksasa yang tak henti-henti menyiksa telinga.

Aroma asap knalpot yang pekat dan debu jalanan menyengat hidung, namun Agil seolah telah kehilangan seluruh indranya, kecuali satu: fokus pada deru mesin bus Trans Semarang yang mendekat.

Tiba-tiba, laksana bayangan yang lepas dari raga, Agil melangkah nekat. Pada percobaan pertama, tubuhnya hanya menyentuh lambung besi bus pertama yang melintas. Bunyi braakk logam beradu kain baju terdengar lirih di tengah hiruk-pikuk. Ia terpental kecil, kembali menepi ke median jalan seperti dedaunan kering yang tertiup angin sepoi. Namun, matanya tidak menunjukkan rasa sakit, hanya kekecewaan yang dingin.

Tak lama berselang, bus Trans Semarang kedua muncul dari kejauhan, membelah jalan dengan warna merahnya yang mencolok. Mesinnya menderu, getarannya terasa hingga ke telapak kaki Agil yang gemetar. Kali ini, Agil tidak ragu. Ia melompat, menabrakkan diri tepat ke moncong bus yang sedang melaju kencang.

Prannggg!

Suara kaca depan bus yang hancur berkeping-keping meledak di udara, suaranya tajam menyayat kesunyian sesaat. Serpihan kristal kaca berkilauan di bawah terik matahari sebelum jatuh berserakan di aspal hitam. Tubuh Agil terpental jauh, tergeletak diam seperti boneka perca yang talinya terputus.

Dunia seakan berhenti berputar. Bau sangit ban yang mengerem mendadak memenuhi atmosfer, bercampur dengan aroma amis yang mulai merayap pelan. Penumpang di dalam bus menjerit, sebuah simfoni ketakutan yang pecah seketika.

Hingga saat ini, motif di balik aksi nekat Agil masih menjadi misteri yang terkunci rapat. Rekaman CCTV telah diamankan, menjadi saksi bisu atas drama tragis di hari Minggu tersebut. Sementara Agil kini berjuang di antara hidup dan mati dalam dekapan dingin ruang medis, publik Semarang hanya bisa bertanya-tanya: beban apa yang begitu berat hingga membuat seseorang merasa aspal jalanan adalah tempat peraduan yang paling tepat?

Kasus ini kini berada dalam genggaman Unit Laka Lantas Polrestabes Semarang, menyisakan trauma mendalam bagi sang sopir dan kaca-kaca pecah yang menjadi nisan bagi sebuah keputusasaan. ***

Senin, 12 Januari 2026

 





Jejak Langkah dan Doa Para Pendidik

Di bawah langit Desember yang terkadang merayap dengan kabut tipis dan terkadang menyengat dengan matahari emas, para pendidik MTsN 1 Bandar Lampung menenun cerita masing-masing.

Bagi Rika, Abu, Dwi, Eko, Parindra, Mustafid, dan Dian Desvita, liburan kali ini bukanlah tentang rehat yang panjang. Mereka adalah para "pejuang literasi" di PPG Dalam Jabatan Batch 4. Di hadapan layar yang berpijar, jemari mereka menari, merangkai modul dan tugas, bergelut dengan waktu demi peningkatan kualitas diri. Semangat mereka setajam silet, membedah ilmu di tengah masa jeda sekolah.

Di sudut lain, aroma semen yang basah dan denting palu yang beradu menjadi nyanyian di rumah Heny KW yang sedang merenovasi kamar mandi. Sementara itu, Eti Kartika dan Laila Fasa memilih melabuhkan rindu di Masjid Al-Bakri yang megah; Laila bahkan melangkah lebih jauh menuju hembusan angin laut di Pulau Pasaran yang beraroma garam dan ikan asin.

Petualangan jarak jauh membawa Irta menembus dinginnya Tasikmalaya dan Bandung. Di sana, indra penglihatannya dimanjakan oleh hijaunya Orchid Forest Cikole dan magisnya Hutan Mycelia yang berpendar cahaya. Senada dengan itu, Pauziah merasakan hangatnya pelukan keluarga di Bogor dan Ciputat, menyaksikan momen sakral Khatam Kubro sang buah hati sebelum akhirnya terpesona oleh tarian ikan di SeaWorld Ancol.

Di tanah Sumatera, Bagus dan Hamidah pulang ke pelukan kota Palembang yang legendaris, sementara Mayona Chantika terbang ke Pekanbaru. Suara gelak tawa Mayona pecah saat bernyanyi karaoke, sebuah melodi kebahagiaan saat mendampingi orang tua. Di sisi lain, Belta menyesap rasa gurih otak-otak Kotaagung yang khas, dan Herman Edy memandang hamparan air di tambak udang Kalianda yang berkilau bak permata di bawah terik surya.

Namun, liburan tak selalu soal perjalanan jauh. Bagi Lailatush dan Apriyani, dunia seolah berputar lebih cepat karena serangan vertigo yang memaksa mereka untuk beristirahat dalam sunyi. Begitupun Sri Lestari dan Liza yang menemukan kedamaian dalam dinding rumah sendiri. Sri Hartini memilih menyambung tali asih dengan mengunjungi tetangga, sebuah langkah sederhana namun bermakna sedalam samudera.

Keseruan kota pun terasa di Mall Kartini dan Navara, tempat Tunah memanjakan diri dengan permainan mesin koin dan keriuhan Timezone. Sementara itu, Desrizal menyesap aroma kuah bakso kalong yang mengepul hangat, sebuah kenikmatan yang menggoyang lidah di tengah dinginnya udara sore.

Setiap langkah, baik yang jauh ke Jakarta seperti Hamidah maupun yang sekadar berolahraga di stadion seperti YR Widi, semuanya adalah benang-benang cerita yang beragam. Ada yang sibuk dengan urusan "ngunduh mantu" seperti Puspo di Liwa, ada yang mengantar ananda meraih mimpi di taman rusa seperti Laskmi, hingga Dahliyah yang pulang kampung untuk mengetuk pintu langit dengan kirim doa.

Kini, semua kepingan cerita itu—dari dinginnya Bandung hingga hangatnya kuah bakso di Bandar Lampung—telah menyatu kembali. Mereka membawa energi baru, siap untuk kembali menyemai ilmu di madrasah tercinta. ***

Jurnal Liburan Siswa

https://forms.gle/jPC3KBK2E3SNyKgMA

Pace Keong di Garis Tunggu

Layar ponsel itu tak berhenti berkedip, memuntahkan rentetan pesan yang berderit seperti mesin ketik tua. Di luar, mentari tanggal 8 Januari baru saja merangkak naik, namun di dalam grup WhatsApp "PMI Run", suasana sudah sepanas aspal siang hari. Suara notifikasi yang bertalu-talu seolah menjadi musik pembuka bagi ribuan pelari yang jiwanya sudah melesat ke garis finis, meski raga mereka masih tertahan di balik meja kerja.

"Ngambil BIB kapan ya?" sebuah pertanyaan meluncur, memicu gelombang tanya lainnya.

Admin grup, yang kesabarannya setebal sol sepatu lari, membalas dengan nada yang ditenangkan. Namun, keriuhan itu tak terbendung. Pertanyaan tentang ukuran jersey mulai berhamburan—membayangkan kain dry-fit yang memeluk tubuh, mencari angka yang pas agar tak nampak seperti karung saat dipotret fotografer lomba.

Di sudut lain percakapan, aroma gurih tiba-tiba merayap di antara obrolan teknis. Seseorang menyebut "Kapal Selam", dan seketika imajinasi kolektif berpindah ke mangkuk berisi pempek yang berenang dalam cuka hitam yang pedasnya menggigit lidah.

"Kapal selam aja dikunyah, apalagi kapal kecil!" seloroh seorang pelari asal Palembang, membuat suasana yang tadinya tegang karena urusan rute, menjadi serenyah kerupuk kemplang.

Namun, kekhawatiran tetap terselip. "Rutenya muter balik, apa enggak ada yang curang nanti?" tanya seorang peserta, cemas jika kejujuran luntur oleh ambisi. Di sisi lain, para pejuang jarak jauh dari Kotabumi, Metro, hingga Pringsewu mulai saling melempar sauh, mencari "barengan" agar aspal jalanan menuju Bandar Lampung tak terasa terlalu sunyi.

Lalu muncullah tawaran jastip pengambilan racepack. Lima belas ribu rupiah untuk sebuah kemudahan. Bagi sebagian orang, itu adalah setitik embun di padang pasir, namun bagi yang lain, itu hanyalah "ladang cuan" yang tipisnya mengalahkan selembar tisu.

"Jangan lupa siapin sepatu andalan dan kacamata," pesan seseorang mengingatkan. "Kita tampil sekeren mungkin!"

Seorang pelari wanita tersenyum getir melihat ponselnya. Di saat orang lain meributkan Pace 6—kecepatan yang sanggup membuat jantung berdegup seperti genderang perang—ia hanya mengetik pelan, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.

"Aku pace keong," tulisnya.

Biarlah mereka berlari seperti angin yang mengejar badai demi medali untuk seratus orang tercepat. Baginya, lari ini adalah tentang aroma peluh yang jujur, tawa yang pecah di rute putar balik, dan kebanggaan mengenakan nomor di dada—meski ia harus sampai ke garis finis saat panitia mulai melipat tenda.***

Kesejukan Udara Pagi

 Ahad pagi, 11 Januari 2026, fajar di Banyuanyar, Solo, merekah dengan warna jingga yang tenang, seolah langit sedang melukis sebuah janji. Pukul 03.35, saat embun masih betah memeluk dedaunan, Pak Tri Budi H telah merapalkan doa lewat ujung jemarinya. Sebuah pesan darinya mendarat di layar ponsel para sahabat, membawa kesejukan yang lebih dalam dari udara pagi.







"Allah hanya memberikan yang terbaik, meski kadang tak sesuai keinginan," tulisnya. Kalimat itu mengalir seperti air bening dari pegunungan, mengingatkan jiwa-jiwa yang lelah agar tidak perlu memaksa atau merasa terpaksa dalam menjalani takdir. Pesan itu ditutup dengan deretan emotikon bunga dan gandum yang bergoyang, sebuah metafora kesuburan hati yang pasrah kepada Sang Pencipta.

Seiring matahari yang semakin tinggi, sekitar pukul 08.23, suasana syahdu itu berubah menjadi aroma manis yang pekat. Pak Tri melangkah ke kebun belakang rumahnya. Di sana, sebatang pohon Mangga Kio Jay berdiri angkuh dengan dahan-dahan yang merunduk, keberatan beban.

Jemarinya menyentuh kulit mangga yang halus namun kencang—tanda buah itu telah matang sempurna di pohon. Saat dipetik, aroma harum yang segar langsung menyeruak, menggelitik indra penciuman. Tak tanggung-tanggung, salah satu buah raksasa itu mendarat di timbangan dengan angka yang fantastis: 1,632 kg. Beratnya seumpama sebuah janji yang terbayar lunas. Pak Tri tersenyum, membayangkan musim buah berikutnya akan jauh lebih lebat setelah ia memanjakan pohon itu dengan siraman pupuk Biometa yang berbau khas organik namun menjanjikan kehidupan.

Namun, waktu memang seperti roda yang terus berputar. Sore harinya, pukul 16.43, suasana berubah drastis. Langit Solo yang tadinya cerah kini bersalin rupa menjadi abu-abu tua yang muram. "Dino Minggu.. Ora nglencer... Neng ngomah ae," gumamnya dalam bahasa Jawa yang akrab. Hari Minggu ini ia memang memilih tidak bepergian, hanya ingin bercumbu dengan koleksi Aglonema kesayangannya.

Sensasi dingin mulai menusuk kulit saat rintik hujan turun satu per satu, kemudian berubah menjadi simfoni gemericik yang berisik di atas atap seng. Ia berdiri di teras, memandangi daun-daun Aglonema yang mengilap, kini menari-nari tertimpa air langit. Ada aroma tanah basah—petrichor—yang naik ke udara, menciptakan suasana magis yang menenangkan.

Meski hujan menghalangi rencananya bersantai di kebun lebih lama, Pak Tri tetap tenang. Ia teringat pesan subuhnya sendiri: Yakin sama takdir Allah. Di Banyuanyar sore itu, hujan bukan sekadar air, melainkan cara langit mencuci lelah dan menyirami harapan bagi tanaman-tanaman yang ia rawat dengan sepenuh hati.***