Tuesday, January 13, 2026

Ambisi di Bawah Langit Kelabu

 Pukul 16:47 petang, langit Bandar Lampung di atas Stadion Pahoman mulai merona kelabu, seolah menahan tangis. Udara basah merambat, mengantarkan aroma tanah kering yang sebentar lagi akan bertemu rintik. Lintasan sintetis yang tadinya ramai oleh tawa dan deru napas para pelari, kini berangsur sunyi. Seperti panggung yang baru usai, para "aktornya" satu per satu menyingkir, bayang-bayang mereka memudar ditelan sore. Husen, yang sejak tadi duduk menatap layar kameranya, merasakan getaran kecil di punggung tangannya; sinyal pertama dari sang hujan.



​Benar saja, rintik-rintik halus mulai menari di atas kepala, mencumbui rambutnya yang basah oleh keringat dan uap lembap. Bunyi "tik-tik-tik" tipis itu segera berubah menjadi gemuruh simfoni air. Hujan menderas, seolah tirai raksasa ditarik ke bawah, memisahkan dunia. Para penikmat senja di tribun bergegas mencari naungan, suara langkah-langkah panik mereka menciptakan irama khas di tengah riuhnya air. Stadion Pahoman, yang sebentar tadi hidup, kini serupa gua raksasa yang menelan suara.

​Namun, mata Husen tetap terpaku. Di sampingnya, Iqbal, teman seperjuangannya, juga sama khusyuknya, lensa tele menjulur panjang seperti moncong predator yang lapar. Mereka berdua, bagai penjaga kuil, menolak bergeming. Air hujan yang dingin menciprat pelan ke pipi Husen, mengirimkan sensasi geli namun menyegarkan. Tangannya yang cekatan tetap menari di atas tombol-tombol kamera, jemarinya terasa dingin namun yakin. Matanya, di balik viewfinder, bagai elang yang membidik mangsa, tak berkedip.

​"Lihat itu, Bal," bisik Husen, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Mereka menolak kalah."

​Di tengah guyuran hujan yang membuat lintasan berkilauan seperti cermin raksasa, masih ada beberapa jiwa gigih yang tak peduli. Siluet-siluet mereka, buram namun bersemangat, terus berlari, melahap setiap meter lintasan. Kemeja mereka menempel erat di tubuh, rambut basah meneteskan air, namun semangat mereka membakar. Husen bisa merasakan energi itu, seolah melompat dari lensa ke dalam sanubarinya.

​Klik! Klik! Suara tombol rana kamera Husen terdengar jelas, kontras dengan gemuruh hujan. Setiap bidikan adalah puisi tanpa kata, rekaman abadi tentang ambisi yang menolak padam. Bagi Husen, hujan bukan halangan, melainkan panggung. Sebuah panggung dramatis tempat kegigihan manusia diuji, dan ia, sang juru rekam, tak akan melewatkan satu pun adegan. Aroma tanah basah dan rumput segar menusuk indra penciumannya, membaur dengan kepuasan yang membuncah di dadanya. Di antara gerimis yang merayap dan genangan air yang memantulkan langit, Husen menemukan keindahan, sebuah tarian antara manusia dan elemen, yang hanya bisa ia abadikan lewat bingkai lensanya.

Monday, January 12, 2026

Semoga Lekas Sembuh, Pak Yusuf

Siang itu, udara di lingkungan MTsN 1 Bandar Lampung terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Kabar duka tentang kesehatan menyusup di sela-sela kesibukan ruang guru. Teman sejawat kami yang dikenal ceria, Pak M. Yusuf, kini harus terbaring lemah, bertarung melawan sakit di balik dinding putih Rumah Sakit Bintang Amin.



Di dalam Ruang Airan, tepatnya nomor 2502, suasana hening menyelimuti tubuh Pak Yusuf. Bau antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis peralatan medis menjadi musik latar yang dingin, sangat kontras dengan hangatnya tawa Pak Yusuf saat berada di sekolah. Namun, meski raga terpisah oleh jarak, untaian doa dari rekan-rekan kerja mengalir deras bak sungai yang menyejukkan.

Layar ponsel Pak Yusuf bergetar tanpa henti, membawa gelombang simpati yang mengharukan. Pak Muhaimin, wakil kepala bidang Humas, mengawali dengan pesan penuh takwa, memohon agar Allah SWT mengangkat penyakit beliau. Tak lama, Tunah, Anita, Dona, dan Rika menyahut dengan kalimat Syafakallah, menciptakan harmoni doa yang menggetarkan langit.

"Butuh proses waktu untuk kesembuhannya, perlu kesabaran dan memasrahkan kepada-Nya," tulis Ka TU Turyadi dengan bijak, seolah memberikan asupan kekuatan mental bagi Pak Yusuf. Sementara itu, Apriyani merindukan kehadiran beliau agar bisa segera aktif kembali mewarnai hari-hari di madrasah.

Di tengah rasa lemasnya, Pak Yusuf menyempatkan diri mengetik balasan singkat, "Makasih bapak ibu... semoga bisa segera disembuhkan." Kalimat sederhana itu terasa begitu menyentuh, seperti secercah cahaya kecil di tengah mendung yang menggelayut.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Allahumma Rabban-naas, adzhibil-ba’sa, isyfi antasy-syaafi, laa syifaa-a illa syifaa-uka, syifaa-an laa yughaadiru saqaman.”

"Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun."


Majas metafora cinta dan kesetiakawanan ini tergambar jelas saat satu per satu rekan, mulai dari Sri Hartini, Fefiyana, Mustafid, hingga M. Thoyib, memberikan amunisi spiritual. Mereka semua berharap agar raga Pak Yusuf segera pulih, sekuat sedia kala, agar tawa dan pengabdiannya kembali bergema di lorong-lorong sekolah.

Kami semua di sini, menunggu kepulanganmu dengan tangan terbuka dan doa yang tak terputus, Pak Yusuf. Semoga Allah segera memberikan kesembuhan yang sempurna. Aamiin.***


Jurnal Liburan Kelas 8I

Libur semester kali ini bagi siswa kelas 8I MTsN 1 Bandar Lampung layaknya sebuah pelangi yang tumpah di atas kanvas kehidupan. Setiap siswa melukis kenangannya dengan warna yang berbeda, namun semuanya bermuara pada satu rasa: kebahagiaan yang membuncah.

Aroma Laut dan Gemuruh Kembang Api

Di pesisir Lampung, Syfa memecah ombak di Pantai Klara. Wangi amis laut yang segar berpadu dengan aroma gurih ikan dan ayam yang dibakar di atas bara api. Ia menunggangi banana boat yang meliuk-liuk seperti naga laut, sementara di sisi lain, Nadhifa dan Salsabila menjadikan Kalianda sebagai pelabuhan tawa mereka. Di sana, dinginnya air kolam Waterworld menusuk pori-pori, sejuk seperti es serut di tengah terik matahari.

Kontras dengan riuhnya pantai, Anisa memilih "memeluk langit". Dari lantai 22 Grand Mercure, ia melihat kembang api meledak di angkasa bak jutaan permata yang tumpah di atas hamparan lampu kota Bandar Lampung. Bau nasi goreng hangat menemani malam tahun barunya yang mewah di balik jendela kaca yang dingin.

Jejak Langkah di Pegunungan dan Kota

Jauh di dataran tinggi, Khanza mendaki gunung di Liwa. Paru-parunya dimanjakan oleh oksigen murni yang beraroma daun pinus yang basah. Ia merasai dinginnya air sungai saat tangannya meraba batu-batu licin demi mencari keong. Sementara itu, Amira berkelana lebih jauh hingga ke Kawah Putih, Bandung. Bau belerang yang menyengat dan kabut putih yang tebal menyelimuti perjalanannya sebelum akhirnya pulang dan disambut oleh kenyalnya Bakso Soni yang legendaris di Lampung.

Kehangatan Rumah dan Gemerlap Mal

Bagi sebagian siswa, rumah adalah kuta yang paling nyaman. Naswya, Queen, dan Azzahra mengubah lelah menjadi berkah dengan membantu orang tua. Harum sabun cuci piring dan debu yang tersapu bersih menjadi saksi produktivitas mereka. Namun, Mal Kartini (Moka) tetap menjadi magnet yang tak terelakkan. Di dalam gedung bioskop yang dingin dan beraroma jagung berondong (popcorn), mereka terhanyut dalam kengerian film Janur Ireng atau kemegahan visual Avatar.

Di sudut lain kota, Nadia tampil anggun dalam balutan kebaya coklat, menjadi bridesmaid yang cantik dengan rambut curly yang tertata rapi. Aroma parfum yang manis dan es lemon tea yang segar menemani hari istimewanya. Sementara itu, Naila bersorak kegirangan di Way Halim karena berhasil menaklukkan mesin jepit dan membawa pulang boneka pisang yang empuk.

Penutup yang Manis

Liburan ini adalah simfoni rasa. Dari pedasnya petis rujak Shaqila di Metro, hingga manisnya susu cokelat Salsabila di villa pribadi. Meski raga mereka terpencar dari pegunungan Liwa hingga mal-mal di pusat kota, mereka dipersatukan oleh satu hal: semangat untuk kembali ke sekolah dengan tas yang penuh dengan cerita.

8I bukan sekadar kelas; mereka adalah sekumpulan pengelana yang baru saja pulang dari petualangan hebatnya masing-masing. ***

Roda berputar di atas lintasan waktu

 Kehidupan berjalan layaknya roda yang berputar di atas lintasan waktu; terkadang ia berada di puncak keemasan yang berkilau, namun di detik lain ia terperosok dalam palung duka yang kelam.

September 2025: Puncak Pencapaian

September itu ditutup dengan semerbak aroma kesuksesan yang harum. Di layar ponsel para alumni Bahasa Inggris ’92, nama Hasan Hariri berpendar dengan gelar baru: Profesor. Ucapan selamat mengalir deras bak air terjun dari Yohana Sriwahyuni, Hermanto, hingga Tumaji. Suasananya begitu hangat, sehangat teh yang disesap di sore hari.

"Masya Allah, Prof. Hasan... Selamat!" seru Betty, diiringi doa keberkahan dari Evi.

Hasan, dengan kerendahan hati seorang ilmuwan, menyahut santun. Ia bahkan sempat melempar tantangan manis kepada rekan-rekannya. "Ayo kapan S3 ke Unila? Kapan mampir ke FKIP?" tawarnya. Namun, Sadikan hanya membalas dengan tawa digital, menyadari betapa padatnya jadwal seorang profesor yang kini sesibuk lebah di musim bunga.

Oktober 2025: Mendung yang Tak Terduga

Namun, hidup tak selamanya berisi sorak-sorai. Di bulan berikutnya, suasana berubah drastis. Langit komunikasi yang tadinya cerah mendadak tertutup mendung kelabu. Evi, yang baru saja bercerita dengan penuh semangat tentang peluncuran cabang biro perjalanannya yang ke-109, tiba-tiba membawa kabar yang menghentak jantung.

Sebuah pesan masuk, dingin dan menyesakkan. Ayahanda tercinta, Indra Prayitno, telah berpulang. Bau bunga kamboja dan aroma tanah basah seolah menyusup masuk lewat barisan kata "Innalillahi". Winarno, Kasno, Suhaiban, hingga Ruso Buana serentak mengirimkan doa-doa tulus agar almarhum tenang di surga. Dunia Evi mendadak hening, hanya ada rintik duka yang membasahi sanubari.

Januari 2026: Kabar Baru dan Rahasia yang Tersingkap

Tahun berganti, Haryanto muncul dengan nomor baru, mencoba merajut kembali tali persahabatan yang sempat renggang oleh waktu. Ia bertanya tentang alamat kawan lama, Riyanto. Namun, jawaban yang ia terima seperti petir di siang bolong.

"Kotabumi, Ndan... Beliau sudah meninggalkan kita semua," sahut Tumaji dengan emotikon tangis 😭😭😭. Imanp dan Suhaiban mengonfirmasi berita pahit itu. Ternyata, Riyanto telah menjadi kenangan, tubuhnya kini menyatu dengan Bumi Ruwa Jurai. Suasana grup menjadi genting, beberapa rekan mulai keluar dari obrolan, membuat Suhaiban cemas. "Hasan, please don't leave!" pintanya, takut kehilangan sosok sang profesor di grup itu.

Di tengah kebingungan itu, Evi kembali muncul dengan napas yang lebih tenang namun penuh haru. Rahasia pedih itu akhirnya terungkap. Pesan duka yang dikirim saat itu ternyata dikirim oleh anaknya karena Evi sendiri sedang bergelut dengan luka yang terlalu dalam untuk diungkapkan: sang suami, belahan jiwanya, juga telah berpulang menyusul sang ayah.

"Terima kasih atas doa-doanya untuk almarhum suami... mohon maaf baru membalas, keadaan tidak sempat mengabarkan," tulis Evi dengan jemari yang kini mulai kembali tegar. Ia mencoba bangkit, menawarkan perjalanan umrah plus Turki—sebuah cara untuk menyalurkan duka menjadi pengabdian, mengajak kawan-kawannya menuju rumah Tuhan.

Tumaji hanya bisa membalas singkat, "Aamiin."

Malam itu di Bandar Lampung, angin bertiup perlahan. Mereka menyadari bahwa di antara gelit tawa pencapaian profesor dan kepedihan ditinggal orang tercinta, persahabatan mereka adalah dermaga terakhir tempat mereka saling bersandar, sebelum satu per satu dari mereka akhirnya benar-benar pulang ke haribaan-Nya.

Kisah ini mengajarkan bahwa setiap pertemuan adalah hadiah, karena kita tak pernah tahu siapa yang akan pergi lebih dulu. ***

Selamat Pagi
























 

Selamat Menjalani 42 tahun Kebersamaan