Friday, October 9, 2026

Memutus Rantai Keburukan

 Percakapan di sela seminar bersama Junaidi Jamsari



Pagi itu, di Hotel Azana, Jombang, saya mengikuti seminar tentang pondok pesantren rintisan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertemuan yang mempertemukan para peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dengan beragam gagasan mengenai masa depan pesantren dan pendidikan Islam.

Di ruang seminar, kami menyimak paparan narasumber, KH. Imam Jazuli, Lc., M.A., yang akrab disapa Kiai Imjaz. Sosok pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon ini dikenal melalui kiprahnya mengembangkan pesantren dengan pendekatan pendidikan modern, tanpa melepaskan akar tradisi keilmuan Islam.

Perjalanan pendidikannya membentang dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, hingga Universitas Al-Azhar di Mesir, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Universiti Malaya. Pengalaman itu memberi warna pada pandangannya mengenai pendidikan pesantren, terutama bagaimana lembaga tradisional dapat tumbuh menjadi institusi yang mampu menjawab tantangan zaman.

Nama Kiai Imjaz juga hadir dalam dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Ia dikenal lantang menyuarakan penguatan peran Syuriyah dan pengembalian NU pada khittahnya sebagai organisasi keulamaan. Dalam konteks Muktamar, gagasan tentang pesantren dan kepemimpinan ulama terasa saling berkelindan: keduanya berbicara tentang tanggung jawab menjaga tradisi sekaligus menyiapkan masa depan.

Saya menyimak seminar itu dengan pikiran yang sesekali melayang pada pengalaman pendidikan yang saya jalani. Pesantren bukan hanya tempat orang belajar membaca kitab atau mendalami ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren adalah ruang pembentukan watak, tempat kesabaran dilatih, adab ditumbuhkan, dan manusia belajar menempatkan ilmu di bawah tuntunan akhlak.

Namun, setiap gagasan besar selalu menyisakan pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana ilmu yang kita pelajari menjelma sikap? Bagaimana nilai-nilai agama yang kita dengar di ruang seminar hadir ketika kita menghadapi orang yang berbeda pendapat, menyakiti hati, atau melakukan kesalahan?

Pertanyaan itu belum sempat saya uraikan lebih jauh ketika sesi seminar memasuki waktu istirahat.

Peserta mulai beranjak dari kursi. Sebagian mencari minuman, sebagian berbincang dengan kawan lama, dan sebagian lain memanfaatkan jeda untuk menjalin silaturahmi. Saya pun mengambil kesempatan untuk berbincang dengan Junaidi Jamsari, yang saat itu sedang beristirahat setelah sebelumnya mengunjungi Pondok Pesantren Tebuireng.

Malam sebelumnya, saya mengikuti seminar di hotel yang sama. Pagi ini, di sela agenda masing-masing, kami dipertemukan kembali oleh kesempatan yang sederhana: duduk, berbincang, dan bertukar pikiran.

Saya, Winarno, berhadapan dengan Junaidi Jamsari. Percakapan kami kemudian bergerak dari suasana Muktamar menuju persoalan yang lebih luas, tetapi sangat dekat dengan kehidupan manusia: bagaimana memutus rantai keburukan.

Junaidi mengawali penuturannya dengan gambaran tentang zaman yang sedang kita jalani.

“Sekarang ini, rantai keburukan begitu mudah tersambung,” katanya. “Satu makian di media sosial dibalas dengan makian yang lebih keras. Satu kebohongan dibalas dengan kebohongan yang lebih besar. Satu umpatan dibalas dengan umpatan yang lebih banyak. Kebencian dibalas dendam.”

Saya menyimak. Di luar ruang seminar, orang-orang menikmati waktu istirahat mereka. Ada yang tertawa, ada yang sibuk memeriksa telepon genggam, ada pula yang tampak serius mendiskusikan materi sebelumnya. Barangkali, di antara mereka, ada yang baru saja menerima pesan menyakitkan. Atau mungkin ada yang masih menyimpan kemarahan dari percakapan yang belum selesai.

Betapa mudahnya keburukan menemukan jalan untuk berkembang. Ia seperti api kecil yang dilemparkan ke tumpukan daun kering. Satu percikan dapat menjelma kobaran besar ketika tidak ada yang berusaha memadamkannya.

“Padahal,” lanjut Junaidi, “ajaran Rasulullah SAW justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Tetapi kita selalu memiliki pilihan tentang bagaimana meresponsnya.”

Saya mengangguk pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pekerjaan batin yang tidak ringan. Kita sering merasa bahwa kemarahan kita adalah akibat dari perilaku orang lain. Kita marah karena dicaci, kecewa karena dikhianati, atau membenci karena merasa diperlakukan tidak adil. Seolah-olah orang lain memegang kendali atas hati kita.

Padahal, di antara perlakuan orang lain dan respons kita, ada ruang kecil bernama pilihan.

Dan di ruang itulah akhlak diuji.

Junaidi kemudian mengajak saya mengingat sebuah peristiwa dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Kota Thaif.

“Bayangkan, Pak Winarno, bagaimana perasaan Rasulullah ketika berada di Thaif,” tuturnya.

Saya mencoba membayangkannya.

Rasulullah SAW datang membawa risalah kebenaran. Beliau berharap manusia menerima petunjuk Allah, tetapi yang didapat justru penolakan, pengusiran, dan lemparan batu. Tubuh beliau terluka. Darah mengalir hingga membasahi kedua kaki dan terompahnya.

Dalam keadaan seperti itu, Malaikat penjaga gunung datang menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif.

Secara manusiawi, tawaran itu seolah menjadi kesempatan untuk membalas semua penderitaan. Orang-orang yang menyakiti dapat menerima hukuman yang setimpal. Bahkan, tidak ada yang dapat menyalahkan jika seseorang yang terluka ingin melihat orang yang melukainya mendapatkan balasan.

Namun, Rasulullah SAW memilih jalan yang berbeda.

Beliau justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.

Junaidi berhenti sejenak, memberi ruang bagi kisah itu untuk meresap.

“Manusia menyakiti beliau, tetapi luka itu tidak mengubah beliau menjadi penyakiti,” katanya.

Saya terdiam.

Ada sesuatu yang terasa menampar kesadaran saya. Betapa sering kita membiarkan satu perlakuan buruk mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Satu orang membuat kita kecewa, lalu kita menjadi mudah curiga kepada semua orang. Satu orang bersikap kasar, lalu kita merasa berhak bersikap kasar kepada siapa saja. Satu pengalaman menyakitkan membuat kita membangun tembok tinggi, bahkan terhadap orang-orang yang tidak pernah berbuat salah kepada kita.

Rasulullah SAW menunjukkan jalan yang berbeda. Beliau tidak membiarkan keburukan orang lain menentukan keburukan dalam diri beliau.

Beliau memutus rantai itu.

Bukan dengan membalas luka, melainkan dengan mendoakan kebaikan.

Percakapan kami berlanjut. Junaidi mengangkat kisah lain yang tidak kalah menarik: seorang Arab Badui yang masuk ke Masjid Nabawi, kemudian buang air kecil di salah satu sudut masjid.

Saya dapat membayangkan kegemparan yang terjadi. Masjid adalah tempat suci untuk beribadah. Tindakan itu tentu mengundang kemarahan para sahabat. Beberapa di antara mereka bahkan hendak menghentikan orang tersebut dengan keras.

Namun, Rasulullah SAW segera mencegah mereka.

Beliau memerintahkan agar orang itu dibiarkan menyelesaikan hajatnya, kemudian bekasnya dibersihkan dengan air. Rasulullah juga mengajarkan bahwa mereka diutus untuk memberi kemudahan, bukan untuk mempersulit.

“Lihatlah,” kata Junaidi, “Rasulullah tidak membenarkan kesalahannya. Namun, beliau juga tidak membiarkan kesalahan itu menjadi alasan untuk meluapkan amarah tanpa kendali.”

Saya kembali merenung.

Ternyata, bersikap lembut tidak sama dengan membenarkan kesalahan. Memaafkan bukan berarti menganggap pelanggaran sebagai sesuatu yang wajar. Menegur tetap diperlukan, aturan tetap harus ditegakkan, dan kesalahan tetap perlu diperbaiki. Namun, semua itu dapat dilakukan tanpa merendahkan martabat manusia.

Betapa sering kita ingin memperbaiki perilaku seseorang dengan cara yang justru melukai harga dirinya.

Kita menegur anak dengan kata-kata yang membekas hingga dewasa. Kita memarahi bawahan di depan orang banyak. Kita menghardik seseorang yang belum memahami sesuatu, seolah-olah ketidaktahuannya merupakan dosa yang tak terampuni.

Padahal, bisa jadi yang dibutuhkan orang itu bukan bentakan, melainkan penjelasan. Bukan penghinaan, melainkan kesempatan untuk belajar.

Saya teringat kehidupan sehari-hari di sekolah. Sebagai seorang guru, saya tentu pernah berhadapan dengan siswa yang sulit diatur, pekerjaan yang tidak selesai, atau perilaku yang menguji kesabaran. Dalam keadaan lelah, suara kadang meninggi sebelum pikiran sempat menimbang kata-kata.

Di rumah pun demikian. Tekanan pekerjaan yang dibawa pulang dapat berubah menjadi wajah muram, suara ketus, atau kesabaran yang menipis di hadapan keluarga.

Tanpa sadar, keburukan yang kita terima di satu tempat dapat kita pindahkan ke tempat lain. Kita dimarahi seseorang di tempat kerja, lalu melampiaskan kejengkelan kepada keluarga. Kita kecewa kepada orang dewasa, lalu memperlakukan anak-anak dengan keras. Kita terluka oleh perkataan seseorang, kemudian melukai orang lain yang sama sekali tidak mengetahui persoalannya.

Rantai itu terus bergerak, kecuali ada seseorang yang bersedia menghentikannya.

Junaidi kemudian membawa percakapan kami menuju peristiwa yang lebih besar: Fathu Makkah, pembebasan Kota Makkah.

“Di situlah kita melihat keluhuran akhlak Rasulullah secara luar biasa,” ujarnya.

Orang-orang Quraisy yang dahulu menentang, mengusir, dan memerangi Rasulullah kini berada dalam posisi yang lemah. Kekuasaan telah berbalik. Mereka yang dahulu memiliki kesempatan untuk menyakiti kini harus menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang yang pernah mereka sakiti.

Jika dendam menjadi ukuran, saat itu merupakan kesempatan untuk membalas semuanya. Luka lama dapat dibuka kembali. Penghinaan masa lalu dapat dihitung satu per satu. Hukuman dapat dijatuhkan sebagai jawaban atas sejarah panjang permusuhan.

Namun, Rasulullah SAW memilih jalan pengampunan.

Junaidi menjelaskan bahwa Rasulullah memberikan pengampunan kepada kaum Quraisy yang telah lama memusuhi beliau. Dalam riwayat yang masyhur, beliau menyampaikan pesan bahwa mereka tidak akan dicela atau dihukum atas masa lalu mereka.

Pengampunan itu bukan tanda kelemahan. Justru, ketika memiliki kemampuan untuk membalas, beliau memilih tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat pelampiasan dendam.

Saya membayangkan betapa beratnya pilihan itu. Memaafkan ketika tidak berdaya mungkin terasa sebagai satu-satunya jalan. Namun, memaafkan ketika kita memiliki kekuatan untuk membalas menuntut kebesaran jiwa yang jauh lebih tinggi.

Di situlah perbedaan antara sekadar mampu mengalahkan orang lain dan mampu menaklukkan diri sendiri.

“Kita sering merasa menang ketika berhasil membalas,” kata Junaidi. “Padahal, kemenangan yang lebih besar adalah ketika kita mampu menguasai diri dan tidak ikut menjadi bagian dari keburukan itu.”

Saya memandangi cangkir kopi di hadapan saya. Uapnya telah menipis. Percakapan di ruang seminar masih berlangsung, tetapi pikiran saya seperti berjalan lebih jauh dari tempat kami duduk.

Berapa banyak hubungan yang rusak karena masing-masing pihak ingin menjadi orang terakhir yang berbicara? Berapa banyak persahabatan yang berakhir karena tidak ada yang bersedia menurunkan nada suara? Berapa banyak keluarga yang kehilangan kehangatan karena setiap orang merasa harus membuktikan bahwa dirinya paling benar?

Kadang-kadang, sebuah pertengkaran tidak berhenti bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena kedua belah pihak sama-sama enggan menjadi orang pertama yang mengalah.

Padahal, mengalah tidak selalu berarti kalah. Diam tidak selalu berarti tidak mampu menjawab. Memaafkan tidak selalu berarti tidak memiliki keberanian.

Ada kalanya, semua itu merupakan bentuk kemenangan yang tidak membutuhkan tepuk tangan.

Junaidi lalu mengingatkan saya pada firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 34, yang mengajarkan agar kejahatan dibalas dengan cara yang lebih baik.

Ia juga menyampaikan hadis Rasulullah SAW tentang kekuatan sejati. Orang kuat bukanlah semata-mata orang yang mampu mengalahkan lawannya dalam pergulatan, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

“Menjadi pemutus rantai keburukan memang berat, Pak Winarno,” tuturnya. “Hawa nafsu kita selalu ingin membalas. Kalau dicaci, kita ingin mencaci lebih keras. Kalau disakiti, kita ingin membuat orang itu merasakan sakit yang sama, bahkan lebih besar.”

Saya tersenyum tipis. Ada kejujuran dalam kalimat itu. Menahan amarah memang tidak semudah menyarankannya kepada orang lain. Kita bisa dengan lancar menasihati seseorang agar bersabar, tetapi belum tentu mampu melakukannya ketika diri sendiri yang dihina.

Kita mudah berbicara tentang memaafkan selama luka itu bukan milik kita.

Karena itulah, akhlak bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam ingatan. Akhlak adalah pelajaran yang harus diuji ketika emosi meninggi, harga diri terasa direndahkan, dan kesempatan membalas terbuka lebar.

Pada saat itulah kita mengetahui apakah ajaran yang kita dengar telah benar-benar masuk ke dalam hati atau baru berhenti di telinga.

Saya membayangkan sebuah rantai panjang. Mata rantainya berupa kata-kata kasar, prasangka, dendam, dan tindakan menyakitkan. Seseorang menerima satu mata rantai, kemudian menyambungkannya kepada orang lain. Orang berikutnya melakukan hal yang sama. Lama-kelamaan, rantai itu membentang begitu jauh, mengikat banyak orang yang bahkan tidak mengetahui dari mana keburukan itu bermula.

Lalu, bagaimana jika seseorang memutusnya?

Ia mungkin harus menahan sakit sendirian. Ia mungkin dituduh lemah. Ia mungkin dianggap tidak berani melawan. Namun, ketika ia memilih tidak meneruskan keburukan, setidaknya satu mata rantai tidak lagi tersambung.

Dan mungkin, dari satu keputusan kecil itulah, sebuah perubahan besar dimulai.

Suasana ruang seminar mulai berubah. Beberapa peserta kembali ke tempat duduk masing-masing. Panitia memberi tanda bahwa sesi berikutnya akan segera dimulai.

Namun, bagi saya, percakapan bersama Junaidi Jamsari belum benar-benar selesai. Ada kalimat-kalimat yang masih tertinggal di kepala, seperti gema yang terus terdengar meskipun sumber suaranya telah menjauh.

Saya berpikir tentang orang-orang yang akan saya temui setelah meninggalkan hotel ini: keluarga di rumah, rekan kerja di sekolah, siswa-siswa yang setiap hari belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sikap gurunya.

Mereka tidak selalu mengetahui masalah yang sedang saya hadapi. Mereka tidak tahu apakah saya sedang kecewa, lelah, atau menyimpan persoalan yang belum terselesaikan. Mereka hanya akan merasakan bagaimana saya memperlakukan mereka.

Maka, bukankah tidak adil jika mereka harus menanggung luka yang bukan mereka sebabkan?

Junaidi seakan menegaskan kembali inti pembicaraan kami.

“Kalau ada kebencian datang kepada kita, berhentilah di kita. Jangan diteruskan kepada istri, anak-anak, pegawai, atau orang-orang di sekitar kita. Jangan biarkan luka yang kita terima mengubah kita menjadi pelaku luka yang baru.”

Saya mengangguk lebih mantap kali ini.

Kalimat itu terasa seperti pesan yang perlu saya bawa pulang, bukan sekadar catatan dari sebuah seminar. Saya ingin mengingatnya ketika suara meninggi, ketika kesabaran mulai menipis, atau ketika ada perkataan orang lain yang terasa menusuk hati.

Barangkali, saya tidak selalu berhasil. Saya tetap manusia yang dapat keliru, marah, dan kecewa. Namun, setidaknya saya bisa belajar untuk berhenti sejenak sebelum membalas. Memberi kesempatan kepada akal sehat untuk berbicara sebelum amarah mengambil alih. Bertanya kepada diri sendiri: apakah kata-kata yang hendak saya ucapkan akan memperbaiki keadaan, atau justru menambah luka baru?

Sebab, tidak semua hal yang mampu kita ucapkan harus kita katakan. Tidak semua hal yang mampu kita balas harus kita balas.

Ada kalanya, menjaga lisan merupakan bentuk keberanian. Ada kalanya, menahan amarah adalah kemenangan. Dan ada kalanya, memaafkan merupakan cara paling bijaksana untuk menjaga agar keburukan tidak menemukan korban berikutnya.

Jeda seminar di Hotel Azana hari itu akhirnya usai. Kami bersiap kembali mengikuti rangkaian kegiatan. Saya meninggalkan percakapan itu dengan satu pemahaman yang terasa sederhana, tetapi menuntut latihan seumur hidup.

Memutus rantai keburukan harus dimulai dari diri sendiri.

Bukan menunggu orang lain berubah terlebih dahulu. Bukan pula menunggu dunia menjadi lebih ramah. Kita dapat memulainya dari respons terhadap sebuah pesan yang menyakitkan, dari teguran yang disampaikan dengan santun, dari kesediaan mendengarkan, atau dari keputusan untuk tidak membalas penghinaan dengan penghinaan.

Mungkin kita tidak mampu menghentikan seluruh keburukan di dunia. Namun, kita dapat memastikan bahwa keburukan yang sampai kepada kita tidak selalu menemukan jalan untuk diteruskan.

Saya teringat kembali kepada Rasulullah SAW di Thaif, kepada kesabaran beliau menghadapi seorang Badui di Masjid Nabawi, dan kepada kelapangan hati beliau ketika memasuki Makkah.

Ketiganya mengajarkan hal yang sama: manusia boleh menyakiti kita, tetapi kita tidak harus membiarkan rasa sakit itu menentukan siapa diri kita selanjutnya.

Di antara keburukan yang datang dan keburukan yang mungkin kita teruskan, selalu ada kesempatan untuk memilih.

Semoga Allah SWT membimbing saya, Winarno, dan kita semua agar mampu menjadi manusia yang lebih adil, lebih lembut, lebih sabar, serta lebih bijaksana dalam memperlakukan sesama.

Sebab, barangkali salah satu warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan bukanlah seberapa banyak orang yang pernah kita kalahkan, melainkan seberapa banyak keburukan yang berhasil kita hentikan agar tidak diwariskan kepada orang lain.

Dan jika suatu hari seseorang bertanya di mana rantai keburukan itu berakhir, semoga jawabannya sederhana:

Di tangan kita. Di hati kita. Di keputusan kita untuk tidak meneruskannya.

No comments: