Sunday, January 11, 2026

Agil, kekecewaan yang dingin

Minggu, 11 Januari 2026. Aspal Semarang siang itu terasa membara, memantulkan panas yang menjilat udara hingga tampak bergelombang. Di tengah kebisingan kota, Agil berdiri mematung di median jalan, tatapannya kosong sedalam sumur tua yang tak berdasar. Di sekelilingnya, deru mesin kendaraan terdengar seperti dengung lebah raksasa yang tak henti-henti menyiksa telinga.

Aroma asap knalpot yang pekat dan debu jalanan menyengat hidung, namun Agil seolah telah kehilangan seluruh indranya, kecuali satu: fokus pada deru mesin bus Trans Semarang yang mendekat.

Tiba-tiba, laksana bayangan yang lepas dari raga, Agil melangkah nekat. Pada percobaan pertama, tubuhnya hanya menyentuh lambung besi bus pertama yang melintas. Bunyi braakk logam beradu kain baju terdengar lirih di tengah hiruk-pikuk. Ia terpental kecil, kembali menepi ke median jalan seperti dedaunan kering yang tertiup angin sepoi. Namun, matanya tidak menunjukkan rasa sakit, hanya kekecewaan yang dingin.

Tak lama berselang, bus Trans Semarang kedua muncul dari kejauhan, membelah jalan dengan warna merahnya yang mencolok. Mesinnya menderu, getarannya terasa hingga ke telapak kaki Agil yang gemetar. Kali ini, Agil tidak ragu. Ia melompat, menabrakkan diri tepat ke moncong bus yang sedang melaju kencang.

Prannggg!

Suara kaca depan bus yang hancur berkeping-keping meledak di udara, suaranya tajam menyayat kesunyian sesaat. Serpihan kristal kaca berkilauan di bawah terik matahari sebelum jatuh berserakan di aspal hitam. Tubuh Agil terpental jauh, tergeletak diam seperti boneka perca yang talinya terputus.

Dunia seakan berhenti berputar. Bau sangit ban yang mengerem mendadak memenuhi atmosfer, bercampur dengan aroma amis yang mulai merayap pelan. Penumpang di dalam bus menjerit, sebuah simfoni ketakutan yang pecah seketika.

Hingga saat ini, motif di balik aksi nekat Agil masih menjadi misteri yang terkunci rapat. Rekaman CCTV telah diamankan, menjadi saksi bisu atas drama tragis di hari Minggu tersebut. Sementara Agil kini berjuang di antara hidup dan mati dalam dekapan dingin ruang medis, publik Semarang hanya bisa bertanya-tanya: beban apa yang begitu berat hingga membuat seseorang merasa aspal jalanan adalah tempat peraduan yang paling tepat?

Kasus ini kini berada dalam genggaman Unit Laka Lantas Polrestabes Semarang, menyisakan trauma mendalam bagi sang sopir dan kaca-kaca pecah yang menjadi nisan bagi sebuah keputusasaan. ***

Senin, 12 Januari 2026

 





Jejak Langkah dan Doa Para Pendidik

Di bawah langit Desember yang terkadang merayap dengan kabut tipis dan terkadang menyengat dengan matahari emas, para pendidik MTsN 1 Bandar Lampung menenun cerita masing-masing.

Bagi Rika, Abu, Dwi, Eko, Parindra, Mustafid, dan Dian Desvita, liburan kali ini bukanlah tentang rehat yang panjang. Mereka adalah para "pejuang literasi" di PPG Dalam Jabatan Batch 4. Di hadapan layar yang berpijar, jemari mereka menari, merangkai modul dan tugas, bergelut dengan waktu demi peningkatan kualitas diri. Semangat mereka setajam silet, membedah ilmu di tengah masa jeda sekolah.

Di sudut lain, aroma semen yang basah dan denting palu yang beradu menjadi nyanyian di rumah Heny KW yang sedang merenovasi kamar mandi. Sementara itu, Eti Kartika dan Laila Fasa memilih melabuhkan rindu di Masjid Al-Bakri yang megah; Laila bahkan melangkah lebih jauh menuju hembusan angin laut di Pulau Pasaran yang beraroma garam dan ikan asin.

Petualangan jarak jauh membawa Irta menembus dinginnya Tasikmalaya dan Bandung. Di sana, indra penglihatannya dimanjakan oleh hijaunya Orchid Forest Cikole dan magisnya Hutan Mycelia yang berpendar cahaya. Senada dengan itu, Pauziah merasakan hangatnya pelukan keluarga di Bogor dan Ciputat, menyaksikan momen sakral Khatam Kubro sang buah hati sebelum akhirnya terpesona oleh tarian ikan di SeaWorld Ancol.

Di tanah Sumatera, Bagus dan Hamidah pulang ke pelukan kota Palembang yang legendaris, sementara Mayona Chantika terbang ke Pekanbaru. Suara gelak tawa Mayona pecah saat bernyanyi karaoke, sebuah melodi kebahagiaan saat mendampingi orang tua. Di sisi lain, Belta menyesap rasa gurih otak-otak Kotaagung yang khas, dan Herman Edy memandang hamparan air di tambak udang Kalianda yang berkilau bak permata di bawah terik surya.

Namun, liburan tak selalu soal perjalanan jauh. Bagi Lailatush dan Apriyani, dunia seolah berputar lebih cepat karena serangan vertigo yang memaksa mereka untuk beristirahat dalam sunyi. Begitupun Sri Lestari dan Liza yang menemukan kedamaian dalam dinding rumah sendiri. Sri Hartini memilih menyambung tali asih dengan mengunjungi tetangga, sebuah langkah sederhana namun bermakna sedalam samudera.

Keseruan kota pun terasa di Mall Kartini dan Navara, tempat Tunah memanjakan diri dengan permainan mesin koin dan keriuhan Timezone. Sementara itu, Desrizal menyesap aroma kuah bakso kalong yang mengepul hangat, sebuah kenikmatan yang menggoyang lidah di tengah dinginnya udara sore.

Setiap langkah, baik yang jauh ke Jakarta seperti Hamidah maupun yang sekadar berolahraga di stadion seperti YR Widi, semuanya adalah benang-benang cerita yang beragam. Ada yang sibuk dengan urusan "ngunduh mantu" seperti Puspo di Liwa, ada yang mengantar ananda meraih mimpi di taman rusa seperti Laskmi, hingga Dahliyah yang pulang kampung untuk mengetuk pintu langit dengan kirim doa.

Kini, semua kepingan cerita itu—dari dinginnya Bandung hingga hangatnya kuah bakso di Bandar Lampung—telah menyatu kembali. Mereka membawa energi baru, siap untuk kembali menyemai ilmu di madrasah tercinta. ***

Jurnal Liburan Siswa

https://forms.gle/jPC3KBK2E3SNyKgMA

Pace Keong di Garis Tunggu

Layar ponsel itu tak berhenti berkedip, memuntahkan rentetan pesan yang berderit seperti mesin ketik tua. Di luar, mentari tanggal 8 Januari baru saja merangkak naik, namun di dalam grup WhatsApp "PMI Run", suasana sudah sepanas aspal siang hari. Suara notifikasi yang bertalu-talu seolah menjadi musik pembuka bagi ribuan pelari yang jiwanya sudah melesat ke garis finis, meski raga mereka masih tertahan di balik meja kerja.

"Ngambil BIB kapan ya?" sebuah pertanyaan meluncur, memicu gelombang tanya lainnya.

Admin grup, yang kesabarannya setebal sol sepatu lari, membalas dengan nada yang ditenangkan. Namun, keriuhan itu tak terbendung. Pertanyaan tentang ukuran jersey mulai berhamburan—membayangkan kain dry-fit yang memeluk tubuh, mencari angka yang pas agar tak nampak seperti karung saat dipotret fotografer lomba.

Di sudut lain percakapan, aroma gurih tiba-tiba merayap di antara obrolan teknis. Seseorang menyebut "Kapal Selam", dan seketika imajinasi kolektif berpindah ke mangkuk berisi pempek yang berenang dalam cuka hitam yang pedasnya menggigit lidah.

"Kapal selam aja dikunyah, apalagi kapal kecil!" seloroh seorang pelari asal Palembang, membuat suasana yang tadinya tegang karena urusan rute, menjadi serenyah kerupuk kemplang.

Namun, kekhawatiran tetap terselip. "Rutenya muter balik, apa enggak ada yang curang nanti?" tanya seorang peserta, cemas jika kejujuran luntur oleh ambisi. Di sisi lain, para pejuang jarak jauh dari Kotabumi, Metro, hingga Pringsewu mulai saling melempar sauh, mencari "barengan" agar aspal jalanan menuju Bandar Lampung tak terasa terlalu sunyi.

Lalu muncullah tawaran jastip pengambilan racepack. Lima belas ribu rupiah untuk sebuah kemudahan. Bagi sebagian orang, itu adalah setitik embun di padang pasir, namun bagi yang lain, itu hanyalah "ladang cuan" yang tipisnya mengalahkan selembar tisu.

"Jangan lupa siapin sepatu andalan dan kacamata," pesan seseorang mengingatkan. "Kita tampil sekeren mungkin!"

Seorang pelari wanita tersenyum getir melihat ponselnya. Di saat orang lain meributkan Pace 6—kecepatan yang sanggup membuat jantung berdegup seperti genderang perang—ia hanya mengetik pelan, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.

"Aku pace keong," tulisnya.

Biarlah mereka berlari seperti angin yang mengejar badai demi medali untuk seratus orang tercepat. Baginya, lari ini adalah tentang aroma peluh yang jujur, tawa yang pecah di rute putar balik, dan kebanggaan mengenakan nomor di dada—meski ia harus sampai ke garis finis saat panitia mulai melipat tenda.***

Kesejukan Udara Pagi

 Ahad pagi, 11 Januari 2026, fajar di Banyuanyar, Solo, merekah dengan warna jingga yang tenang, seolah langit sedang melukis sebuah janji. Pukul 03.35, saat embun masih betah memeluk dedaunan, Pak Tri Budi H telah merapalkan doa lewat ujung jemarinya. Sebuah pesan darinya mendarat di layar ponsel para sahabat, membawa kesejukan yang lebih dalam dari udara pagi.







"Allah hanya memberikan yang terbaik, meski kadang tak sesuai keinginan," tulisnya. Kalimat itu mengalir seperti air bening dari pegunungan, mengingatkan jiwa-jiwa yang lelah agar tidak perlu memaksa atau merasa terpaksa dalam menjalani takdir. Pesan itu ditutup dengan deretan emotikon bunga dan gandum yang bergoyang, sebuah metafora kesuburan hati yang pasrah kepada Sang Pencipta.

Seiring matahari yang semakin tinggi, sekitar pukul 08.23, suasana syahdu itu berubah menjadi aroma manis yang pekat. Pak Tri melangkah ke kebun belakang rumahnya. Di sana, sebatang pohon Mangga Kio Jay berdiri angkuh dengan dahan-dahan yang merunduk, keberatan beban.

Jemarinya menyentuh kulit mangga yang halus namun kencang—tanda buah itu telah matang sempurna di pohon. Saat dipetik, aroma harum yang segar langsung menyeruak, menggelitik indra penciuman. Tak tanggung-tanggung, salah satu buah raksasa itu mendarat di timbangan dengan angka yang fantastis: 1,632 kg. Beratnya seumpama sebuah janji yang terbayar lunas. Pak Tri tersenyum, membayangkan musim buah berikutnya akan jauh lebih lebat setelah ia memanjakan pohon itu dengan siraman pupuk Biometa yang berbau khas organik namun menjanjikan kehidupan.

Namun, waktu memang seperti roda yang terus berputar. Sore harinya, pukul 16.43, suasana berubah drastis. Langit Solo yang tadinya cerah kini bersalin rupa menjadi abu-abu tua yang muram. "Dino Minggu.. Ora nglencer... Neng ngomah ae," gumamnya dalam bahasa Jawa yang akrab. Hari Minggu ini ia memang memilih tidak bepergian, hanya ingin bercumbu dengan koleksi Aglonema kesayangannya.

Sensasi dingin mulai menusuk kulit saat rintik hujan turun satu per satu, kemudian berubah menjadi simfoni gemericik yang berisik di atas atap seng. Ia berdiri di teras, memandangi daun-daun Aglonema yang mengilap, kini menari-nari tertimpa air langit. Ada aroma tanah basah—petrichor—yang naik ke udara, menciptakan suasana magis yang menenangkan.

Meski hujan menghalangi rencananya bersantai di kebun lebih lama, Pak Tri tetap tenang. Ia teringat pesan subuhnya sendiri: Yakin sama takdir Allah. Di Banyuanyar sore itu, hujan bukan sekadar air, melainkan cara langit mencuci lelah dan menyirami harapan bagi tanaman-tanaman yang ia rawat dengan sepenuh hati.***

Doa Menuju Langit

 Di sebuah negeri yang percaya bahwa setiap doa memiliki jalannya sendiri menuju langit, jalur ibadah haji justru dikelola oleh tangan-tangan manusia bumi yang gemar bermain angka. Kisah ini dimulai dengan desas-desus, bisikan dari balik tirai yang tebal, tentang uang seratus miliar yang tiba-tiba "menemukan jalan pulang" ke kas negara. Seolah uang panas itu punya kompas moralnya sendiri, tahu di mana harus kembali setelah tersesat di labirin korupsi.

Yani, dengan kerudung sederhana dan mata yang selalu memancarkan harapan, sudah puluhan tahun menanti gilirannya. Setiap subuh, setelah salat, ia selalu melafalkan doa yang sama, "Ya Allah, panggillah hamba ke rumah-Mu." Antrean panjang itu seperti bayangan tak berujung, membentang dari masa muda hingga rambutnya kini memutih. Bau minyak angin cap tawon selalu menemaninya, menghalau dingin dan kegelisahan.

Di sisi lain, Husen, seorang "broker" yang lihai, bergerak di balik meja-meja mewah dengan aroma kopi robusta yang pekat. Jari-jarinya yang cekatan lincah menekan angka di kalkulator, menghitung untung-rugi dari setiap kuota haji yang berhasil ia "amankan". Bagi Husen, ibadah haji adalah bisnis, sebuah komoditas mahal yang bisa diperjualbelikan dengan label "percepatan". Tawa renyahnya seringkali terdengar saat ia berhasil meloloskan kliennya tanpa harus mengantre bertahun-tahun.

Pada Jumat, 9 Januari 2026, berita itu menggelegar seperti petir di siang bolong. KPK mengumumkan pengembalian Rp100 miliar. Angka itu, kata juru bicara KPK, Budi Prasetyo, hanyalah "permulaan". Sebuah imbauan tersirat yang menusuk telinga para pelaku, "silakan yang lain menyusul." Publik mulai sadar, uang korupsi di negeri ini bukan hanya dicuri, tapi juga bisa dikembalikan, asalkan "pintunya tidak ditutup rapat".

KPK memang masih pelit bicara, mulut mereka terkunci rapat seperti kotak pandora. Tapi satu kata kunci sempat terlontar, "uang percepatan". Sebuah frasa yang membuat Yani mengernyitkan dahi. Percepatan? Apakah ada jalur khusus menuju Baitullah yang tidak diumumkan di papan informasi? Apakah ada pintu rahasia yang hanya terbuka bagi mereka yang punya "uang percepatan"? Aroma ketidakadilan mulai menyengat, menusuk hidung Yani yang selama ini hanya mencium bau dupa dan kembang melati dari sajadah tuanya.

Nama-nama besar pun mulai disebut. Mantan Menteri Agama yang karismatik dan mantan Staf Khususnya, ditetapkan sebagai tersangka. Tapi sampai hari itu, mereka belum juga ditahan. Entah hukum sedang bersantai, atau sel tahanan juga ikut mengantre haji reguler.

Cerita ini bermula dari kuota tambahan yang diberikan Arab Saudi, sebuah anugerah yang seharusnya menjadi berkah. Aturan mainnya jelas, 92 persen untuk haji reguler, sisanya untuk haji khusus. Tapi di tangan para "pendekar administrasi", angka itu dipelintir, dipelintir hingga menjadi 50:50, seolah sedang membagi warisan sambil berpura-pura adil. Separuh untuk rakyat jelata dengan antrean belasan tahun, separuh lagi untuk ladang bisnis yang menggiurkan.

Husen tersenyum simpul saat mengingat rapat-rapat rahasia dengan asosiasi travel. Lobi-lobi sengit, bisikan-bisikan manis, semua demi kuota lebih banyak. Semakin besar travel, semakin besar jatah, semakin deras pula aliran "komitmen". Bagi Husen, komitmen adalah kata sandi, sebuah jembatan emas menuju keuntungan berlipat ganda. Hitungan awal KPK menunjukkan kerugian negara lebih dari Rp1 triliun. Angka itu membuat pengembalian Rp100 miliar terasa seperti uang receh, bukan pengembalian dosa.

Yang membuat Yani tercenung adalah imbauan resmi KPK. PIHK dan biro travel diminta kooperatif, termasuk mengembalikan uang. Bahasa halusnya, "ayo kita rapikan dulu uangnya, urusan siapa salah siapa benar nanti kita diskusikan sambil minum air putih." Secara hukum, pengembalian uang memang tak menghapus pidana. Tapi secara psikologis, ini memberi ilusi, seolah korupsi bisa dicicil, asalkan sopan dan tepat waktu.

Yani menghela napas panjang. Ia hanya tahu nomor antreannya tak bergerak, sementara sebagian orang melesat dengan boarding pass mahal hasil "uang percepatan". Ibadah pun berubah rupa, dari rukun Islam menjadi simulasi ekonomi, dari soal niat menjadi soal koneksi. Perjalanan suci itu kini terasa seperti pasar, di mana harga dan lobi lebih berkuasa daripada ketulusan.

Pada akhirnya, kasus kuota haji ini bukan sekadar cerita korupsi, tapi sebuah dongeng modern tentang bagaimana surga bisa diberi jalur cepat, bagaimana angka bisa lebih sakti dari doa, dan bagaimana Rp1 triliun bisa menguap hingga yang kembali hanya Rp100 miliar. Di negeri ini, bahkan perjalanan ke Tanah Suci pun harus melewati calo, asosiasi, dan matematika ajaib ala birokrasi.

Yani hanya bisa meneguk air putihnya, terasa pahit di lidah. Ia memandang langit senja, berharap doanya tetap didengar, terlepas dari segala keruwetan dunia. Ia masih percaya, ada keadilan yang lebih tinggi dari pengadilan manusia, sebuah keadilan yang tak bisa dibeli dengan "uang percepatan".

Berikut adalah ilustrasi untuk cerita ini:


Saturday, January 10, 2026

Car free day; Bandar lampung, 11-1-2026

Minggu, 11 Januari 2026. Suara alarm pukul 04.00 pagi itu terdengar seperti komando bagi Yani dan Husen. Di tengah kantuk yang masih menggelayut, Husen berbisik pelan, "Ayo, Yan, niat karena Allah. Kita ke Al Bakri hari ini." Yani mengangguk setuju sambil segera bersiap.

Pukul 04.20, mobil mereka meluncur membelah jalanan kota yang masih tertidur lelap. Sesampainya di Masjid Al Bakri pukul 04.38, mereka langsung bergabung dalam barisan jamaah. Usai shalat, mereka menyimak kajian bertajuk "Niat".

"Tadi ustadz bilang, niat itu mesinnya amal ya, Mas," bisik Yani saat mereka berjalan menuju parkiran usai kajian.

Husen tersenyum, "Iya, kalau niatnya geser sedikit saja, capeknya kita hari ini nggak jadi pahala. Makanya, pagi ini kita niatkan sehat untuk ibadah."

Menembus Kabut di Rute Jantung Kota

Saat keluar dari area masjid, pandangan mereka terhalang putihnya kabut. Matahari sama sekali tidak terlihat. "Wah, kabutnya tebal sekali, Mas. Serasa bukan di kota ya?" ujar Yani takjub.

Pukul 06.48, mereka mulai melakukan lari pagi dengan rute yang cukup menantang. Langkah kaki mereka stabil menapak di aspal Jl. Raden Intan, kemudian berbelok menyusuri Jl. Ahmad Yani. Napas mereka mulai teratur saat melintasi Jl. Suprapto dan akhirnya menutup rute di Jl. Jenderal Sudirman. Total jarak 2,5 km berhasil mereka tempuh dengan penuh semangat.


Realita di Booth RS Beleza

Sesampainya di area Tugu Adipura, mereka menghampiri layanan cek kesehatan dari RS Beleza. Setelah menunggu giliran, seorang petugas medis menyerahkan secarik kertas hasil pemeriksaan.

"Gimana hasilnya, Mas?" tanya Yani penasaran.

Husen menghela napas panjang, "Tensi darah kita berdua sih normal, Yan. Tapi ini lihat... kolesterol, gula darah sesaat, dan asam urat kita ternyata cukup tinggi."

Yani tertegun sejenak melihat angka-angka itu. "Wah, sepertinya ini 'alarm' kedua buat kita setelah alarm jam 4 tadi. Harus benar-benar jaga pola makan setelah ini," gumamnya.

Meski sempat tertegun dengan hasil medis, mereka tetap melanjutkan aktivitas dengan mengikuti senam bersama. Di sela-sela gerakan senam, mereka kembali berjumpa dengan beberapa siswa yang menyapa dengan takzim. "Tetap semangat ya, Pak, Bu!" seru salah satu siswa yang membuat Yani dan Husen kembali tersenyum.


Sarapan yang Menjadi Catatan di Raja Ketupat

Rasa lapar membawa mereka ke kedai Raja Ketupat di area Enggal. Aroma sayur pakis yang khas seolah menggoda niat mereka untuk mulai berdiet.

"Aku mau kupat sayur pakis, toppingnya telor saja deh, Mas," pesan Yani, kali ini sedikit lebih menahan diri mengingat hasil cek tadi.

Husen melihat ke arah stan sebelah dengan ragu, "Aku pesan sate padang dan martabak juga buat kita bagi dua, tapi ini yang terakhir ya kita 'pesta' begini. Besok-besok harus lebih ketat pilih menu."

Sambil menikmati sajian kupat yang hangat dan gurih, mereka berbincang tentang komitmen untuk lebih rajin berolahraga. Tepat pukul 08.12, Husen melirik jam tangannya. "Sudah jam delapan lewat, yuk kita pulang."

Mereka pun meninggalkan kawasan Enggal. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda; ada rasa segar di badan, ketenangan di hati, dan sebuah resolusi baru untuk hidup lebih sehat.














Friday, January 9, 2026

Pembelajaran Berbasis Ekoteologi & KBC

Silabus ini dirancang untuk jenjang Madrasah dengan pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam).

Unit Pembelajaran

Fokus Utama (KBC)

Integrasi Ekoteologi (Nilai Islami & Alam)

1. Aku dan Sang Pencipta

Membangun rasa syukur dan cinta kepada Allah.

Memahami alam sebagai "Ayat Kauniyah" (tanda kebesaran Allah).

2. Etika Berinteraksi

Empati dan kasih sayang antar sesama teman.

Adab terhadap makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) sebagai sesama ciptaan.

3. Literasi Hijau

Berpikir kritis terhadap isu lingkungan sekitar.

Konsep Khalifah fil Ardh (Manusia sebagai penjaga bumi).

4. Aksi Cinta Bumi

Tanggung jawab dan kemandirian.

Praktik nyata: Pengelolaan sampah, menanam pohon, dan hemat air.


Rencana Aksi (Action Plan) Implementasi 30 Hari

Langkah-langkah praktis untuk mentransformasi madrasah Anda:

Tahap 1: Penanaman Akar (Minggu 1)

  • Workshop Guru: Menyamakan persepsi bahwa mengajar adalah ibadah dan bentuk cinta (KBC).

  • Audit Lingkungan: Mengajak siswa mengamati kondisi kebersihan dan kenyamanan madrasah.

  • Pembentukan "Duta Cinta Alam": Memilih perwakilan siswa sebagai penggerak ekoteologi di tiap kelas.

Tahap 2: Penyemaian Benih (Minggu 2 - 3)

  • Injeksi Kurikulum: Memasukkan nilai ekoteologi ke dalam RPP (misalnya: Belajar matematika dengan menghitung jumlah bibit tanaman).

  • Pojok Literasi Ekoteologi: Menyediakan buku-buku atau artikel tentang Islam dan lingkungan hidup.

  • Jumat Bersih & Berkah: Gerakan membersihkan lingkungan madrasah yang diiringi dengan refleksi spiritual (dzikir alam).

Tahap 3: Pemekaran Bunga (Minggu 4)

  • Gelar Karya Ekoprint/Daur Ulang: Pameran hasil karya siswa dari bahan alam atau barang bekas.

  • Refleksi Deep Learning: Siswa menulis surat atau jurnal tentang apa yang mereka rasakan saat merawat lingkungan (menilai aspek afektif).

  • Deklarasi Madrasah Ramah Lingkungan: Komitmen bersama seluruh warga madrasah untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.


Catatan Penting (Ekoteologi):

"Bumi adalah masjid bagi kita semua. Merawatnya bukan sekadar aksi sosial, melainkan bentuk sujud kita kepada Sang Pencipta."


Strategi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Agar pembelajaran ini meresap ke sanubari siswa, gunakan teknik 3P:

  1. Pertanyaan Pemantik: "Bagaimana perasaanmu jika pohon yang kau tanam ini bisa berbicara saat ia kehausan?"

  2. Pengalaman Langsung: Jangan hanya teori di kelas; bawa siswa keluar untuk menyentuh tanah dan mencium bau daun.

  3. Perayaan: Berikan apresiasi sekecil apa pun terhadap perubahan perilaku siswa yang mulai peduli pada kebersihan dan sesama.