Sunday, January 11, 2026

Pace Keong di Garis Tunggu

Layar ponsel itu tak berhenti berkedip, memuntahkan rentetan pesan yang berderit seperti mesin ketik tua. Di luar, mentari tanggal 8 Januari baru saja merangkak naik, namun di dalam grup WhatsApp "PMI Run", suasana sudah sepanas aspal siang hari. Suara notifikasi yang bertalu-talu seolah menjadi musik pembuka bagi ribuan pelari yang jiwanya sudah melesat ke garis finis, meski raga mereka masih tertahan di balik meja kerja.

"Ngambil BIB kapan ya?" sebuah pertanyaan meluncur, memicu gelombang tanya lainnya.

Admin grup, yang kesabarannya setebal sol sepatu lari, membalas dengan nada yang ditenangkan. Namun, keriuhan itu tak terbendung. Pertanyaan tentang ukuran jersey mulai berhamburan—membayangkan kain dry-fit yang memeluk tubuh, mencari angka yang pas agar tak nampak seperti karung saat dipotret fotografer lomba.

Di sudut lain percakapan, aroma gurih tiba-tiba merayap di antara obrolan teknis. Seseorang menyebut "Kapal Selam", dan seketika imajinasi kolektif berpindah ke mangkuk berisi pempek yang berenang dalam cuka hitam yang pedasnya menggigit lidah.

"Kapal selam aja dikunyah, apalagi kapal kecil!" seloroh seorang pelari asal Palembang, membuat suasana yang tadinya tegang karena urusan rute, menjadi serenyah kerupuk kemplang.

Namun, kekhawatiran tetap terselip. "Rutenya muter balik, apa enggak ada yang curang nanti?" tanya seorang peserta, cemas jika kejujuran luntur oleh ambisi. Di sisi lain, para pejuang jarak jauh dari Kotabumi, Metro, hingga Pringsewu mulai saling melempar sauh, mencari "barengan" agar aspal jalanan menuju Bandar Lampung tak terasa terlalu sunyi.

Lalu muncullah tawaran jastip pengambilan racepack. Lima belas ribu rupiah untuk sebuah kemudahan. Bagi sebagian orang, itu adalah setitik embun di padang pasir, namun bagi yang lain, itu hanyalah "ladang cuan" yang tipisnya mengalahkan selembar tisu.

"Jangan lupa siapin sepatu andalan dan kacamata," pesan seseorang mengingatkan. "Kita tampil sekeren mungkin!"

Seorang pelari wanita tersenyum getir melihat ponselnya. Di saat orang lain meributkan Pace 6—kecepatan yang sanggup membuat jantung berdegup seperti genderang perang—ia hanya mengetik pelan, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.

"Aku pace keong," tulisnya.

Biarlah mereka berlari seperti angin yang mengejar badai demi medali untuk seratus orang tercepat. Baginya, lari ini adalah tentang aroma peluh yang jujur, tawa yang pecah di rute putar balik, dan kebanggaan mengenakan nomor di dada—meski ia harus sampai ke garis finis saat panitia mulai melipat tenda.***

Kesejukan Udara Pagi

 Ahad pagi, 11 Januari 2026, fajar di Banyuanyar, Solo, merekah dengan warna jingga yang tenang, seolah langit sedang melukis sebuah janji. Pukul 03.35, saat embun masih betah memeluk dedaunan, Pak Tri Budi H telah merapalkan doa lewat ujung jemarinya. Sebuah pesan darinya mendarat di layar ponsel para sahabat, membawa kesejukan yang lebih dalam dari udara pagi.







"Allah hanya memberikan yang terbaik, meski kadang tak sesuai keinginan," tulisnya. Kalimat itu mengalir seperti air bening dari pegunungan, mengingatkan jiwa-jiwa yang lelah agar tidak perlu memaksa atau merasa terpaksa dalam menjalani takdir. Pesan itu ditutup dengan deretan emotikon bunga dan gandum yang bergoyang, sebuah metafora kesuburan hati yang pasrah kepada Sang Pencipta.

Seiring matahari yang semakin tinggi, sekitar pukul 08.23, suasana syahdu itu berubah menjadi aroma manis yang pekat. Pak Tri melangkah ke kebun belakang rumahnya. Di sana, sebatang pohon Mangga Kio Jay berdiri angkuh dengan dahan-dahan yang merunduk, keberatan beban.

Jemarinya menyentuh kulit mangga yang halus namun kencang—tanda buah itu telah matang sempurna di pohon. Saat dipetik, aroma harum yang segar langsung menyeruak, menggelitik indra penciuman. Tak tanggung-tanggung, salah satu buah raksasa itu mendarat di timbangan dengan angka yang fantastis: 1,632 kg. Beratnya seumpama sebuah janji yang terbayar lunas. Pak Tri tersenyum, membayangkan musim buah berikutnya akan jauh lebih lebat setelah ia memanjakan pohon itu dengan siraman pupuk Biometa yang berbau khas organik namun menjanjikan kehidupan.

Namun, waktu memang seperti roda yang terus berputar. Sore harinya, pukul 16.43, suasana berubah drastis. Langit Solo yang tadinya cerah kini bersalin rupa menjadi abu-abu tua yang muram. "Dino Minggu.. Ora nglencer... Neng ngomah ae," gumamnya dalam bahasa Jawa yang akrab. Hari Minggu ini ia memang memilih tidak bepergian, hanya ingin bercumbu dengan koleksi Aglonema kesayangannya.

Sensasi dingin mulai menusuk kulit saat rintik hujan turun satu per satu, kemudian berubah menjadi simfoni gemericik yang berisik di atas atap seng. Ia berdiri di teras, memandangi daun-daun Aglonema yang mengilap, kini menari-nari tertimpa air langit. Ada aroma tanah basah—petrichor—yang naik ke udara, menciptakan suasana magis yang menenangkan.

Meski hujan menghalangi rencananya bersantai di kebun lebih lama, Pak Tri tetap tenang. Ia teringat pesan subuhnya sendiri: Yakin sama takdir Allah. Di Banyuanyar sore itu, hujan bukan sekadar air, melainkan cara langit mencuci lelah dan menyirami harapan bagi tanaman-tanaman yang ia rawat dengan sepenuh hati.***

Doa Menuju Langit

 Di sebuah negeri yang percaya bahwa setiap doa memiliki jalannya sendiri menuju langit, jalur ibadah haji justru dikelola oleh tangan-tangan manusia bumi yang gemar bermain angka. Kisah ini dimulai dengan desas-desus, bisikan dari balik tirai yang tebal, tentang uang seratus miliar yang tiba-tiba "menemukan jalan pulang" ke kas negara. Seolah uang panas itu punya kompas moralnya sendiri, tahu di mana harus kembali setelah tersesat di labirin korupsi.

Yani, dengan kerudung sederhana dan mata yang selalu memancarkan harapan, sudah puluhan tahun menanti gilirannya. Setiap subuh, setelah salat, ia selalu melafalkan doa yang sama, "Ya Allah, panggillah hamba ke rumah-Mu." Antrean panjang itu seperti bayangan tak berujung, membentang dari masa muda hingga rambutnya kini memutih. Bau minyak angin cap tawon selalu menemaninya, menghalau dingin dan kegelisahan.

Di sisi lain, Husen, seorang "broker" yang lihai, bergerak di balik meja-meja mewah dengan aroma kopi robusta yang pekat. Jari-jarinya yang cekatan lincah menekan angka di kalkulator, menghitung untung-rugi dari setiap kuota haji yang berhasil ia "amankan". Bagi Husen, ibadah haji adalah bisnis, sebuah komoditas mahal yang bisa diperjualbelikan dengan label "percepatan". Tawa renyahnya seringkali terdengar saat ia berhasil meloloskan kliennya tanpa harus mengantre bertahun-tahun.

Pada Jumat, 9 Januari 2026, berita itu menggelegar seperti petir di siang bolong. KPK mengumumkan pengembalian Rp100 miliar. Angka itu, kata juru bicara KPK, Budi Prasetyo, hanyalah "permulaan". Sebuah imbauan tersirat yang menusuk telinga para pelaku, "silakan yang lain menyusul." Publik mulai sadar, uang korupsi di negeri ini bukan hanya dicuri, tapi juga bisa dikembalikan, asalkan "pintunya tidak ditutup rapat".

KPK memang masih pelit bicara, mulut mereka terkunci rapat seperti kotak pandora. Tapi satu kata kunci sempat terlontar, "uang percepatan". Sebuah frasa yang membuat Yani mengernyitkan dahi. Percepatan? Apakah ada jalur khusus menuju Baitullah yang tidak diumumkan di papan informasi? Apakah ada pintu rahasia yang hanya terbuka bagi mereka yang punya "uang percepatan"? Aroma ketidakadilan mulai menyengat, menusuk hidung Yani yang selama ini hanya mencium bau dupa dan kembang melati dari sajadah tuanya.

Nama-nama besar pun mulai disebut. Mantan Menteri Agama yang karismatik dan mantan Staf Khususnya, ditetapkan sebagai tersangka. Tapi sampai hari itu, mereka belum juga ditahan. Entah hukum sedang bersantai, atau sel tahanan juga ikut mengantre haji reguler.

Cerita ini bermula dari kuota tambahan yang diberikan Arab Saudi, sebuah anugerah yang seharusnya menjadi berkah. Aturan mainnya jelas, 92 persen untuk haji reguler, sisanya untuk haji khusus. Tapi di tangan para "pendekar administrasi", angka itu dipelintir, dipelintir hingga menjadi 50:50, seolah sedang membagi warisan sambil berpura-pura adil. Separuh untuk rakyat jelata dengan antrean belasan tahun, separuh lagi untuk ladang bisnis yang menggiurkan.

Husen tersenyum simpul saat mengingat rapat-rapat rahasia dengan asosiasi travel. Lobi-lobi sengit, bisikan-bisikan manis, semua demi kuota lebih banyak. Semakin besar travel, semakin besar jatah, semakin deras pula aliran "komitmen". Bagi Husen, komitmen adalah kata sandi, sebuah jembatan emas menuju keuntungan berlipat ganda. Hitungan awal KPK menunjukkan kerugian negara lebih dari Rp1 triliun. Angka itu membuat pengembalian Rp100 miliar terasa seperti uang receh, bukan pengembalian dosa.

Yang membuat Yani tercenung adalah imbauan resmi KPK. PIHK dan biro travel diminta kooperatif, termasuk mengembalikan uang. Bahasa halusnya, "ayo kita rapikan dulu uangnya, urusan siapa salah siapa benar nanti kita diskusikan sambil minum air putih." Secara hukum, pengembalian uang memang tak menghapus pidana. Tapi secara psikologis, ini memberi ilusi, seolah korupsi bisa dicicil, asalkan sopan dan tepat waktu.

Yani menghela napas panjang. Ia hanya tahu nomor antreannya tak bergerak, sementara sebagian orang melesat dengan boarding pass mahal hasil "uang percepatan". Ibadah pun berubah rupa, dari rukun Islam menjadi simulasi ekonomi, dari soal niat menjadi soal koneksi. Perjalanan suci itu kini terasa seperti pasar, di mana harga dan lobi lebih berkuasa daripada ketulusan.

Pada akhirnya, kasus kuota haji ini bukan sekadar cerita korupsi, tapi sebuah dongeng modern tentang bagaimana surga bisa diberi jalur cepat, bagaimana angka bisa lebih sakti dari doa, dan bagaimana Rp1 triliun bisa menguap hingga yang kembali hanya Rp100 miliar. Di negeri ini, bahkan perjalanan ke Tanah Suci pun harus melewati calo, asosiasi, dan matematika ajaib ala birokrasi.

Yani hanya bisa meneguk air putihnya, terasa pahit di lidah. Ia memandang langit senja, berharap doanya tetap didengar, terlepas dari segala keruwetan dunia. Ia masih percaya, ada keadilan yang lebih tinggi dari pengadilan manusia, sebuah keadilan yang tak bisa dibeli dengan "uang percepatan".

Berikut adalah ilustrasi untuk cerita ini:


Friday, January 9, 2026

Pembelajaran Berbasis Ekoteologi & KBC

Silabus ini dirancang untuk jenjang Madrasah dengan pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam).

Unit Pembelajaran

Fokus Utama (KBC)

Integrasi Ekoteologi (Nilai Islami & Alam)

1. Aku dan Sang Pencipta

Membangun rasa syukur dan cinta kepada Allah.

Memahami alam sebagai "Ayat Kauniyah" (tanda kebesaran Allah).

2. Etika Berinteraksi

Empati dan kasih sayang antar sesama teman.

Adab terhadap makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) sebagai sesama ciptaan.

3. Literasi Hijau

Berpikir kritis terhadap isu lingkungan sekitar.

Konsep Khalifah fil Ardh (Manusia sebagai penjaga bumi).

4. Aksi Cinta Bumi

Tanggung jawab dan kemandirian.

Praktik nyata: Pengelolaan sampah, menanam pohon, dan hemat air.


Rencana Aksi (Action Plan) Implementasi 30 Hari

Langkah-langkah praktis untuk mentransformasi madrasah Anda:

Tahap 1: Penanaman Akar (Minggu 1)

  • Workshop Guru: Menyamakan persepsi bahwa mengajar adalah ibadah dan bentuk cinta (KBC).

  • Audit Lingkungan: Mengajak siswa mengamati kondisi kebersihan dan kenyamanan madrasah.

  • Pembentukan "Duta Cinta Alam": Memilih perwakilan siswa sebagai penggerak ekoteologi di tiap kelas.

Tahap 2: Penyemaian Benih (Minggu 2 - 3)

  • Injeksi Kurikulum: Memasukkan nilai ekoteologi ke dalam RPP (misalnya: Belajar matematika dengan menghitung jumlah bibit tanaman).

  • Pojok Literasi Ekoteologi: Menyediakan buku-buku atau artikel tentang Islam dan lingkungan hidup.

  • Jumat Bersih & Berkah: Gerakan membersihkan lingkungan madrasah yang diiringi dengan refleksi spiritual (dzikir alam).

Tahap 3: Pemekaran Bunga (Minggu 4)

  • Gelar Karya Ekoprint/Daur Ulang: Pameran hasil karya siswa dari bahan alam atau barang bekas.

  • Refleksi Deep Learning: Siswa menulis surat atau jurnal tentang apa yang mereka rasakan saat merawat lingkungan (menilai aspek afektif).

  • Deklarasi Madrasah Ramah Lingkungan: Komitmen bersama seluruh warga madrasah untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.


Catatan Penting (Ekoteologi):

"Bumi adalah masjid bagi kita semua. Merawatnya bukan sekadar aksi sosial, melainkan bentuk sujud kita kepada Sang Pencipta."


Strategi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Agar pembelajaran ini meresap ke sanubari siswa, gunakan teknik 3P:

  1. Pertanyaan Pemantik: "Bagaimana perasaanmu jika pohon yang kau tanam ini bisa berbicara saat ia kehausan?"

  2. Pengalaman Langsung: Jangan hanya teori di kelas; bawa siswa keluar untuk menyentuh tanah dan mencium bau daun.

  3. Perayaan: Berikan apresiasi sekecil apa pun terhadap perubahan perilaku siswa yang mulai peduli pada kebersihan dan sesama.




Review Questions

Part 1: General Information (The Basics)

 1. Where did you spend your last semester break?

 2. How long was your holiday?

3. Who did you spend your holiday with?

4. Did you stay at home or go to a specific place (like a beach or a village)?

5. What was the weather like during your holiday in Bandar Lampung?

Part 2: Activities and Experiences (Past Tense Practice)

6. What was the first thing you did when the holiday started?

7. Did you visit any tourist attractions in Lampung (e.g., Pahawang, Mutun, or Lembah Hijau)?

8. What was the most interesting activity you did during the break?

9. Did you help your parents with housework? What did you do?

10. Did you attend any family gatherings or weddings? 

11. Did you celebrate New Year’s Eve? How did you celebrate it?

12. What was the most delicious food you ate during the holiday?

13. Did you try to cook something new at home?

14. How many books did you read or movies did you watch?

15. Did you go to the cinema or a mall in Bandar Lampung?

Part 3: Feelings and Reflections (Adjectives and Opinions)

16. How did you feel when the holiday finally began?

17. Were you bored at any point during the break? Why?

18. What was the happiest moment of your holiday?

19. Was there anything disappointing that happened?

20. How would you describe your holiday in three adjectives? (e.g., "Fun, relaxing, and short").

21. What did you miss most about MTsN 1 Bandar Lampung during the break?

Part 4: Personal Growth and Habits

22. Did you wake up late every day, or did you keep your school routine?

23. Did you practice your English at all during the holiday? (Reading captions, listening to songs, etc.)

24. Did you learn a new skill or hobby during the weeks off?

25. How much time did you spend on social media each day?

26. Did you do any exercise or sports to stay healthy?

Part 5: Looking Forward (Future Tense / Goals)

27. Are you ready to start the second semester? Why or why not?

28. What is your main goal for English class in this new semester?

29. Is there any topic in English that you want to understand better this year?

30. How will you manage your time better in this semester compared to the last one?

31. What is one thing you want to change about your study habits?

32. If you could have one more week of holiday, what would you do?

****

Saran Penggunaan:

 * Speaking Task: Siswa bisa saling mewawancarai teman sebangku menggunakan daftar pertanyaan ini.

 * Writing Task: Pilih 5-10 pertanyaan untuk dijawab dalam bentuk paragraf naratif pendek (Recount Text).

 * Class Discussion: Guru memilih beberapa pertanyaan secara acak untuk dijawab siswa di depan kelas guna melatih kepercayaan diri.

Semoga pertanyaan refleksi ini bermanfaat untuk mengawali semester genap dengan semangat baru!


Wednesday, January 7, 2026

Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP) Elemen: Menulis – Mempresentasikan

Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP)

Elemen: Menulis – Mempresentasikan

1. Menyusun Teks Mandiri (Struktur dan Genre)

  • IKTP 1.1: Siswa mampu menyusun draf teks Recount (pengalaman pribadi) yang koheren dengan struktur lengkap (Orientation, Events, Re-orientation).

  • IKTP 1.2: Siswa mampu menulis teks Narrative pendek (fabel atau legenda) dengan alur cerita yang memiliki konflik (Complication) dan penyelesaian (Resolution).

  • IKTP 1.3: Siswa mampu membuat teks prosedur sederhana (misal: how to make something) dengan urutan langkah-langkah yang logis.

2. Penggunaan Tata Bahasa dan Kosakata (Linguistik)

  • IKTP 2.1: Siswa mampu menggunakan Simple Past Tense (kata kerja bentuk kedua) secara akurat dalam menulis teks tentang masa lalu.

  • IKTP 2.2: Siswa mampu menggunakan kata penghubung waktu (conjunctions of time) seperti first, then, after that, finally untuk menjaga alur tulisan.

  • IKTP 2.3: Siswa mampu menunjukkan ketepatan dalam penggunaan ejaan (spelling), tanda baca (punctuation), dan huruf kapital.

3. Mempresentasikan Ide (Visual & Lisan)

  • IKTP 3.1: Siswa mampu memvisualisasikan teks yang mereka tulis ke dalam media kreatif (seperti poster, komik strip, atau slide presentasi).

  • IKTP 3.2: Siswa mampu mempresentasikan hasil tulisan mereka di depan kelas dengan suara yang lantang dan bahasa tubuh yang percaya diri.

  • IKTP 3.3: Siswa mampu merespons pertanyaan dari audiens terkait karya atau presentasi yang mereka sajikan.


Contoh Tugas Proyek (Asesmen Sumatif):

Tugas: "My Unforgettable Memory Poster"

  1. Menulis: Siswa menulis cerita pendek tentang pengalaman tak terlupakan (3 paragraf).

  2. Mendesain: Siswa memindahkan tulisan tersebut ke dalam sebuah poster dan menghiasnya dengan gambar/foto yang relevan.

  3. Mempresentasikan: Siswa berdiri di depan kelas menceritakan poster tersebut tanpa membaca teks secara terus-menerus.


Tabel Checklist Penilaian Menulis (Writing Checklist)

NoKriteria PenilaianYaTidakCatatan
1Apakah teks memiliki judul yang menarik?
2Apakah terdapat pengenalan tokoh, tempat, dan waktu?
3Apakah peristiwa diceritakan secara urut?
4Apakah semua kata kerja menggunakan Verb 2?
5Apakah penggunaan huruf kapital dan titik sudah benar?

Ringkasan Seluruh Kompetensi Kelas 8

Dengan ini, Anda telah memiliki indikator untuk tiga elemen utama:

  1. Menyimak – Berbicara: Fokus pada komunikasi lisan dan pemahaman audio.

  2. Membaca – Memirsa: Fokus pada analisis teks tertulis dan pesan visual.

  3. Menulis – Mempresentasikan: Fokus pada produksi teks dan penyajian karya.