Pukul 16:47 petang, langit Bandar Lampung di atas Stadion Pahoman mulai merona kelabu, seolah menahan tangis. Udara basah merambat, mengantarkan aroma tanah kering yang sebentar lagi akan bertemu rintik. Lintasan sintetis yang tadinya ramai oleh tawa dan deru napas para pelari, kini berangsur sunyi. Seperti panggung yang baru usai, para "aktornya" satu per satu menyingkir, bayang-bayang mereka memudar ditelan sore. Husen, yang sejak tadi duduk menatap layar kameranya, merasakan getaran kecil di punggung tangannya; sinyal pertama dari sang hujan.
Benar saja, rintik-rintik halus mulai menari di atas kepala, mencumbui rambutnya yang basah oleh keringat dan uap lembap. Bunyi "tik-tik-tik" tipis itu segera berubah menjadi gemuruh simfoni air. Hujan menderas, seolah tirai raksasa ditarik ke bawah, memisahkan dunia. Para penikmat senja di tribun bergegas mencari naungan, suara langkah-langkah panik mereka menciptakan irama khas di tengah riuhnya air. Stadion Pahoman, yang sebentar tadi hidup, kini serupa gua raksasa yang menelan suara.
Namun, mata Husen tetap terpaku. Di sampingnya, Iqbal, teman seperjuangannya, juga sama khusyuknya, lensa tele menjulur panjang seperti moncong predator yang lapar. Mereka berdua, bagai penjaga kuil, menolak bergeming. Air hujan yang dingin menciprat pelan ke pipi Husen, mengirimkan sensasi geli namun menyegarkan. Tangannya yang cekatan tetap menari di atas tombol-tombol kamera, jemarinya terasa dingin namun yakin. Matanya, di balik viewfinder, bagai elang yang membidik mangsa, tak berkedip.
"Lihat itu, Bal," bisik Husen, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Mereka menolak kalah."
Di tengah guyuran hujan yang membuat lintasan berkilauan seperti cermin raksasa, masih ada beberapa jiwa gigih yang tak peduli. Siluet-siluet mereka, buram namun bersemangat, terus berlari, melahap setiap meter lintasan. Kemeja mereka menempel erat di tubuh, rambut basah meneteskan air, namun semangat mereka membakar. Husen bisa merasakan energi itu, seolah melompat dari lensa ke dalam sanubarinya.
Klik! Klik! Suara tombol rana kamera Husen terdengar jelas, kontras dengan gemuruh hujan. Setiap bidikan adalah puisi tanpa kata, rekaman abadi tentang ambisi yang menolak padam. Bagi Husen, hujan bukan halangan, melainkan panggung. Sebuah panggung dramatis tempat kegigihan manusia diuji, dan ia, sang juru rekam, tak akan melewatkan satu pun adegan. Aroma tanah basah dan rumput segar menusuk indra penciumannya, membaur dengan kepuasan yang membuncah di dadanya. Di antara gerimis yang merayap dan genangan air yang memantulkan langit, Husen menemukan keindahan, sebuah tarian antara manusia dan elemen, yang hanya bisa ia abadikan lewat bingkai lensanya.

















































