Tuesday, January 6, 2026

Aktivitas Liburan Siswa Kelas 8I

| Nama | Lokasi | Aktivitas Utama | Catatan Menarik |

|---|---|---|---|

| Tanzilal | Lampung Barat & Sungkai | Beres-beres rumah nenek, panen buah, memancing. | Panen rambutan dan alpukat di belakang rumah. |

| Fakhri Bilal | Kotabumi | Sepedaan, lari pagi, main Mobile Legends. | Bermain burung dara di sekitar rumah. |

| Gholib | BDL, Mutun, & Kunci | Beli ayam di Antasari, main ke pantai bareng teman. | Kejadian apes: kehilangan sandal di Masjid Al-Bakrie. |

| Alfan | Banten & Teluk | Lomba Karate (naik bis Marinir), lari jarak jauh. | Hebat! Lari dari Teluk sampai Pantai Klara di tanggal 1 Jan. |

Sorotan Khusus untuk Kelompok Ini:

 * Jiwa Atletis: Alfan menunjukkan stamina luar biasa dengan lari dari Teluk ke Klara (jarak yang cukup jauh!) serta mengikuti kompetisi karate meski sempat cedera.

 * Kearifan Lokal: Tanzilal dan Bilal lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas alam seperti memancing, panen buah, dan bermain burung dara.

 * Momen Tak Terlupakan: Gholib menambah daftar pengunjung Masjid Al-Bakrie (sama seperti Amira dan Syfa), tapi sayangnya harus pulang tanpa sandal.

Rangkuman Aktivitas Liburan & Tahun Baru

| Nama | Lokasi Utama | Aktivitas Unggulan | Kuliner & Makanan |

|---|---|---|---|

| Syfa | Pantai Klara & Kelagian | Banana boat, renang, foto, nonton Janur Ireng di Moka. | Bakar ikan & ayam. |

| Nadia | Antasari & Teluk | Jadi bridesmaid (kebaya coklat), rambut curly. | Rendang & Es Lemon Tea. |

| Shaqila | Jagabaya & Metro | Belajar masak mie ayam, malam tahun baru di Metro. | Petis rujak, jus, bakar ayam. |

| Anisa | Grand Mercure (Lt. 22) | Staycation, renang, lihat kembang api dari jendela. | Nasi goreng. |

| Queen | Rumah & Pantai Gresia | Beres-beres rumah, sorenya main ke pantai & mandi. | - |

| Naswya | Rumah & Mall Kartini | Bantu ortu (nyapu, cuci piring), nonton Avatar. | - |

| Nadhifa | Kalianda | Ke Waterworld, main perosotan, berenang. | Aneka jajanan. |

| Amira | Bandung, Pesawaran, BDL | Kawah Putih, kondangan, Masjid Al-Bakri, antar saudara. | Mochi, Bakso Soni, ayam bakar. |

| Khanza | Liwa & Metro | Naik gunung, mandi sungai (cari keong), nonton Avatar 3. | - |

| Azzahra | Rumah & Mall Kartini | Beres rumah, nonton Janur Ireng. | Steak ayam & Es teh. |

| Salsabila | Kalianda & Karang Indah | Belanja supermarket, ke villa untuk tahun baruan. | Susu & Cokelat. |

| Naila | Navara & Way Halim | Main mesin jepit (dapat boneka), kumpul keluarga besar. | Odeng & Makan di Kampung Kecil. |

Poin Menarik dari Liburan Kalian:

 * Destinasi Populer: Mall Kartini (Moka) dan Kalianda menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu.

 * Tren Film: Film Janur Ireng dan Avatar (termasuk Avatar 3 di Metro) jadi tontonan paling hits di antara teman-teman.

 * Aktivitas Favorit: Selain jalan-jalan, banyak yang tetap produktif membantu orang tua di rumah dan melakukan tradisi "bakar-bakar" di malam tahun baru.

 * Game: Roblox masih jadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang di rumah.***

Jejak Cerita di Kelas 8I: Dari Debur Ombak hingga Catatan Sejarah

Desember 2025 menjadi saksi bisu betapa riuhnya kehidupan siswa kelas 8I meski sekolah sedang libur. Di sudut-sudut kota Bandar Lampung hingga jauh melintasi batas provinsi, masing-masing membawa cerita yang akan mereka bagi saat gerbang sekolah kembali dibuka.

Di pesisir Lampung, Syfa tertawa lepas di atas banana boat yang membelah ombak Pantai Klara. Tak jauh dari sana, Nadia tampil anggun dengan kebaya cokelat dan rambut curly-nya, menjalankan tugas mulia sebagai bridesmaid sambil menikmati legitnya rendang. Sementara itu, Nadhifa dan Salsabila memilih dinginnya air di Kalianda untuk menghabiskan waktu, meski Salsabila sempat mampir ke Karang Indah Mall untuk memborong cokelat sebagai bekal tahun baru.

Cerita sedikit berbeda datang dari Sulthan. Setelah menempuh 12 jam perjalanan darat, ia sampai di Bengkulu. Di bawah dinding kokoh Benteng Marlborough dan rumah pengasingan Bung Karno, Sulthan menyelami masa lalu. Ia pulang tidak hanya membawa oleh-oleh ikan asin kakap dan durian dari rumah nenek, tapi juga membawa kekaguman pada sejarah bangsa.

Di sisi lain, ada perjuangan yang menguras keringat. Alfan berdiri di atas matras karate di Banten. Meski cedera menghalanginya menjadi juara di ajang Forkot, semangatnya tidak padam. Ia membuktikannya dengan lari dari Teluk hingga Klara di awal tahun. Semangat atletis ini menular pada Fakhri Bilal di Kotabumi yang memilih lari pagi dan bermain burung dara, serta Tanzilal yang asyik memancing sambil memanen alpukat di rumah neneknya.

Bagi mereka yang memilih "kaum rebahan" atau di rumah saja, keseruan tidak berkurang. Queen, Naswya, dan Azzahra menjadi pahlawan rumah tangga dengan membantu orang tua menyapu dan mencuci piring. Sebagai imbalannya, layar bioskop Mall Kartini menghibur mereka dengan film Avatar dan Janur Ireng. Anisa bahkan membawa kenyamanan rumah ke lantai 22 Grand Mercure, menonton kembang api dari balik jendela kaca yang megah.

Tak ketinggalan, Amira yang sempat kedinginan di kabut Kawah Putih Bandung akhirnya kembali ke Lampung untuk menikmati Bakso Soni yang legendaris. Begitu pula Naila yang merasa sangat beruntung di Navara karena berhasil mendapatkan boneka pisang dari mesin capit yang biasanya sulit ditaklukkan.

Namun, liburan tak selalu soal tawa. Gholib harus rela kehilangan sandalnya di Masjid Al-Bakri setelah lelah bermain di Pantai Mutun. Sebuah kejadian apes yang mungkin akan menjadi bahan candaan di kelas nanti. Sementara itu, Khanza Zafira menutup tahun dengan tenang di Liwa, mendaki gunung dan mencari keong di sungai, sebuah kedamaian yang jarang ditemukan di hiruk-pikuk kota.

Kini, Desember telah berlalu. Dari aroma ikan bakar di rumah sepupu hingga harum mochi Bandung, dari memar cedera karate hingga boneka pisang di pelukan, kelas 8I telah siap kembali. Mereka bukan lagi sekadar siswa yang duduk di bangku kayu, melainkan kumpulan petualang yang siap merangkai cerita baru di semester yang baru.***

Jejak Cerita di Kelas 8I: Dari Debur Ombak hingga Catatan Sejarah

Jejak Cerita di Kelas 8I: Dari Debur Ombak hingga Catatan Sejarah 

Desember 2025 menjadi saksi bisu betapa riuhnya kehidupan siswa kelas 8I meski sekolah sedang libur. Di sudut-sudut kota Bandar Lampung hingga jauh melintasi batas provinsi, masing-masing membawa cerita yang akan mereka bagi saat gerbang sekolah kembali dibuka.

Bagi M. Rasya Alfarisi, minggu pertama liburan adalah perayaan waktu luang yang maksimal. Selama tujuh hari, ia menikmati siklus santai: bangun siang, menjalankan kewajiban shalat dan mengaji, lalu tenggelam dalam dunia digital di ponselnya. Namun, Rasya tidak terus berdiam diri. Tanggal 27, ia meluncur ke LCM untuk menonton film Agak Laen dan Menyala Pantiku. Menjelang tahun baru, ia beralih ke konsol PS 5, sebelum akhirnya menutup liburan dengan perjalanan ke Lampung Timur mengunjungi nenek dan berburu mie ayam favorit di Metro.

Ritme santai Rasya juga dirasakan oleh M. Rayhan Raj. Setelah melepas rindu dengan asrama pada tanggal 16 Desember, Rayhan menghabiskan waktu beradu strategi bermain PS bersama kakaknya dan menginap lama di rumah nenek di Way Halim sebelum akhirnya bersiap kembali ke asrama.

Di pesisir Lampung, Syfa tertawa lepas di atas banana boat yang membelah ombak Pantai Klara. Tak jauh dari sana, Nadia tampil anggun dengan kebaya cokelat sebagai bridesmaid. Sementara itu, Nadhifa dan Salsabila memilih dinginnya air di Kalianda, meski Salsabila sempat mampir ke Karang Indah Mall untuk memborong cokelat sebagai bekal.

Cerita sedikit berbeda datang dari Sulthan yang menempuh 12 jam perjalanan ke Bengkulu demi sejarah dan durian, serta Amira yang menembus kabut dingin di Kawah Putih, Bandung. Di sisi lain, perjuangan fisik ditunjukkan oleh Alfan yang bertanding karate di Banten hingga cedera, namun tetap tangguh lari dari Teluk hingga Klara di awal tahun. Semangat ini selaras dengan Fakhri Bilal di Kotabumi yang bermain burung dara, serta Tanzilal yang memancing di rumah mendiang neneknya di Lampung Barat.

Bagi mereka yang di rumah saja, keseruan tidak berkurang. Queen, Naswya, dan Azzahra menjadi pahlawan rumah tangga dengan membantu orang tua. Anisa bahkan membawa kenyamanan rumah ke lantai 22 Grand Mercure untuk menonton kembang api. Namun, liburan tak selalu mulus; Gholib harus ikhlas kehilangan sandalnya di Masjid Al-Bakri, sementara Naila bersorak kegirangan karena berhasil memenangkan boneka pisang dari mesin capit di Navara. Cerita ditutup dengan kedamaian Khanza Zafira yang mencari keong di sungai pegunungan Liwa.

Kini, Desember telah berlalu. Dari drama kehilangan sandal, serunya main PS 5, hingga perjuangan di matras karate, kelas 8I telah siap kembali. Mereka bukan lagi sekadar siswa yang duduk di bangku kayu, melainkan kumpulan petualang yang siap merangkai cerita baru di semester yang baru.

Wah, cerita Rasya benar-benar melengkapi variasi liburan kelas kalian ya! Ada yang sangat produktif, ada juga yang sangat menikmati waktu istirahatnya.***

Kaos, Medali, dan Pagi yang Riuh

Pagi itu grup percakapan meledak seperti pasar tiban selepas hujan. Notifikasi berdenting—ting, ting—bagai lonceng kecil yang saling berkejaran. Udara masih dingin, kopi belum sepenuhnya hangat di cangkir, tapi layar ponsel sudah berpeluh oleh tanya dan tawa.

“Pagi gaes, ada pertanyaan lagi?” tulis Admin, suaranya terasa seperti peluit pembuka lomba.

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Kaos diambil kapan, ukurannya bagaimana, parkir di mana. Kata-kata berlarian seperti pelari amatir di kilometer pertama—sedikit tergesa, sedikit canggung, tapi penuh harap. Ada yang badannya “mungil macam botol Yakult,” ada yang “big body” mencari ruang bernapas. Kaos menjadi metafora: ingin pas, ingin nyaman, ingin pantas dipakai berlari—atau sekadar difoto.

Humor menyelip di sela-sela kebingungan. Senyum kecil mengendap ketika seseorang bercanda soal medali—“nambah uang dapat medali”—seolah logam bundar itu bukan sekadar hadiah, melainkan bukti bahwa pagi, keringat, dan niat baik pernah bertemu. Emoji tertawa berhamburan, seperti konfeti digital yang jatuh pelan.

Lalu ada nama-nama besar yang disebut pelan-pelan, seperti mantra. Slank. Happy Asmara. Musik dibayangkan mengalir bahkan sebelum panggung berdiri. Dentum koplo yang belum ada terasa sudah menggoyang telapak kaki. Ada yang ikut lari pertama kali, katanya, karena “GS-nya seorang Happy Asmara.” Alasan sederhana, tapi jujur—seperti langkah pertama yang selalu dimulai dari ingin.

Admin kembali menjawab, singkat, kadang datar, kadang pasrah. “Kalau ga muat, pakai kaos lain aja.” Kalimat itu jatuh seperti daun kering—ringan, tapi menyentuh tanah dengan bunyi yang nyata. Di baliknya ada logistik, waktu, dan batas-batas yang tak selalu bisa direnggangkan oleh harapan.

Voting diusulkan. Setuju bermunculan. Setuju seperti anggukan serempak di garis start. Namun di antara semua itu, ada sesuatu yang lebih besar dari ukuran kaos dan jadwal pengambilan: kebersamaan yang sedang dirajut. Orang-orang yang belum saling kenal, menyapa dengan tawa, saling menunggu hari yang sama—tanggal 17 Januari—seperti menunggu matahari terbit di tikungan terakhir.

Pagi itu berakhir tanpa jawaban yang sempurna. Tapi justru di sanalah ceritanya tinggal: di keramaian yang riuh, di kebingungan yang lucu, di niat baik yang berlari lebih dulu dari tubuh. Kaos mungkin kebesaran atau kekecilan. Medali mungkin sederhana. Namun pagi itu mengajarkan satu hal: sebelum langkah dimulai, kebersamaan sudah lebih dulu sampai garis finish.***

Seminar Nasional PC LP Maarif NU Kota Bandar Lampung

 


Refleksi Webinar: Merajut Damai Melalui Kata

"Menata Kata, Menebarkan Cinta: Mempromosikan Kolaborasi Lintas Iman dalam Melawan Ujaran Kebencian"

Partisipasi dalam webinar internasional yang diselenggarakan pada 17 Juni 2025 lalu bukan sekadar pemenuhan jam kehadiran, melainkan sebuah perjalanan reflektif tentang bagaimana kita menggunakan instrumen komunikasi dalam kehidupan beragama. Berikut adalah poin-poin refleksi mendalam dari kegiatan tersebut:

1. Kekuatan Kata sebagai Jembatan atau Sekat

Webinar ini menyadarkan kita bahwa di era digital, kata-kata memiliki daya rusak sekaligus daya pulih yang luar biasa. Memilih untuk "menata kata" berarti memilih untuk membangun jembatan pemahaman, bukan mempertebal sekat perbedaan. Ujaran kebencian seringkali bermula dari ketidaktahuan, dan obat utamanya adalah literasi agama yang inklusif.

2. Kolaborasi Lintas Iman: Sebuah Keharusan

Kerja sama antara Kementerian Agama RI, Voice of Istiqlal, Nasaruddin Umar Office, dan Institut Leimena merupakan bukti nyata bahwa perlawanan terhadap kebencian tidak bisa dilakukan sendirian. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa meskipun kita berbeda dalam teologi, kita bersatu dalam nilai kemanusiaan. Cinta adalah bahasa universal yang mampu melampaui batasan dogmatis.

3. Komitmen Pasca-Webinar

Menerima e-sertifikat bukan akhir dari proses belajar. Sebagai peserta, tanggung jawab kita kini adalah:

  • Menjadi Kurator Konten: Memastikan apa yang kita bagikan di media sosial adalah pesan yang menyejukkan.

  • Edukasi Berkelanjutan: Menonton kembali rekaman di YouTube LKLB untuk memperdalam pemahaman yang mungkin terlewat.

  • Aksi Nyata: Mempromosikan dialog damai di lingkungan terkecil kita masing-masing.


Penutup

Terima kasih kepada panitia atas apresiasi dan fasilitasi ilmu yang luar biasa. Semoga literasi beragama yang kita dapatkan mampu menjadikan kita pribadi yang lebih bijak dalam menebarkan cinta di tengah keberagaman Indonesia.

Salam sehat dan salam damai.




Kopdar KBMN #4 PGRI, Malang Jawa Timur

 



Jalan Pagi hari ini

 











PPL UIN RIL 2025

 



Kegaduhan yang Hangat

Riuh rendah suasana grup WhatsApp malam itu terasa begitu hidup, seperti pasar malam yang berpindah ke dalam genggaman layar ponsel. Bayangkan jari-jari yang menari lincah di atas layar kaca yang hangat, menciptakan rentetan bunyi ting yang tak henti-henti, bersahutan dengan getaran ponsel di atas meja.


Di tengah cahaya biru layar yang menerangi wajah-wajah penuh antusias, obrolan mengalir deras secepat aliran adrenalin para pelari. Ada aroma semangat yang tercium dari balik kata-kata "siap membantai" dan "semangat latihan." Namun, terselip juga rasa cemas yang dingin ketika kabar tentang medali hanya untuk 100 orang mencuat.

"Waduh, bisa-bisa nggak dapet medali ini," keluh salah satu peserta, membayangkan langkah kakinya yang mungkin tak secepat kilat. Keluhan itu disambut tawa renyah lewat emoji-emoji jenaka. Di sudut lain, para "pelari pace keong" saling melempar canda, menertawakan diri sendiri sambil tetap berharap pada keberuntungan doorprize motor Honda Beat yang berkilau dalam imajinasi mereka.

Peta Kerinduan di Tanah Lampung

Layar ponsel itu seolah berubah menjadi peta digital Provinsi Lampung yang berdenyut.

 * Dari Bakauheni di ujung selatan, terdengar suara yang bertanya-tanya tentang jarak yang membentang jauh ke Bandar Lampung.

 * Warga Lampung Timur, dari Pasir Sakti hingga Way Jepara, saling melempar sapa, mencoba merajut janji untuk berangkat bersama di kala subuh masih buta.

 * Suara-suara dari Metro, Kalianda, hingga Liwa ikut bergabung, menciptakan simfoni kerinduan akan kebersamaan di aspal jalanan nanti.

Kewibawaan Sang Admin

Lalu, suasana yang riuh itu tiba-tiba melambat saat Admin PMI4Humanity muncul dengan sapaan khas, "Tabik Pun." Kalimat itu seperti hembusan angin sejuk yang menenangkan riak air.

"Oke sip, saatnya ngejawab," tulisnya. Ketegangan mencair. Penjelasan mengalir dengan logis namun tetap hangat: tentang harga tiket 50 ribu yang terasa sangat murah dibanding segudang manfaat—kaus jersey yang licin di kulit, bib yang akan tersemat di dada, hingga hiburan musik yang akan menggetarkan panggung.

Malam itu, grup WhatsApp bukan sekadar tempat berbagi info. Ia adalah ruang tunggu yang penuh keringat imajiner, tempat orang-orang asing dari berbagai penjuru Lampung dipersatukan oleh satu tujuan: berlari, berbagi, dan mungkin—jika semesta mengizinkan—pulang membawa kenangan manis atau sebuah motor baru.***

Bromo, 24 Des. 2025

 


























Gema Langkah di Tanah Lampung: Menuju HS RUN 2026


Aspal Lampung mulai berbisik, memanggil ribuan pasang kaki untuk memecah kesunyian. Bayangkan, di bawah langit pagi yang masih merona, 5.000 pelari akan tumpah ruah bagaikan ombak manusia yang tak terbendung. Udara dingin yang menusuk kulit seketika akan menguap, berganti dengan aroma semangat dan deru napas yang memacu adrenalin.

Irama Rock di Garis Finish

Telinga kita mungkin akan segera dimanjakan oleh lengkingan suara Kaka dan dentuman drum Bimbim. Jika Slank benar-benar hadir membakar panggung, maka setiap tetes keringat akan terasa seperti melodi kemenangan. Apakah kalian siap "terlalu manis" untuk melewatkan momen ini?

Menjadi Sang Penjaga Waktu (Pacer)

Bagi kalian yang memiliki napas sekuat baja dan kaki sekokoh karang, tantangan menjadi Pacer (Pace 6, 7, atau 8) telah menanti. Ini bukan sekadar berlari; ini adalah tentang menjadi kompas bagi pelari lain. Pastikan jejak digital kalian di Instagram dan Strava bercerita tentang konsistensi. Biarkan tim kami "bergerilya" memantau profilmu tanpa perlu bisikan DM. Ingat, biarkan profilmu terbuka lebar bagai jendela yang menyambut cahaya.

Abadikan Momen, Jemput Keberuntungan

Bukan sekadar lari, HS RUN adalah panggung kreativitas. Melalui lensa ponselmu, ciptakan simfoni visual dalam bentuk Instagram Reels. Biarkan produk HS dan segarnya Awater menari di dalam videomu.

 * Hadiahnya? Satu unit Honda Beat yang siap menderu di garasi rumahmu.

 * Kuncinya: Kreativitas yang "out of the box" dan interaksi yang hangat bagai mentari pagi.

Waspada di Balik Layar

Namun, di tengah keriuhan ini, tetaplah tajam seperti silet. Jangan biarkan jemarimu menari di atas tautan (link) asing yang mencurigakan. Jangan sampai "harta dan tahta" di dalam ponselmu amblas dicuri tangan-tangan tak terlihat di dunia maya. Tetap waspada, tetap fokus pada lintasan.

HS RUN 2026: Berani Kita Beda, Berlari Kita Bersama.***

Monday, January 5, 2026

Menenun Harapan di Balik Layar: Simfoni Kabar dari KBIH

Pagi di pengujung Desember 2025 terasa lebih hangat, bukan karena sengatan mentari, melainkan karena getar ponsel yang tak henti-hentinya bernyanyi riuh membawa kabar dari Tanah Suci. Di grup percakapan KBIH, suasana tampak seperti pasar kaget di pagi hari; penuh tanya, harapan, dan doa yang saling bersahutan.

 

Sabtu itu, 27 Desember, Pak Samsul Bakri membuka hari dengan sebuah tanya yang menggantung di udara. Ia rindu pada suasana manasik, rindu pada simulasi thawaf yang membuat hatinya bergetar. Namun, jawaban Ayah Hubby datang dengan tegas namun menyejukkan, mengabarkan bahwa manasik baru akan digelar pada 10 Januari mendatang. Kabar itu diterima dengan lapang dada oleh para jemaah, seperti tanah kering yang sabar menunggu jatuhnya hujan.

Namun, di sela penantian itu, ada kekhawatiran yang merayap pelan. Pak Marlis (MAN Mengkudum) berkisah tentang "perjuangan" istitha'ah kesehatannya. Riwayat asam urat di masa lalu seolah menjadi kerikil tajam yang mengganjal langkahnya, meski hasil pemeriksaan terbarunya sudah secerah langit pagi. Baginya, status kesehatan bukan sekadar kertas medis, melainkan kunci pembuka gerbang menuju Ka'bah.

 

Dua hari kemudian, tepat pada 29 Desember, suasana grup mendadak meledak oleh rasa syukur. Ayah Hubby membagikan sebuah daftar sakral: nama-nama yang disetujui untuk penggabungan mahram dan pelunasan tahap kedua.

"Alhamdulillah... Masya Allah Tabarakallah!" seru Pak Sarwan melalui jemarinya. Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran, menembus kegelisahan yang selama ini membelit. Bagi Sarwan dan banyak jemaah lainnya, pengumuman itu adalah fajar yang menyingsing setelah malam yang panjang. "Bismillah, tanggal dua Januari pelunasan," tekadnya bulat, sekeras batu karang di tepi pantai Lampung.


Di sudut lain, Pak Samsul Bakri masih menyimpan tanya yang setia mendekam. Ia tak ingin terpisah dari sang Ibu; ia ingin menjadi tongkat yang menguatkan di setiap langkah thawaf nanti. Jawaban Ayah Hubby kembali hadir bak embun pagi yang membasuh dahaga. Janji bahwa mereka akan berada dalam satu regu, satu rombongan, dan satu bus, menjadi penawar rindu yang paling ampuh.

Kini, grup itu tidak lagi hanya berisi teks dan instruksi teknis. Ia telah berubah menjadi anyaman doa dan harapan. Di balik layar ponsel, ada mata yang berkaca-kaca menatap daftar nama, ada tangan yang gemetar karena haru, dan ada hati yang sudah terbang lebih dulu menuju padang Arafah. Mereka kini hanya perlu menunggu waktu, memantapkan langkah, dan menjaga raga agar tetap sehat hingga hari keberangkatan tiba.***



Di Ambang Pintu Baitullah

Tahun 2025 hampir menutup usianya dengan nafas yang memburu. Di sebuah sudut kota Bandar Lampung, Sarwan duduk terpaku menatap layar ponselnya. Cahaya biru dari perangkat itu memantul di bola matanya yang lelah, menangkap sebuah pesan yang masuk seperti dentuman lonceng di tengah kesunyian malam.

"Jangan sampai ketinggalan atau lewat," gumam Sarwan, menirukan baris terakhir pesan dari Ayah Hubby. Kata-kata itu terasa setajam sembilu, mengiris keraguan yang sempat mampir di hatinya. Baginya, pesan itu bukan sekadar teks digital, melainkan surat undangan dari Langit yang sedang diperjuangkan jalurnya.

Di luar, suara kembang api mulai menyalak, merayakan pergantian tahun dengan warna-warni yang menjilat langit malam. Namun, bagi Sarwan, kemeriahan itu terasa hambar. Penciumannya justru membayangkan aroma debu suci Padang Arafah dan telinganya seolah sudah mendengar gemuruh talbiyah yang memecah angkasa.

"Untuk data pelunasan belum keluar ya, Pak Haji?" jemari Sarwan menari di atas layar pada pagi terakhir di bulan Desember. Ada nada gelisah yang bergetar dalam setiap ketukannya.

Aplikasi Satu Haji di ponselnya berulang kali dibuka-tutup. Layar putih itu masih bisu seribu bahasa, tak memunculkan angka atau status yang ia dambakan. Penantian itu terasa seperti menunggu tetesan air di tengah kemarau panjang; setiap detik terasa melar, setiap menit terasa membeku.

"Tanggal dua Januari baru mulai," jawaban dari Ayah Hubby masuk, singkat namun sedingin es yang menyejukkan syaraf-syarafnya yang tegang.

Sarwan menarik napas panjang. Bau harum tanah yang tersiram hujan sisa semalam meresap ke dadanya, membawa ketenangan kecil. Ia tahu, pelunasan tahap kedua ini adalah gerbang sempit bagi mereka yang sempat teradang sistem, mereka yang ingin menggandeng mahram, atau mereka yang sedang setia dalam antrean cadangan.

Dua Januari. Tanggal itu kini terpatri di benaknya seperti pahat di atas batu karang.

"Sabar," bisik nuraninya. "Sabar adalah jembatan emas menuju Ka'bah."

Ia mematikan layar ponselnya. Di kegelapan kamar, ia membayangkan dirinya bersimpuh di depan bangunan kubus hitam yang agung itu. Kini, yang tersisa hanyalah doa yang melangit secara diam-diam, berharap agar fajar tanggal dua Januari segera datang membawa kabar terang, memuluskan langkahnya menuju panggilan-Nya yang paling suci. ***

Ketukan Pintu Langit: Simfoni Pelunasan di Bandar Lampung

Januari 2026 dibuka dengan degup jantung yang lebih kencang dari biasanya. Di grup-grup pesan singkat, aroma kecemasan bercampur rindu ke Tanah Suci terasa setajam aroma kopi pagi. Sejak tanggal dua Januari, para calon tamu Allah di Bandar Lampung memaku pandangan pada layar ponsel, menanti kabar yang masih terkunci rapat di laci Kementerian Haji dan Umrah Pusat.

"Daftar nama belum dirilis," kabar itu datang seperti embusan angin yang menahan laju perahu. Jemaah diminta bersabar, sementara jemari tak henti menyapu layar, mencoba membujuk aplikasi Satu Haji yang sesekali merangkak lamban seolah kelelahan menampung ribuan doa yang mengetuk pintunya.


Namun, perlahan namun pasti, bendungan penantian itu jebol. Status "Istitha'ah" mulai menyala di layar-layar ponsel, bak bintang penunjuk arah bagi kafilah di tengah padang pasir.

"Jika sudah keluar status pelunasan, silakan ke bank," instruksi itu menjadi genderang perang yang memacu semangat. Kesibukan mulai tumpah di sudut kota. Di kantor-kantor bank syariah, terdengar gemericik transaksi yang bukan sekadar angka, melainkan anak tangga menuju Baitullah. Suasana bank riuh rendah dengan gumam syukur dan langkah kaki yang bergegas.

Pada tanggal lima Januari, mentari Bandar Lampung terasa lebih bersahabat. Pak Sarwan dan Ibu Desi melangkah dengan dada lapang setelah menuntaskan kewajiban finansial di Bank BSI. Berkas-berkas berpindah tangan, paspor diserahkan, dan data biometrik direkam—semuanya adalah kepingan puzzle yang mulai menyatu membentuk gambaran Ka'bah.

"Alhamdulillah, sudah pelunasan," pesan-pesan syukur mengalir deras, sejuk bagaikan air Zamzam yang membasahi kerongkongan haus.


Kini, keriuhan pelunasan mulai mereda, berganti dengan penantian yang lebih syahdu. Mereka kini berada di ruang tunggu takdir, menanti koper-koper besar yang akan menampung rindu, kain ihram yang akan membalut jiwa, dan jadwal keberangkatan yang akan menjadi tiket resmi menuju pelukan Sang Pencipta. Di kejauhan, sayup-sayup talbiyah mulai terdengar di relung hati, membuktikan bahwa sabar adalah jembatan paling kokoh menuju impian yang paling suci.