Ayo belajar menulis...
Sunday, January 4, 2026
Denting Notifikasi Penghujung Libur
Layar ponsel Naura berkedip, memuntahkan cahaya putih ke dinding kamarnya yang temaram. Udara dingin bulan Desember 2025 terasa seperti selimut tipis yang membalut tubuhnya. Daftar nama di grup WhatsApp kelas 8F itu adalah penanda. Nama-nama yang berjejer rapi, dari Naura hingga Mirza, mengukir jejak partisipasi mereka dalam survei, sebuah tugas kecil yang kini terasa jauh dan samar seperti mimpi lama.
Naura tersenyum tipis. Ia ingat bagaimana jari-jari kecilnya menari di atas layar, mengisi setiap kolom survei dengan sungguh-sungguh. Itu adalah bagian dari rutinitas sekolah, sebuah melodi yang kini terhenti oleh denting liburan yang merdu.
Beberapa hari kemudian, ketenangan liburan sempat terusik. Malam 29 Desember, sebuah pesan penting menyusup masuk, membawa desakan waktu yang terasa dingin di ujung jari.
"Assalamualaikum..... Sehubungan dgn berakhirnya pelaksanaan aktivasi PIP Kemenag thn 2025, pada tgl 31 Desember 2025..."
Pesan dari Ibu Mahsya, wali kelas mereka, adalah sebuah pengingat yang tegas, bagaikan alarm yang berbunyi di tengah tidur nyenyak. Batas waktu aktivasi PIP yang semakin menipis menciptakan gelombang kecil kekhawatiran. Naura membayangkan teman-temannya yang mungkin berlarian ke BRI, membawa berkas-berkas penting itu sebelum gerbang waktu tertutup rapat.
Waktu seolah melompat. Minggu sore, 4 Januari 2026, aroma liburan yang manis mulai memudar, digantikan oleh hawa baru yang segar namun penuh tanggung jawab. Layar ponsel Naura kembali menyala, kali ini dengan pesan yang lebih hangat, selembut sentuhan ibu.
"Assalamu'alaikum. Sholih sholihah ibu. Apa kabar semua... 🤗 Sudah puaskah liburnya...? ☺"
Pesan dari Ibu Mahsya adalah sebuah jembatan, menghubungkan dunia liburan yang penuh kebebasan dengan dunia sekolah yang sarat ilmu. Nada suaranya yang ramah terasa seperti pelukan hangat, mengisi hati Naura dengan perasaan campur aduk. Ada sedikit berat hati karena harus meninggalkan bantal empuk dan kebebasan bermain, namun juga ada geliat semangat untuk kembali bertemu teman-teman dan pelajaran baru.
"Mengingatkan kembali. Libur semester ganjil sdh berakhir ya, besok waktunya kita kembali ke sekolah seperti biasa ya nak. 👌"
Naura bisa merasakan bayangan seragam sekolah yang rapi di dalam lemari, aroma deterjennya masih segar. Ia membayangkan lorong sekolah yang akan kembali riuh, suara tawa dan langkah kaki yang berpadu menjadi simfoni kehidupan. Kantin sekolah, atau MBG, yang masih "cuti" hingga tanggal 8 Januari, mengingatkannya untuk menyiapkan bekal. Perutnya mendadak terasa lapar membayangkan nasi goreng buatan Ibu.
Respon dari teman-temannya mengalir seperti air bah: Zaskya, Nanau, Rahma. Semua menjawab dengan nada patuh, penuh semangat, dan sedikit gema kerinduan pada sekolah.
"Waalaikumsalam, baik Ibu..."
Di balik kata-kata singkat itu, Naura tahu ada ribuan cerita liburan yang belum terbagi, tawa yang belum meledak di koridor, dan pelajaran baru yang menanti untuk ditelusuri. Malam itu, di bawah kerlip bintang yang mulai bermunculan, Naura menutup ponselnya. Ia memejamkan mata, membiarkan imajinasinya melayang ke esok hari, ke gerbang sekolah yang akan menyambutnya kembali. Sebuah petualangan baru di semester genap telah menanti, dan Naura siap menyambutnya dengan senyum. ***
Selamat datang semester genap
Layar ponsel itu berkedip-kedip seperti kunang-kunang di tengah remang kamar, memuntahkan cahaya biru yang tajam ke mata Juno. Di luar, aroma tanah basah sisa hujan sore hari merayap masuk melalui celah jendela, membawa hawa dingin yang memeluk kulit. Hari-hari terakhir liburan terasa seperti pasir yang meluncur cepat di celah jemari; tak tertahan dan hampir habis.
Juno menghela napas, jemarinya yang lincah secara tak sengaja menyentuh layar.
"Maaf Bu, kepencet," ketiknya buru-buru, sebuah kalimat yang pecah di tengah kesunyian grup WhatsApp kelas 8B.
Suasana grup yang semula tenang mendadak riuh dengan celetukan teman-temannya, menyerupai kicauan burung di pagi hari. Namun, keceriaan itu sempat terhenti oleh kabar yang mampir di malam pergantian tahun. Sebuah pesan singkat muncul seperti petir di siang bolong: "Izin Bu, nomornya disadap orang." Kabar itu menyebar dingin, menciptakan riak kekhawatiran sejenak di antara mereka yang tengah menanti letupan kembang api di langit malam.
Waktu pun melompat. Minggu sore, 4 Januari 2026, suasana grup kembali berubah. Kali ini, sebuah pesan panjang hadir dengan wibawa yang lembut namun tegas, seperti embun pagi yang mendinginkan suasana. Itu adalah pesan dari Ibu Guru.
"Assalamualaikum, nak saleh dan salehah... besok hari Senin, 5 Januari, kegiatan belajar mengajar semester genap sudah aktif seperti biasa..."
Pesan itu seketika menjadi konduktor bagi simfoni jawaban yang seragam. Ruang obrolan itu meledak dalam kepatuhan yang hangat. Satu per satu, nama-nama muncul bagaikan deretan semut yang tertib: Kevin, Danzzz, Rower, Wahid, hingga Jeno Lee yang menyertakan emoji hormat seolah sedang berdiri tegak di depan kelas.
"Waalaikumsalam, baik Bu..."
"Siap, Bu..."
Kalimat-kalimat itu mengalir deras seperti air sungai yang jernih, membawa semangat baru yang meluap-luap. Juno, yang duduk di tepi tempat tidurnya, bisa merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat. Bayangan tentang koridor sekolah yang riuh, bau buku-buku baru yang masih segar, dan bunyi bel yang membelah udara pagi mulai menari-nari di benaknya.
Liburan telah usai, meninggalkan kenangan tentang nomor yang disadap dan pesan-pesan yang "kepencet". Kini, yang tersisa adalah janji untuk bangun lebih awal, merapikan seragam yang masih beraroma deterjen, dan menyambut hari Senin dengan kepala tegak.
Saat mentari perlahan tenggelam di ufuk barat, grup itu akhirnya tenang. Namun, di dalam dada anak-anak 8B, semangat itu baru saja menyala, sekokoh gedung sekolah yang menanti mereka esok pagi tepat pukul tujuh.***
Catatan Minggu, 4 Januari 2026
Fajar di Bandar Lampung menyapa dengan lembut, seolah enggan membangunkan kota yang masih terlelap. Namun, bagi saya, subuh bukan sekadar penanda waktu; ia adalah sebuah napas kehidupan.
Langkah Kaki di Jantung Kota
Dinginnya air wudu di Masjid Al-Bakrie masih terasa memeluk kulit saat saya memulai langkah pertama. Udara pagi terasa seperti kain sutra yang sejuk, mengelus wajah dengan aroma tanah basah yang samar. Selesai bersujud, saya melakukan pemanasan kecil di halaman masjid yang megah, membiarkan sendi-sendi yang kaku mulai menari mengikuti irama jantung.
Lari pagi kali ini adalah sebuah pengelanaan. Saya menyusuri Jalan Tulang Bawang, di mana lampu-lampu jalan mulai meredup, kalah oleh semburat oranye yang mulai mengintip dari ufuk timur. Kaki saya terus beradu dengan aspal Jalan Raden hingga menembus keramaian yang mulai menggeliat di Jalan Ahmad Yani.
Di Jalan Suprapto, keringat mulai menetes seperti butiran kristal di dahi. Paru-paru saya berpesta pora menghirup oksigen yang masih murni, sebelum polusi merampasnya siang nanti. Untuk kembali ke arah Raden Intan, saya memilih "jalan tikus"—gang-gang sempit yang lembap namun menyimpan kehangatan khas pemukiman warga. Di kejauhan, gedung Hotel Grand Mercure menjulang tinggi bagaikan raksasa kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai garang.
Setelah lelah berkelana, perjalanan ini berujung manis di seberang Masjid Al-Bakrie. Semangkuk Soto Spesial Boyolali telah menanti. Uap panasnya mengepul tipis, membawa aroma rempah, bawang putih goreng, dan kaldu daging yang gurihnya menari-nari di indra penciuman. Setiap sendokan kuah bening itu terasa seperti pelukan hangat di pagi yang mulai gerimis.
Riuh Rendah di Layar Kaca
Sambil menikmati soto, saya membuka ponsel. Layar menyala, menampilkan jendela dunia kecil bernama Grup WhatsApp Kopdar KBMN #4 PGRI. Di sana, kehidupan berdenyut dengan kecepatan yang berbeda.
Sejak pukul satu dini hari, Bu Sri sudah menebar benih kebaikan dengan ajakan "Tahajud Yuk". Tak lama setelahnya, ia sudah sibuk "rewangan"—sebuah potret dedikasi yang tak kenal lelah. Percakapan di grup itu terasa seperti suasana dapur tradisional yang digambarkan Bu Helwiyah dan Dr. Mudafiatun; penuh canda, akrab, meski kadang "tertutup rapet" di balik layar gadget.
Ada aroma kebahagiaan yang melompat dari teks Pak Syaihu yang baru saja memenangkan hadiah Jalan Sehat Kemenag di Surabaya. "Alhamdulillah Barokallah," seru teman-teman yang lain. Di sudut lain, Pak Mukminin terus menebar semangat agar semua tetap "halan-halan" pagi demi kesehatan.
Meski gerimis mulai turun—atau yang disebut Bu Sri sebagai "Misbar" (Gerimis Bubar)—semangat di grup itu tak lantas luntur. Dari urusan mesin cuci yang disebut Pak Da'il hingga ucapan syukur yang mengalir deras, grup ini adalah ruang tamu tempat kami berbagi tawa, meski raga terpisah ratusan kilometer.
Pagi ini, antara peluh di jalanan Bandar Lampung dan riuhnya notifikasi di genggaman, saya merasa hidup benar-benar sedang merayakan dirinya sendiri.
Friday, January 2, 2026
Antisipasi Cuaca Hujan
Malam Tahun Baru di Nusantara Permai seharusnya hanya tentang riuh tawa dan kepul asap jagung bakar yang menggoda selera. Namun, suasana hangat itu mendadak luruh saat aroma bubuk mercon yang menyengat hidung bercampur dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Di bawah rembulan yang menggantung purnama bagai piring perak, sebuah kengerian baru saja menampakkan diri.
Bapak Mujiono berdiri mematung. Cahaya senter di tangannya gemetar, membelah kegelapan dan mendarat tepat pada seonggok mahluk yang seputih kain kafan. Seekor ular raksasa tergeletak diam, tubuhnya yang panjang dan besar tampak seperti sungai salju yang membeku di atas aspal kelam. Sisiknya berkilau pucat, memantulkan cahaya senter dengan tatapan dingin yang mematikan.
Di tengah keheningan yang mencekam—di mana suara jangkrik pun seolah tercekik oleh ketakutan—Pak Mujiono perlahan mengangkat telunjuknya yang kaku.
"Ular itu berasal dari bawah," bisik Pak Mujiono, suaranya parau dan berat seperti menyeret batu.
Beliau menunjuk ke arah aliran drainase besar di jalan utama Perumahan Nusantara Permai. Mulut gorong-gorong yang menganga lebar itu tampak seperti pintu gerbang menuju kegelapan abadi. Air yang mengalir di dalamnya berdesir pelan, seolah membisikkan rahasia tentang apa saja yang bersembunyi di balik beton-beton dingin tersebut.
"Dia merayap keluar dari sana," lanjutnya lagi. Pandangannya terpaku pada lubang drainase yang kini terlihat seperti mata raksasa yang mengawasi dalam diam. Drainase besar itu bukan lagi sekadar saluran air, melainkan sebuah labirin gelap tempat sang penghuni putih ini bersemayam.
Ketegangan semakin memuncak saat lidah ular itu berkelebat tipis bagai kilat tanpa suara. Angin malam yang berembus terasa semakin menggigit kulit, membawa bau tanah basah dari dalam selokan. Malam pergantian tahun di Blok C tak lagi sama; suka cita itu kini tertimbun oleh bayang-bayang putih yang merayap keluar dari rahim drainase, menyisakan misteri yang membuat setiap langkah warga terasa berat dan penuh kewaspadaan.
Gema 'Gass' di Balik Layar Kaca
Layar ponsel itu berpijar di tengah kegelapan kamar, cahayanya menusuk mata yang lelah, namun getaran notifikasi yang bertubi-tubi membuat kantuk enggan bertamu. Malam itu, sebuah pesan singkat meledakkan ketenangan grup WhatsApp para pelari.
Biasanya, sebuah ajang lari adalah hobi yang cukup menguras kantong. Angka seratus lima puluh ribu rupiah seringkali menjadi standar baku untuk sekadar mendapatkan selembar nomor BIB yang kaku, sehelai jersey yang licin oleh keringat, medali logam yang dingin, dan sebotol minuman isotonik yang menyegarkan tenggorokan pasca-finis. Namun malam ini, sebuah angka ganjil muncul: Lima Puluh Ribu Rupiah.
Seketika, jempol para pelari menari liar di atas kaca ponsel yang licin.
"Udah habis kah?" tanya sebuah nomor tak dikenal, suaranya dalam teks terdengar cemas seperti pemburu yang takut kehilangan jejak.
Wenny Azana segera menyambar, memberikan tautan pendaftaran yang langsung diserbu bagaikan gula dikerubuti semut. "Masih ada kak!" jawabnya singkat. Suasana digital itu mendadak pengap oleh aroma antusiasme.
Namun, kecurigaan selalu menyelinap di sela-sela harga murah. "50k dapet medali kak?" tanya akun Aku KR, seolah tidak percaya bahwa kepingan kebanggaan berbentuk lingkaran itu bisa ditebus dengan harga sebungkus nasi padang istimewa.
Admin PMI4Humanity muncul dengan jawaban yang memacu adrenalin: "100 pelari yang finish tercepat, dapet medali!"
Sontak, mental para pelari diuji. "Yah, cuma seratus? Sanggup ndak ini?" keluh pelari lain. Namun sang Admin kembali meluncurkan rayuan maut yang lebih manis dari sirup refreshment. Ia membeberkan bahwa jersey yang didapat bernilai lebih dari uang pendaftaran, ditambah layanan foto gratis yang biasanya menguras dompet, dan puncaknya: sebuah sepeda motor mengkilap yang siap dibawa pulang lewat undian.
Grup itu meledak. Suasana semakin gerah ketika kabar kehadiran Happy Asmara sebagai bintang tamu menyeruak. "Gaasss!" seru mereka bersahutan. Kata "Gass" itu bergema di layar, seolah-olah bau ban terbakar dan deru mesin motor mulai tercium di imajinasi mereka.
Pertanyaan teknis mulai berhamburan. "Kok nggak ada pilihan size bajunya ya?" tanya Alzada, membayangkan kain jersey yang mungkin akan membalut tubuhnya terlalu ketat atau justru kedodoran.
"All size, Kak," jawab Admin dingin, memupus harapan mereka yang perfeksionis soal ukuran baju. Tapi siapa yang peduli pada ukuran baju jika di ujung garis finis ada peluang memboyong motor baru dan podium kemenangan yang menanti?
Malam kian larut, namun semangat di grup itu belum juga padam. Harum aspal jalanan, kilau medali yang terbatas, dan dentum musik Happy Asmara seolah sudah menari-nari di depan mata. Di awal tahun yang baru, tawaran ini adalah magnet yang sangat kuat.
Agus Az menutup hiruk-pikuk malam itu dengan sebuah harapan yang membumbung tinggi ke langit-langit grup: "Gasss... siapa tau pulang bawa hadiah motor baru di awal tahun baru!"
Ponsel akhirnya diletakkan. Di luar, angin malam Bandar Lampung berdesir pelan, namun di dalam hati para pelari, genderang perang lari murah meriah ini sudah mulai ditabuh dengan kencang.





























































