Friday, January 2, 2026

Gema 'Gass' di Balik Layar Kaca

Layar ponsel itu berpijar di tengah kegelapan kamar, cahayanya menusuk mata yang lelah, namun getaran notifikasi yang bertubi-tubi membuat kantuk enggan bertamu. Malam itu, sebuah pesan singkat meledakkan ketenangan grup WhatsApp para pelari.



Biasanya, sebuah ajang lari adalah hobi yang cukup menguras kantong. Angka seratus lima puluh ribu rupiah seringkali menjadi standar baku untuk sekadar mendapatkan selembar nomor BIB yang kaku, sehelai jersey yang licin oleh keringat, medali logam yang dingin, dan sebotol minuman isotonik yang menyegarkan tenggorokan pasca-finis. Namun malam ini, sebuah angka ganjil muncul: Lima Puluh Ribu Rupiah.

Seketika, jempol para pelari menari liar di atas kaca ponsel yang licin.

"Udah habis kah?" tanya sebuah nomor tak dikenal, suaranya dalam teks terdengar cemas seperti pemburu yang takut kehilangan jejak.

Wenny Azana segera menyambar, memberikan tautan pendaftaran yang langsung diserbu bagaikan gula dikerubuti semut. "Masih ada kak!" jawabnya singkat. Suasana digital itu mendadak pengap oleh aroma antusiasme.

Namun, kecurigaan selalu menyelinap di sela-sela harga murah. "50k dapet medali kak?" tanya akun Aku KR, seolah tidak percaya bahwa kepingan kebanggaan berbentuk lingkaran itu bisa ditebus dengan harga sebungkus nasi padang istimewa.

Admin PMI4Humanity muncul dengan jawaban yang memacu adrenalin: "100 pelari yang finish tercepat, dapet medali!"

Sontak, mental para pelari diuji. "Yah, cuma seratus? Sanggup ndak ini?" keluh pelari lain. Namun sang Admin kembali meluncurkan rayuan maut yang lebih manis dari sirup refreshment. Ia membeberkan bahwa jersey yang didapat bernilai lebih dari uang pendaftaran, ditambah layanan foto gratis yang biasanya menguras dompet, dan puncaknya: sebuah sepeda motor mengkilap yang siap dibawa pulang lewat undian.

Grup itu meledak. Suasana semakin gerah ketika kabar kehadiran Happy Asmara sebagai bintang tamu menyeruak. "Gaasss!" seru mereka bersahutan. Kata "Gass" itu bergema di layar, seolah-olah bau ban terbakar dan deru mesin motor mulai tercium di imajinasi mereka.

Pertanyaan teknis mulai berhamburan. "Kok nggak ada pilihan size bajunya ya?" tanya Alzada, membayangkan kain jersey yang mungkin akan membalut tubuhnya terlalu ketat atau justru kedodoran.

"All size, Kak," jawab Admin dingin, memupus harapan mereka yang perfeksionis soal ukuran baju. Tapi siapa yang peduli pada ukuran baju jika di ujung garis finis ada peluang memboyong motor baru dan podium kemenangan yang menanti?

Malam kian larut, namun semangat di grup itu belum juga padam. Harum aspal jalanan, kilau medali yang terbatas, dan dentum musik Happy Asmara seolah sudah menari-nari di depan mata. Di awal tahun yang baru, tawaran ini adalah magnet yang sangat kuat.

Agus Az menutup hiruk-pikuk malam itu dengan sebuah harapan yang membumbung tinggi ke langit-langit grup: "Gasss... siapa tau pulang bawa hadiah motor baru di awal tahun baru!"

Ponsel akhirnya diletakkan. Di luar, angin malam Bandar Lampung berdesir pelan, namun di dalam hati para pelari, genderang perang lari murah meriah ini sudah mulai ditabuh dengan kencang.


No comments:

Post a Comment