Minggu, 11 Januari 2026. Suara alarm pukul 04.00 pagi itu terdengar seperti komando bagi Yani dan Husen. Di tengah kantuk yang masih menggelayut, Husen berbisik pelan, "Ayo, Yan, niat karena Allah. Kita ke Al Bakri hari ini." Yani mengangguk setuju sambil segera bersiap.
Pukul 04.20, mobil mereka meluncur membelah jalanan kota yang masih tertidur lelap. Sesampainya di Masjid Al Bakri pukul 04.38, mereka langsung bergabung dalam barisan jamaah. Usai shalat, mereka menyimak kajian bertajuk "Niat".
"Tadi ustadz bilang, niat itu mesinnya amal ya, Mas," bisik Yani saat mereka berjalan menuju parkiran usai kajian.
Husen tersenyum, "Iya, kalau niatnya geser sedikit saja, capeknya kita hari ini nggak jadi pahala. Makanya, pagi ini kita niatkan sehat untuk ibadah."
Menembus Kabut di Rute Jantung Kota
Saat keluar dari area masjid, pandangan mereka terhalang putihnya kabut. Matahari sama sekali tidak terlihat. "Wah, kabutnya tebal sekali, Mas. Serasa bukan di kota ya?" ujar Yani takjub.
Pukul 06.48, mereka mulai melakukan lari pagi dengan rute yang cukup menantang. Langkah kaki mereka stabil menapak di aspal Jl. Raden Intan, kemudian berbelok menyusuri Jl. Ahmad Yani. Napas mereka mulai teratur saat melintasi Jl. Suprapto dan akhirnya menutup rute di Jl. Jenderal Sudirman. Total jarak 2,5 km berhasil mereka tempuh dengan penuh semangat.
Realita di Booth RS Beleza
Sesampainya di area Tugu Adipura, mereka menghampiri layanan cek kesehatan dari RS Beleza. Setelah menunggu giliran, seorang petugas medis menyerahkan secarik kertas hasil pemeriksaan.
"Gimana hasilnya, Mas?" tanya Yani penasaran.
Husen menghela napas panjang, "Tensi darah kita berdua sih normal, Yan. Tapi ini lihat... kolesterol, gula darah sesaat, dan asam urat kita ternyata cukup tinggi."
Yani tertegun sejenak melihat angka-angka itu. "Wah, sepertinya ini 'alarm' kedua buat kita setelah alarm jam 4 tadi. Harus benar-benar jaga pola makan setelah ini," gumamnya.
Meski sempat tertegun dengan hasil medis, mereka tetap melanjutkan aktivitas dengan mengikuti senam bersama. Di sela-sela gerakan senam, mereka kembali berjumpa dengan beberapa siswa yang menyapa dengan takzim. "Tetap semangat ya, Pak, Bu!" seru salah satu siswa yang membuat Yani dan Husen kembali tersenyum.
Sarapan yang Menjadi Catatan di Raja Ketupat
Rasa lapar membawa mereka ke kedai Raja Ketupat di area Enggal. Aroma sayur pakis yang khas seolah menggoda niat mereka untuk mulai berdiet.
"Aku mau kupat sayur pakis, toppingnya telor saja deh, Mas," pesan Yani, kali ini sedikit lebih menahan diri mengingat hasil cek tadi.
Husen melihat ke arah stan sebelah dengan ragu, "Aku pesan sate padang dan martabak juga buat kita bagi dua, tapi ini yang terakhir ya kita 'pesta' begini. Besok-besok harus lebih ketat pilih menu."
Sambil menikmati sajian kupat yang hangat dan gurih, mereka berbincang tentang komitmen untuk lebih rajin berolahraga. Tepat pukul 08.12, Husen melirik jam tangannya. "Sudah jam delapan lewat, yuk kita pulang."
Mereka pun meninggalkan kawasan Enggal. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda; ada rasa segar di badan, ketenangan di hati, dan sebuah resolusi baru untuk hidup lebih sehat.














No comments:
Post a Comment