Pagi itu, 28 Desember 2025, kawasan Sukabumi, Bandar Lampung, seolah terbangun lebih awal. Navara City Park telah berubah menjadi lautan manusia yang bersemangat. Di bawah langit biru akhir tahun, Aris berdiri di antara ratusan pelari lainnya, melakukan peregangan kecil sambil menatap gerbang start.
Tepat saat bendera start dikibarkan, Saya melesat keluar dari kenyamanan Navara City Park. Langkah kakinya membawa ia menyusuri Jalan Pangeran Tirtayasa. Angin pagi menerpa wajahnya, sementara deretan pertokoan dan rumah warga di sepanjang jalan itu seolah menjadi saksi bisu ribuan langkah yang berderap serempak.
Tak lama, rute berbelok memasuki Jalan Pulau Singkep 7. Di sini, suasana terasa lebih akrab. Jalanan yang sedikit lebih sempit namun teduh memberikan ritme lari yang lebih tenang. Saya mengatur napas, menjaga kestabilan jantungnya saat transisi menuju Jalan Pulau Singkep Raya.
Di lintasan yang lebih lebar ini, adrenalin saya kembali terpacu. Ia melihat pelari lain saling memberi semangat. "Ayo, sedikit lagi!" seru seorang pelari di sampingnya. Semangat itu menular, membantunya melewati sisa rute hingga akhirnya kembali bertemu dengan arus Jalan Pangeran Tirtayasa.
Gapura Navara City Park kembali terlihat. Aroma kemenangan mulai tercium. Dengan sisa tenaga yang ada, saya melakukan sprint terakhir, melewati garis finish dengan napas yang memburu namun hati yang lega. Sebuah medali dikalungkan di lehernya—simbol perjuangan menutup tahun 2025.
Setelah semua pelari mendarat kembali di taman, suasana tidak lantas mereda. Justru, ketegangan baru dimulai. Di atas panggung utama, pembawa acara mulai memegang mikropon dengan tumpukan kupon di tangan.
"Dan pemenang untuk hadiah utama sepeda gunung jatuh kepada nomor dada..."
Seluruh peserta terdiam, memegang potongan kupon mereka dengan penuh harap. Gelak tawa pecah setiap kali ada peserta yang naik ke panggung dengan wajah sumringah. Ada yang membawa pulang kipas angin, jam tangan pintar, hingga voucer belanja.
Saya fokus menjaga konsistensi ritme agar tidak terlalu cepat di awal, namun tetap bertenaga hingga akhir. Berdasarkan catatan aktivitas saya, berikut adalah hasil dari lari pagi di ajang Naravan tersebut:
Jarak Tempuh: 6,22 km
Waktu: 52 menit 50 detik
Pace Rata-rata: 8:30 /km
Menyelesaikan jarak lebih dari 6 kilometer dengan pace yang stabil di angka 8:30 merupakan pencapaian yang saya syukuri. Melintasi garis finish dengan kondisi bugar memberikan kepuasan tersendiri, sekaligus menjadi bukti bahwa konsistensi dalam berlatih selalu membuahkan hasil.
Saya memang tidak membawa pulang hadiah utama hari itu, tapi melihat keriuhan di Navara City Park—tawa para pelari, anak-anak yang bermain di taman, dan komunitas yang menyatu—ia merasa telah memenangkan hadiah yang lebih besar: tubuh yang sehat dan kenangan indah di penghujung tahun.
28 Desember 2025 di Sukabumi bukan sekadar tentang lari, tapi tentang merayakan kehidupan sebelum menyambut tahun yang baru. ***































No comments:
Post a Comment